Pascabanjir, Polda Sultra antisipasi mafia pangan

id polda-mafia-banjir

Warga menawarkan jasa rakit untuk melintasi banjir di jalan Poros Kendari, Pondidaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Kamis (20/6/2019). Sebanyak 4.718 kepala keluarga yang terdiri dari 18.408 jiwa warga Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara yang tersebar di 126 desa masih bertahan di tempat pengungsian akibat banjir yang terjadi di wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/aww. (ARIF FIRMANSYAH/ANTARA FOTO)

Kendari (ANTARA) - Jajaran Polda Sulawesi Tenggara bersama instansi terkait harus mengantisipasi kemungkinan adanya oknum pelaku mafia pangan yang dapat memicu kerawanan dan keresahan masyarakat usai bencana alam banjir.

"Sampai hari ini belum terendus adanya oknum yang menimbun kebutuhan pokok dengan maksud tentu. Aparat penegak hukum bersama instansi terkait terus melakukan pengawasan," kata Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhart di Kendari, Jumat.

Aparat keamanan memprediksi gangguan Kamtibmas bukan hanya tindakan kriminal tetapi distribusi pangan yang ditumpangi kepentingan mafia dapat memicu kerawanan sosial sehingga harus diantisipasi sejak dini.

Oleh karena itu, usai bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sultra perlu digelar rapat koordinasi lintas sektoral beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) secara periodik untuk menggambarkan rangkaian distribusi pangan maupun ketersediaan pangan.

Potensi permasalahan masih berkisar pada masalah distribusi pangan, upaya penimbunan kebutuhan bahan pokok oleh sekelompok kartel atau mafia pangan.

"Ada fenomena buruk pasca bencana sehubungan dengan harga-harga kebutuhan pokok, yakni perilaku pelaku usaha yang menaikkan harga di atas harga yang telah ditetapkan," katanya.

Goldenhart menambahkan potensi kerawanan lain yang patut diwaspadai adalah permasalahan kelancaran dan keselamatan arus lalulintas, potensi bencana alam susulan serta gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Diprediksi satu bulan setelah musibah banjir akan terjadi pergerakan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk sayur sayuran karena stok terbatas sementara permintaan meningkat," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar