Dirjen Perkebunan Apresiasi Kolaka Utara Pertahankan Kakao

id kolut

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir Bambang MM. (Foto ANTARA/ Azis Senong)

Kendari (Antara Sultra) - Dirjen Perkebunan Bambang mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara yang fokus pengembangan kakao di daerahnya dengan tujuan untuk peningkatan nilai kesejahteraan petani setempat.

"Sangat jarang bagi setiap kepala daerah seperti di Kolaka Utara yang hingga kini masih fokus untuk mengembangkan tanaman kakao dalam skala besar. Di daerah lain, ada kepala daerah justru mengubah lahan kakao itu menjadi pemukiman dan bahkan dijadikan bisnis proferti," kata Dirjan Perkebunan melalui pesan WhatsApp yang diterima di Kendari, Rabu.

Menurut mantan Kadis Perkebunan Sultra itu, dengan perhatian pimpinan daerah dalam mempertahankan tanaman perkebunan khususnya kakao itu, maka tidak salah bila pemerintah pusat juga memberi apresiasi dengan membantu penyediaan bibit sebanyak 2.000-an hektare di tahun 2018.

"Jadi bantuan bibit kakao sebanyak itu dikucurkan melalui dana DIPA dari Pusat Peneilitian Kakao (Puslitkoka) di Jember Jawa Timur," ujarnya.

Sebelumnya, Dirjen Perkebunan Bambang saat melakukan kunjungan di Kolaka Utara menyempatkan melakukan penanaman bibit kakao di salah satu kebun milik petani di Desa Lawalatu Kecamatan Ngapa sebagai bentuk apresiasi kepada petani dan pemerintah Kolaka Utara.

Bupati Kolaka Utara, Nur Rahman mengatakan Kolaka Utara dalam beberapa tahun terakhir ini terus mengalami penurunan khususnya produk hasil perkebunan khususnya kakao. Hal ini disebabkan karena ribuan pohon kakao masyarakat sudah tidak menghasilkan buah lagi bahkan sudah ada yang sudah mati karena termakan usia.

Ia mengatakan, dari sekitar 78.000 hektar total luasan lahan kakao yang ada di Kolaka Utara, sekitar 43.000 hektar sudah tidak berproduksi lagi. Dengan tidak berproduksinya lahan tersebut, menyebabkan pendapatan masyarakat menurun drastis.

"Bila kita hitung secara ekonomi, total pendapatan yang hilang selama pohon kakao tersebut tidak berproduksi lagi mencapai Rp3,5 triliun per tahun. Sementara hampir 80 persen penduduk Kolaka Utara mengandalkan dari sektor pertanian kakao," ujaranya.

Salah satu solusi yang diambil adalah dengan meremajakan kembali pohon kakao yang sudah tidak berproduksi lagi dan menggantinya dengan pohon yang baru. Jika pohon tersebut kembali berproduksi, maka dipastikan ekonomi masyarakat akan semakin meningkat lagi.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar