Cuaca buruk ganggu pelayaran di Sultra

id kapal,cuaca buruk

arsip - Kondisi tiga unit mobil bus yang terbalik di atas kapal saat berada di Pelabuhan Kolaka. (foto Antara/Darwis Sarkani)

Kendari (Antaranews Sultra) - Akhir-akhir ini cuaca di langit Sulawesi Tenggara kurang menguntungkan, baik bagi para nelayan yang mencari ikan maupun transportasi laut, terutama kapal-kapal feri yang menyeberangkan penumpang dari satu pulau ke pulau lain.

Apalagi Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan daerah kepulauan, bahkan dari 17 kabupaten/kota yang ada, hanya tiga daerah yang tidak memiliki laut sehingga untuk menjangkau ke suatu pulau harus dilakukan dengan menyeberangi lautan, dengan moda transportasi kapal atau pesawat terbang untuk daerah yang memiliki bandara, seperti Kota Baubau dan Kabupaten Wakatobi.

Tetapi, dengan kondisi cuaca yang kurang menguntungkan yang berakibat naiknya gelombang laut itu, mengakibatkan pelayaran antarpulau di wilayah Sulawesi Tenggara terkendala.

Bahkan, ada kapal feri yang harus kembali ke pelabuhan karena gelombang tinggi, setelah kapal tersebut berlayar beberapa saat.

Pada Selasa (22/1) dinihari, KMP Permata Nusantara yang melayani rute Kolaka (Sultra)-Bajoe (Sulawesi Selatan) terpaksa membatalkan pelayarannya karena dihantam gelombang setinggi 3-4 meter setelah beberapa saat lepas atau keluar dari Pelabuhan Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan keterangan dari kantor ASDP Kabupaten Kolaka, kapal milik PT Samudra Pratama yang membawa 111 penumpang dengan mengangkut 12 kendaraan roda empat dan satu kendaraan roda dua berangkat menuju Bajoe sekitar pukul 01.29 Wita.

Akan tetapi, baru sekitar dua jam berlayar, sekitar pukul 03.15 Wita, kapal tersebut terpaksa mengubah haluan dan kembali ke Kolaka karena dihantam gelombang laut yang tinggi dan angin kencang.

"Sekitar pukul 03.25 Wita, nahkoda memutuskan unutk mengubah haluan dan kembali ke Pelabuhan Kolaka karena tingginya ombak serta angin kencang," kata Kepala Kantor ASDP Kabupaten Kolaka Fuad Bahrudin.

Saat kapal tersebut berlayar, kecepatan angin 40-50 knot dari arah barat. Akibatnya, beberapa kendaraan roda empat yang ada dalam kapal nahas tersebut terbalik. Hal itu membuat panik penumpang di dalam kapal.

Beruntung, dalam insiden itu tidak ada korban jiwa dan kapal feri KMP Permata Nusantara tiba dengan selamat di Pelabuhan Kolaka sekitar pukul 06.00 Wita.

Melihat musibah seperti itu Syahbandar Kabupaten Kolaka mengambil langkah pengamanan dengan menutup sementara pelabuhan kapal feri yang melayani rute Kolaka-Bajoe.

Penutupan tersebut sesuai dengan prosedur karena mendapat perintah dari bidang perhubungan laut terkait dengan cuaca buruk yang melanda perairan Teluk Bone.

"Dengan dasar ini kami mengeluarkan surat edaran dengan menutup sementara pelayaran hingga waktu yang tidak ditentukan," kata Syahbandar Kabupaten Kolaka Hasfar.

Hasfar juga mengimbau masyarakat yang akan menggunakan jalur laut untuk menunda keberangkatan akibat cuaca buruk yang terjadi saat ini sehingga akan berdampak pada kecelakaan pelayaran.

"Insiden yang terjadi Selasa (22/1) dinihari kemarin menjadi peringatan bagi kita semua di mana kapal feri Permata Nusantara harus kembali ke Pelabuhan Kolaka akibat dihantam ombak saat akan menuju ke Bajoe," katanya.
 

 
Bagi masyarakat yang akan bepergian ke Sulawesi Selatan justru dianjurkan menggunakan jalur udara (pesawat terbang) atau darat meskipun jarak tempuh melalui darat sangat jauh.

Di Kota Baubau, KMP Inerie yang beroperasi di lintasan Baubau-Siompu (Buton Selatan), Rabu (23/1), membatalkan keberangkatan karena cuaca buruk di perairan laut daerah itu.

Manager Usaha ASDP Cabang Baubau Supriadi mengatakan kapal yang tengah dalam perjalanan ke Pulau Siompu terpaksa kembali ke Baubau karena tidak ingin mengambil risiko.

"Jadi tadi sesuai laporan dari supervisi nakhoda memutuskan kembali memutar karena situasi tidak memungkinkan untuk tembus ke sana (Siompu, red.)," ujarnya.

Meskipun dalam perjalanan kapal feri itu tidak memuat penumpang karena merupakan lintasan perintis, kata dia, tetap akan dioperasikan sambil menunggu cuaca kembali membaik.

"Jadi untuk sementara ini lintasan Baubau-Siompu tidak beroperasi. Kita menunggu kondisi cuaca bagus baru kembali dioperasikan," ujarnya.

Kapal dengan kapasitas tujuh kendaraan roda empat, sekitar 30 roda dua, dan 50-an penumpang itu, saat ini dioperasikan sementara di lintasan Baubau-Waara (Buton Tengah) guna membantu dan mengantisipasi terjadinya penumpukan di lintasan tersebut.

Sedangkan 10 lintasan lain ASDP Cabang Baubau, kata Supriadi, saat ini masih tetap beroperasi dengan mengacu prakiraan cuaca terkini dari BMKG dan instansi terkait.

"Kalau memang informasi cuaca buruk tidak bisa jalan pasti kita tunda, karena kita selain mengutamakan pelayanan juga terpenting keselamatan," ujarnya.

Dia juga mengaku, telah menerima imbauan dari direksi ASDP Pusat terkait dengan antisipasi cuaca buruk. Imbauan tersebut pula telah diedarkan ke semua lintasan wilayah kerja ASDP Baubau.

Berdasarkan pantauan Antara, kondisi sejumlah kapal rakyat yang biasanya berlabuh di pelabuhan Jembatan Batu Kelurahan Wale terpaksa bergeser ke antara Pulau Makasar-Lowu-lowu dan Waruruma untuk berlindung, akibat gelombang yang cukup besar.

Selain dua insiden tersebut, cuaca yang kurang menguntungkan juga mengakibatkan beberapa musibah menimpa sejumlah kapal nelayan, seperti kapal "longboat" yang terombang-ambing di perairan Pomalaa Kabupaten Kolaka karena mengalami mati mesin, Selasa (22/1) malam.

Pimpinan Humas Badan Nasional Pencarian (Basarnas) Kendari, Wahyudi, mengatakan pukul 19.30 Wita "longboat" bernama "Berkah Doa Sang Ibu" yang dilaporkan mati mesin itu, berhasil dievakuasi.

"Kapal `Berkah Doa Kasih Ibu` milik masyarakat nelayan setempat disewa salah satu perusahaan untuk melakukan survei potensi tambang di Pulau Maniang," katanya.

Kapal telah kembali ke Pantai Pomalaa setelah sebelumnya dilaporkan mati mesin dan terombang-ambing berjam-jam karena dihantam ombak di sekitar perairan Pomalaa.

Selain itu, kapal milik nelayan atas nama Sadara (48) yang memgalami mati mesin di Perairan Kaledupa Kabupaten Wakatobi berhasil dievakuasi oleh Tim Basarnas Kendari.

Pada pukul 24.00 Wita, Tim Rescue Pos SAR Wakatobi berhasil menemukan "longboat" milik nelayan di sekitar perairan karang Kaledupa.

"Nelayan itu saat ditemukan dengan `longboat` dalam kondisi sakit dan langsung dievakuasi ke RIB Pos SAR Wakatobi," katanya.

Pada Rabu (23/1), pukul 00.30 Wita, RIB bersama korban sandar di Pelabuhan Perikanan Numana dan telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya diberikan perawatan terhadap sakitnya," katanya.


Lihat Cuaca

Terkait dengan sederetan musibah ini, Badan SAR Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara mengingatkan para pengguna dan pemilik kapal untuk melihat kondisi cuaca sebelum melakukan pelayaran, khususnya rute Kolaka-Bajoe.

Kepala Pos SAR Kolaka Asep mengatakan kondisi ombak serta angin kencang saat ini sedang tidak bersahabat sehingga diimbau semua pemilik armada angkutan laut untuk lebih waspada.

"Kejadian yang dialami KMP Permata Nusantara di laut Kolaka dihantam ombak setinggi 3-4 meter," katanya.

SAR juga mengimbau masyarakat yang tinggal di pesisir pantai untuk tidak melakukan aktivitas di laut selama gelombang tinggi dan angin kencang selama satu pekan.

Personel SAR tetap melakukan pemantauan dan siaga selama 24 jam, khususnya di wilayah perairan Kolaka.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kendari telah mengeluarkan peringatan kepada nelayan dan pengguna jasa angkutan laut untuk mewaspadai gelombang yang saat ini mencapai 2-2,5 meter di sejumlah wilayah perairan tertentu di Sultra.

Prakirawan cuaca BMKG Kendari Adi Istiyono mengatakan peringatan dini gelombang dengan ketinggian 2,5 meter, bahkan mungkin lebih diprakirakan terjadi di perairan Kepulauan Wakatobi, Laut Banda Timur Sultra, Perairan Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah, dan Perairan Kepulauan Sula, Maluku Utara.

"BMKG berharap semua pengguna jasa angkutan laut untuk memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan dalam pelayaran, terutama bagi perahu-perahu nelayan berukuran kecil," ujaranya.

Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 2-2,5 meter berisiko bagi kapal berukuran tertentu, termasuk kapal tongkang dan kapal feri.

Dengan kecepatan angin lebih dari 16 knot, juga berbahaya bagi aktivitas di laut sehingga mereka tetap harus waspada dalam pelayaran, sedangkan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter.

Bagi kapal dengan ukuran besar, seperti kapal kargo/kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter juga tetap harus mewaspadai perubahan cuaca yang terkadang tidak menentu saat berlayar.

Operator kapal-kapal itu wajib selalu memantau perkembangan informasi cuaca terkini yang dikeluarkan BMKG.

Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir, sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi, juga harus selalu waspada.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar