Pulau Bokori dan masa depan pariwisata Sultra

id bokori

ilustrasi (foto Antara)

Kendari (Antaranews Sultra) - Kalau Nusa Tenggara Barat memiliki Pulau Gili Trawangan, Gili Manuk atau Gili Air yang menyedot minat banyak wisatawan mancanegara, Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki Pulau Bokori yang tidak kalah indah dan eksotis.

Di kawasan wisata Pulau Bokori yang hanya berjarak kurang lebih 10 mil laut dari Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sultra, selain menikmati keindahan alam bawah laut, pengunjung juga dapat memanjakan diri di hamparan pasir putih di sekeliling pantai.

Dunia pariwisata nasional mengakui kalau kunjungan wisatawan mancanegara sekarang ini sudah beralih dari Bali ke NTB karena daya tarik objek wisata di provinsi itu yang luar biasa.

Namun, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sultra Syahrudin Nurdin berkeyakinan banyak wisatawan yang tertarik mengunjungi Pulau Bokori jika mengenalkannya pulau itu ke dunia.

Diakui Syahruddin, selama ini Pemerintah Provinsi Sultra belum mempromosikan keindahan alam Pulau Bokori secara luas ke dunia luar karena masih berkosentrasi membenahi berbagai fasilitas pendukung pariwisata, terutama fasilitas air bersih dan ketersediaan energi listrik, termasuk "cottage" tempat para pengunjung beristrahat.

Sekarang ini, segala fasilitas pendukung tersebut telah tersedia di Pulau Bokori. Sejak 2 tahun terakhir, Pemprov Sultra mulai gencar mempromosikan keunikkan dan kemolekan Pulau Bokori kepada para wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Melihat keolekan Pulau Bokori dan letaknya sangat dekat dengan Kota Kendari, pihaknya merasa optimistis Pulau Bokori akan menyedot minat banyak wisatawan mancanegara dan menjadi masa depan pariwisata di daerah ini.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sultra Nursalam Lada mengapresiasi upaya pemprov setempat mempromosikan keunikan Pulau Bokori kepada para wisatawan nusantara maupun domestik tersebut.

Namun, seyogianya berbagai upaya tersebut mesti diikuti dengan langkah-langkah nyata bagi terbukanya jalur transportasi yang menghubungkan wilayah Sultra dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Bali, Manado, Ambon, Lombok, dan Raja Ampat.

Dengan terbukanya jalur transportasi yang menghubungkan wilayah Sultra dengan berbagai daerah di Indonesia, para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang berkunjung di daerah lain, seperti di Bali, Raja Ampat, atau Lombok, dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan ke Sultra.

Tanpa terbukanya jalur transportasi yang menghubungkan Sultra dengan dunia luar, kata Nursalam, sekencang apa pun mempromosikan pariwisata di daerah ini, akan tetap sulit untuk menarik minat wisatawan mengunjungi berbagai objek wisata di daerah ini.

Mereka baru bisa tertarik mengunjungi suatu daerah wisata kalau di daerah tersebut mudah dijangkau dan transportasi yang menghubungkannya dengan dunia luar lancar.

Keterangan serupa juga disampaikan mantan Bupati Wakatobi Hugua yang saat ini menjabat sebagai Ketua PHRI Sultra.

Menurut pemilik Patuno Resor di Wakatobi itu, wisatawan baru mau berkunjung di suatu daerah bila sarana transportasi menjangkau daerah tersebut lancar.

"Rata-rata waktu para wisatawan berkunjung ke suatu daerah, hanya 2 sampai 3 hari. Setelah itu, mereka kembali ke daerah asal atau menuju ke daerah tujuan wisata lain lagi," katanya.

Oleh karena itu, jika daerah ini ramai dikunjungi para wisatawan, harus ada jaminan kelancaran transportasi yang menghubungkan daerah ini dengan berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Sejauh ini, masyarakat dari berbagai daerah, baru bisa menjangkau Sultra setelah melewati Makassar, Sulawesi Selatan, ke Kendari atau langsung dari Jakarta ke Kendari.

Dari Kendari, baru bisa melanjutkan perjalanan ke berbagai kabupaten dengan menggunakan kapal cepat atau kapal penyeberangan fery dengan waktu tempuh 4 s.d. 9 jam.

Di Sultra saat ini baru empat daerah yang bisa dijangkau dengan pesawat udara dari Kendari atau Makassar, yakni hanya Wakatobi, Kota Baubau, Muna, dan Kolaka.



Sektor Unggulan



Pemerintah Provinsi Sultra menjadikan pariwisata sebagai salah satu dari lima sektor unggulan pembangunan di daerah ini. Kebijakan tersebut diambil karena pariwisata merupakan kebutuhan hati manusia normal yang suka akan keindahan, kenyamanan, suka hiburan, dan jauh dari berbagai hiruk pikuk serta kepenatan.

Selama manusia masih merasakan keindahan, menyukai kenyamanan dan suka hiburan, dunia pariwisata akan terus berkembang maju dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, Pemprov Sultra menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan dalam membangun daerah ini.

Provinsi Sultra terdiri atas 15 kabupaten dan dua kota yang memiliki banyak objek pariwisata yang menawarkan berbagai macam keindahan.

Berbagai objek wisata tersebut, antara lain, wisata bahari Wakatobi, Pulau Hari di Konawe Selatan, Pulau Sagori di Bombana, dan Pulau Labengki di Konawe Utara.

Selain itu, juga terdapat air terjun Moramo di Konawe Selatan, air terjun Tirta Rimba di Kota Baubau, Pantai Toronipa di Konawe, Pantai Meleura dan Motonunu di Muna, dan Keraton Buton di Kota Baubau.

Pemprov Sultra akan terus membuka jaringan transportasi, baik transportasi udara, darat, maupun laut yang menghubungkan Sultra dengan berbagai daerah di Indonesia, kata Syahrudin.

Dengan begitu, wilayah Sultra yang memiliki sejumlah objek wisata menarik akan menjadi pilihan para wisatawan berlibur atau sambil bekerja.

Diakui mantan Kebala Biro Organisasi Tatalaksana Setda Sultra itu, konstribusi sektor pariwisata Sultra terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi Sultra saat ini memang masih kecil, baru sekitar Rp3 miliar per tahun.

Namun, dengan berbagai upaya promosi belakangan ini, sumbang sektor pariwisata terhadap penerimaan PAD akan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Nilai penerimaan PAD dari sektor pariwisata, menurut dia, berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kunjungan wisata. Makin tinggi angka kunjungan wisata di suatu daerah, makin tinggi pula PAD-nya.

Akankah wilayah Sultra menjadi pilihan banyak wisatawan untuk berkunjung? Waktulah yang akan menjawabnya kelak.

Yang pasti, wilayah Sultra yang terdiri atas 15 kabupaten dan dua daerah kota, memiliki segudang objek wisata menarik dan menawarkan sejuta pesona yang menggiurkan bagi pengunjungnya.





Ramai Pengunjung



Kawasan wisata bahari Pulau Bokori meski masuk dalam wilayah Kabupaten Konawe, saat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan lokal (Kota Kendari dan sekitarnya).

Setiap hari libur, kawasan Pulau Bokori mulai dipadati banyak pengunjung, terutama masyarakat yang ingin menghabiskan masa libur bersama keluarga.

Msyarakat Kota Kendari mulai menjadikan Pulau Bokori sebagai pilihan berlibur bersama keluarga karena sejumlah fasilitas pendukung pariwisata, seperti listrik, air bersih, dan "cottage" tempat beristrahat sudah tersedia.

Menurut dia, investasi Pemprov Sultra yang dikucurkan membangun infrastruktur pariwsata di kawasan pariwisata Pulau Bokori saat ini sudah mencapai puluhan miliar rupiah.

Investasi Pemprov Sultra tersebut berupa pembangunan fasilitas air bersih, listrik, "cottage" yang menjadi tempat para wisatawan beristrahat, dan gardu pandang.

Saat ini kawasan pariwisata Pulau Bokori tersebut masih dikelola oleh Dinas Pariwsata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sultra.

Ke depan, ketika kawasan wisata Pulau Bokori sudah ramai dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara, Pempro Sultra sudah harus memikirkan pengelolaan kawasan pariwisata Pulau Bokori secara profesional.

Untuk dikelola secara profesional, menurut dia, Pemprov Sultra harus menjalin kerja sama dengan pihak ketiga atau investor.

Pada tahun ini, Pemprov Sultra menargetkan penerimaan pendapatan asli daerah dari kawasan pariwisata Pulau Bokori sebesar Rp600 juta hingga Rp1 miliar.

Melihat jumlah pengunjung di kawasan wisata Pulau Bokori yang mulai ramai tersebut, target penerimaan pendapatan dari kawasan pariwisata tersebut bisa melampaui target.

Ia berpendapat bahwa yang mendapat manfaat dari kawasan wisata Pulau Bokori bukan hanya Pemprov Sultra melalui retribusi masuk kawasan wisata, melainkan juga masyarakat di sekitar Pulau Bokori dengan membuka wisata kuliner dengan makanan khas Suku Bajo.

Masyarakat di sekitar Pulau Bokori memperoleh pendapatan dari jasa angkutan penyeberangan dari Desa Mekar dan Seropia menuju Pulau Bokori.

"Satu kali penyeberangan, seorang pengunjungi dikenai tarif Rp25 ribu hingga Rp30 ribu," katanya.


Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar