Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyatakan penurunan aset saham dipengaruhi ketidakpastian global.
"Salah satu penyebab penurunan aset saham ini di antaranya adalah meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran akan prospek pertumbuhan ekonomi domestik," ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Sentimen ketidakpastian global cenderung diakibatkan berbagai kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kebijakan tarif yang bisa secara mendadak diputuskan atau diberikan timbal balik dengan cepat.
Kebijakan tarif ini juga dinilai meningkatkan inflasi AS pada jangka pendek dan perlambatan ekonomi AS pada jangka menengah hingga panjang, yang kemudian meningkatkan risiko dari stagflasi AS. Karena itu, lanjutnya, investor global cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di aset-aset negara berkembang, sejalan dengan dampak kebijakan tarif AS yang luas.
Melihat kondisi dalam negeri, penurunan aset saham disebabkan kekhawatiran dari sisi prospek ekonomi domestik, salah satunya berasal dari harga komoditas batu bara yang pada Februari 2025 menurun hingga 11,7 persen.
"Penurunan tajam IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang terjadi pada pekan lalu tidak lepas dari sentimen terkait dengan prospek pertumbuhan domestik akibat revisi ke bawah proyeksi ekonomi Indonesia oleh OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), dari sebelumnya 5,2 persen menjadi 4,9 persen di tahun 2025. Komoditas harga batu bara pun menjadi salah satu pemberat pergerakan pada pekan lalu, mengingat untuk pertama kalinya sejak 2022, harga batu bara global turun hingga di bawah 100 dolar AS/MT. Namun, kalau dilihat dari trennya, penurunan tersebut tidak berlangsung lama, seperti pada saat pandemi, dan secara berangsur-angsur mulai pulih," ujarnya.
Dia menjelaskan batu bara merupakan komoditas utama ekspor Indonesia yang juga menjadi salah satu penggerak pertumbuhan dari sektor pertambangan. Pada bulan lalu, investor asing mencatatkan net sell sebesar 1,11 miliar dolar AS.
"Ke depannya, terutama di jangka pendek, risiko dari prospek pertumbuhan ekonomi domestik masih akan membayangi pasar saham domestik. Namun demikian, bila nantinya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh di atas peers-nya, maka di jangka panjang, IHSG akan mampu rebound ke atas level 7.000," kata Josua.
Melihat tren berbagai aset sepanjang 2025, pasar saham menjadi salah satu aset keuangan domestik yang disebut mencatatkan negative return cukup dalam, hingga 11,6 persen hingga akhir perdagangan Jumat (21/3/2025).
Berdasarkan return bulanan, penurunan terdalam terjadi pada bulan lalu sebesar 11,8 persen, sementara pada bulan ini per Senin (24/3/2025), IHSG hanya turun 0,2 persen.