Logo Header Antaranews Sultra

Produksi Kakao Belum Capai Satu Ton/Ha

Senin, 25 Februari 2013 12:12 WIB
Image Print
Seorang laki-laki menunjukkan biji kakao hasil panennya yang dijemur. (FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi).
"Saat ini rata-rata produksi kakao, baru mencapai antara 500 hingga 750 kilogram per hektare per tahun"

Kendari (Antara News) - Produktivitas tanaman kakao petani di beberapa daerah sentra yang merupakan komoditas unggulan di Sulawesi Tenggara saat ini belum mencapai angka satu ton per hektare/tahun.

"Saat ini rata-rata produksi kakao, baru mencapai antara 500 hingga 750 kilogram per hektare per tahun," kata Rahman, salah seorang petani kakao di Kabupaten Konawe Selatan di Kendari, Senin.

Ia mengatakan, rendahnya produksi kakao petani di daerah selain, karena faktor cuaca yang mempengaruhi saat menjelang panen, di sisi lain serangan hama yang mendadak menyerang serta tingkat kesuburan tanaman utamanya untuk pemberian pupuk belum sepenuhnya dilakukan, sehingga sangat berdampak pada tingkat capaian produksi.

Sebelumnya, Kadis perkebunan dan hortikultura Sultra Ahmad Chaidir mengatakan produktivitas kakao petani di Sultra selama beberapa tahun terakahir cenderung menurun dibanding beberapa tahun sebelumnya terutama karena serangan hama penggerek batang dan penggerek buah.

"Usia tanaman yang sudah tua juga sangat berpengaruh dan keterbatasan permodalan petani melakukan peremajaan dan meningkatkan intensifikasi lahan melalui pemupukan dan pemberantasan penyakit.

Selain itu juga bentuk pengelolaan usaha tani yang dilakukan oleh para petani kakao di Sultra yang masih bersifat tradisional, sehingga produktivitasnya rendah.

Padahal, kata Chaidir, produktivitas kakao memiliki potensi besar untuk dikembangkan minimal menjadi satu ton tiap hektare per tahun.

Akibatnya secara umum petani kakao di tanah air masih sulit mengatasi permasalahan tersebut.

Untuk itu pada 2006 Pemerintah kemudian menggulirkan Program Revitalisasi Perkebunan yakni upaya percepatan pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan.

"Ditambah dengan program peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah dengan melibatkan perusahaan di bidang usaha perkebunan sebagai mitra dalam pengembangan perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil," katanya.

Namun demikian, selama tiga tahun terakhir pemerintah menggulirkan Program Gerakan Nasional Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao (Gernas Kakao) yang sedianya berlangsung selama 3 tahun mulai 2009 hingga 2011, diperpanjang hingga 2014 dan hasilnya sudah mulai meningkat.

"Yang saya tahu bahwa dengan program Gernas Kakao, telah memberi banyak keberuntungan bagi petani dalam meningkatkan produksi kakao dari kisaran 650-750 kilogram per hektare/tahun bisa mencapai satu ton per hektare/tahun.

Hasil pantauan di Kota Kendari, harga kakao di pasaran hingga saat ini masih di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram tergantung dari kualitasnya. (Ant).



Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026