Kendari (ANTARA News- Dua unit rumah pintar terapung yang dibangun Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), di Wangi-wangi Selatan dan Kaledupa, masuk Museum Rekor Indonesia (MURI).
Bupati Wakatobi, Hugua melalui telepon dari Wangi-wangi, ibukota Kabupaten Wakatobi, Kamis mengatakan, MURI mencatat kedua Rumah pintar terpung itu ke dalam rekor MURI, karena Rumah Pintar Terapung tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia.
"Saya menerima penghargaan MURI atas ide membangun Rumah pintar terapung itu, pada penutupan kegiatan puncak Sail Wakatobi Belitong (SWB) 2011 oleh Wakil Presiden Budiono di Belitung, Kamis (13/10) lalu," katanya.
Hugua mengaku, membangun rumah pintar terapung tersebut terilhami dari program Ibu negara, Ny Hj Ani Bambang Yudhoyono, yang mendirikan rumah pintar di sejumlah daerah di Indonesia.
"Ibu negara membangun `rumah pintar` di darat, sedangkan pemerintah Kabupaten Wakatobi mendirikan `rumah pintar` di laut yang awalnya kita sebut museum suku Bajo," katanya.
Oleh karena fungsi museum tersebut hampir sama dengan `rumah pintar` kata Hugua, maka keduanya dijadikan `rumah pintar` sesuai ide ibu negara.
"Dengan dua `rumah pintar terapung` itulah dan merupakan yang pertama di Indonesia, maka MURI mencatatnya dalam rekor MURI," ujarnya.
Menurut Hugua, `rumah pintar terapung` yang dibangun di Desa Mola dan Sampela di Kaledupa itu, bertujuan untuk mengangkat potensi masyarakat suku Bajo Wakatobi.
`Rumah pintar terapung` tersebut kata dia memiliki lima fungsi utama, yakni sebagai sentra panggung, sentra edukasi, sentra griya, sentra buku dan sentra komputer.
Sebagai sentra panggung jelas Hugua, Rumah Pintar itu diisi dengan kepingan CD berisi film-film dokumenter yang mengandung nilai pembelajaran lengkap dengan CD dan televisinya.
Sedangkan sebagai sentra eduksi, Rumah Pintar tersebut menjadi proses pembelajaran bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama terkait dengan kepentingan dalam kehidupan keluarga mereka.
Sementara sebagai sentra griya lanjut Hugua, Rumah Pintar itu menjadi tempat membina masyarakat untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki, terutama potensi kerajinan dari kulit kerang atau kain tenun khas suku Bajo.
Sedangkan sebagai sentra buku, Rumah Pintar tersebut kata dia, diisi dengan berbagai jenis buku bacaan umum, termasuk buku-buku pengetahuan dan keterampilan mengelola atau memproduksi kerajinan.
Dan sebagai sentra computer, Rumah Pintar itu dilengkapi dengan sarana komputer, sehingga masyarakat memanfaatkan sarana tersebut untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki masing-masing.
"Masyarakat suku bajo, sudah mendapatkan manfaat dari lima fungsi `rumah pintar terpung` itu. Beberapa hasil kerajinan masyarakat setempat yang dibina melalui `rumah pintar` tersebut, sudah menembus pasar luar negeri seperti Jepang dan negara-negara Eropa," katanya. (Ant).

