Bendungan rusak, 50 hektare sawah di Ranomeeto kering

id Kekeringan

Bendungan rusak, 50 hektare sawah di Ranomeeto kering

Hamparan sawah yang mengalami kekeringan di daerah Kelurahan Ranomeeto, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. Kekeringan tersebut diakibatkan longsornya bendungan I di daerah Ranomeeto. (ANTARA/Harianto)

Konawe Selatan (ANTARA) - Puluhan petani di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tengggara (Sultra),mengatakan sawahnya kekeringan sekitar 50 hektare akibat rusaknya bendungan I yang berada di Desa Langgea, Kecamatan Ranomeeto, Konsel.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktam) Sri Kembang, Suwantoko saat ditemui di lahan sawah yang sedang kekeringan, di Ranomeeto Selasa, mengatakan bendungan I tersebut rusak sejak bulan November tahun 2018, namun belum diperbaiki oleh instansi terkait hingga saat ini.

"Bendungan ini longsor sejak November tahun 2018, bendungan ini ada di Desa Langgea, tapi belum diperbaiki sampai saat ini," kata Suwantoko, di Ranomeeto, Selasa.

Suwantoko menjelaskan, dari sekitar 50 hektare lahan yang ditanami padi rata-rata berumur kurang lebih satu bulan, namun kini terancam puso karena kurangnya suplai air, apalagi saat ini masuk musim kemarau.

"Jenis padi yang kami tanam ada dua Cisantana dan Amerika, usia padi yang ditanam sudah dua minggu. Kalau dua mingguan itu sudah masuk tahap perawatan," katanya.

Suwantoko juga mengungkapkan, dalam mengelolah sawah dibutuhkan modal Rp3 juta per hektare, dimana jika normal dapat menghasilkan 4 ton gabah basah per hektare yang dijual Rp4.200 per kilogram kepada pengepul.

"Kebiasaan kami disini menjual ke pengepul dalam bantuk gabah basah dengan harga Rp4.200 per kilogram. Jadi dengan luas lahan 50 hektare kalau kami gagal panen maka kerugian kami bisa mencapai Rp840.000 per sekali tanam," jelasnya.
Hamparan sawah yang mengalami kekeringan di daerah Kelurahan Ranomeeto, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. Kekeringan tersebut diakibatkan longsornya bendungan I di daerah Ranomeeto. (ANTARA/Harianto)


Selain itu, berdasarkan keterangan Suwantoko, mayoritas petani khususnya kelompok Gapoktan yang terdiri kurang lebih 60 orang petani belum ada yang mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), dimana yang saat ini asuransi tersebut sedang gencar disosialisakan oleh Kementan.

Suwantoko berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi terkait masalah yang dihadapi oleh puluhan petani di daerah tersebut, sehingga mereka tidak mengalami gagal panen karena sumber perekonomian mereka mayoritas bergantung pada bertani padi.

Di tempat yang berbeda, Ketua DPRD Kabupaten Konsel, Irham Kalenggo saat ditemui di kediamannya menjelaskan, bahwa kondisi yang dialami petani di Kelurahan Ranomeeto harus mendapat perhatian pemerintah agar pengerjaan saluran air Bendungan Ranomeeto I yang berada di Desa Langgea segera dilaksanakan.

"Sebagai solusi jangka pendek saya sudah meminta bantuan kepada rekan-rekan untuk menyediakan pipa dengan ukuran 8 inci sekitar 24 batang agar air dapat mengalir ke lahan persawahan tersebut," kata Irham Selasa.

Irham juga mejelasakan anggaran pengerjaan bendungan tersebut sebenarnya sudah ada di APBD induk 2019, namun eksekusi akhirnya berada pada pihak Pemerintah Daerah (Pemda), dalam hal ini instansi terkait.

 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar