Logo Header Antaranews Sultra

Kemendikdasmen sosialisasikan G7KAIH untuk cetak generasi emas berkarakter

Senin, 27 Oktober 2025 18:45 WIB
Image Print
Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Komunikasi dan Media, Ma’ruf, saat membuka kegiatan Fasilitasi dan Advokasi Kebijakan Penguatan Karakter di Provinsi Sulawesi Tenggara, Senin (27/10). (ANTARA Sultra/M. Sharif Santiago)

Kendari (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar sosialisasi program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) sebagai upaya strategis membentuk karakter anak didik di era digital.

Program ini diperkenalkan oleh Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Komunikasi dan Media, Ma’ruf, dalam kegiatan Fasilitasi dan Advokasi Kebijakan Penguatan Karakter di Provinsi Sulawesi Tenggara yang menyoroti tantangan pendidikan nasional saat ini.

“Di era digital, tantangan pembentukan karakter anak menjadi sangat besar. Pendidikan karakter dan pendidikan watak adalah fondasi peradaban bangsa,” ujar Ma’ruf saat membuka kegiatan tersebut.

Ia menyebutkan program G7KAIH merupakan panduan harian yang dirancang untuk membentuk kebiasaan positif anak-anak, mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur.

Adapun tujuh elemen utama dalam program ini mencakup bangun pagi, beribadah, olahraga, gemar belajar, gemar membaca, makan bergizi, bermasyarakat, dan tidur cukup.

Ma’ruf menekankan bahwa anak-anak saat ini tidak hanya belajar dari orang tua dan guru, tetapi juga dari influencer dan tokoh media sosial yang perilakunya kerap ditiru.

Ia mengatakan fenomena “teman online” menjadi tantangan baru, karena anak-anak kurang berinteraksi sehingga mereka membuat ruang privat sendiri tanpa pengawasan yang memadai.

“Siapa yang mengecek akun media sosial anak? Siapa yang mereka ikuti? Jangan-jangan yang mereka tonton adalah konten kekerasan yang tidak layak,” tambahnya.

Program G7KAIH juga menyoroti pentingnya aktivitas fisik di sekolah. Menteri Pendidikan secara khusus meminta agar senam Anak Indonesia Hebat dilakukan secara rutin. Riset menunjukkan peningkatan obesitas dan diabetes usia dini akibat pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.

Selain itu, literasi menjadi fokus utama. Ma’ruf mengingatkan bahwa kemampuan membaca dan memahami makna tulisan sangat penting untuk membentuk daya pikir kritis anak-anak.

“Kita sering hanya membaca judul berita, lalu merasa sudah menjadi pengamat internasional. Padahal literasi kita masih minim,” ujarnya.

Sedangkan dalam aspek sosial, lanjut Ma'ruf program ini mendorong pentingnya interaksi bermasyarakat. Dimana sistem domisili dalam penerimaan siswa baru (SPMB) dinilai relevan agar anak-anak memiliki teman sekampung, bukan hanya teman sekelas. Hal ini diyakini dapat menumbuhkan rasa demokrasi, toleransi, dan empati sejak dini.

“Jangan sampai anak-anak tercerabut dari akarnya sebagai makhluk sosial. Bermasyarakat adalah bagian dari pendidikan karakter,” tegas Ma’ruf.

Program G7KAIH juga mengajak anak-anak untuk tidur lebih awal agar terhindar dari paparan konten negatif di malam hari. Menurut Ma’ruf, realisasi program ini membutuhkan partisipasi semesta dari dinas pendidikan, orang tua, guru, dan organisasi masyarakat.

“Ini adalah ikhtiar bersama untuk menciptakan generasi emas 2045. Generasi yang cerdas, berkarakter, beriman, dan sehat,” tutupnya.

Program G7KAIH diharapkan menjadi gerakan nasional yang mampu menjawab tantangan pendidikan karakter di era digital, sekaligus membekali anak-anak Indonesia menuju masa depan yang gemilang.



Pewarta :
Editor: Zabur Karuru
COPYRIGHT © ANTARA 2026