Histori Rock Indonesia, saat musik cadas kian berwarna era 90-an

id Histori Rock Indonesia,rock,sejarah rock,rock indonesia,jamrud

Histori Rock Indonesia, saat musik cadas kian berwarna era 90-an

Konser Burgerkil 2014. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Jakarta (ANTARA) - Dekade boleh berganti, tetapi tren musik tak begitu saja bisa diubah. Memasuki dekade 1990-an, rock era 1980-an yang diwarnai corak heavy metal, glam rock, dan hard rock, masih punya dominasi di belantika.

Nahkodanya, boleh jadi Log Zhelebour lewat festival besutannya atau label rekaman LogIss Records yang dia ampu bersama Iwan Suthadi Sudarta dari Indo Semar Sakti dan Billboard Records.

Meski melecut banyak roster di sepanjang paruh kedua dekade 1980-an, Log dan Iss seolah tak kehabisan formula untuk menaikkan khazanah rock.

Di akhir dekade 1980 misalnya, festival yang digarap Log melahirkan talenta-talenta baru yang jadi sorotan. Power Metal yang menjuarai Festival Rock se-Indonesia V (1989) kemudian merilis debutnya "Power One" (1991) di bawah LogIss Records. Sementara Roxx dari Jakarta yang juara kedua, merilis album pertama pada 1992 bersama Blackboard Records.

Meski tak dirilis LogIss, Roxx lewat megahits "Rock Bergemanya" sudah gandrung sebagai anthem rock remaja dan masuk dalam kompilasi besutan LogIss bertajuk "Kompilasi Festival Rock Log Zhelebour" tahun 1989.

Dalam "Heavy Metal Parents: Identitas Kultural Metalhead Indonesia 90-an", Yuka Dian Narendra menulis kalau "Rock Bergema" dari Roxx adalah lagu bersama untuk anak rock yang belum tergantikan sampai saat ini.

Musababnya adalah pengalaman kolektif para pelaku musik yang menjadi informan penelitian Yuka. Menurut mereka, saat "Rock Bergema" dimainkan di Pid Pub -- klub metal di kawasan Pondok Indah Jakarta yang hits di akhir 1980-an--, suasana berubah menjadi sakral.

"Seluruh penonton ikut bernyanyi bersama sambil mengepalkan tinju ke udara. Merinding, kata para informan yang sempat mengalami masa itu," tulis Yuka.

Harlan Boer, musisi yang juga pengarsip musik tak memungkiri kalau musik yang ada di era itu merupakan perpanjangan tangan dari musik yang sedang ramai di kancah rock internasional seperti Bon Jovi, Motley Crue, dan Guns N Roses.

"Itu hard rock masih besar, mungkin band-band yang besar di awal 1980-an yang sudah enggak kedengaran. Tapi yang rilis albumnya di 1980-an paruh kedua ya masih besar karena masih sangat produktif. Di Indonesia, yang membawakan cover version band seperti ini tentu banyak," kata Harlan.

Hal ini tak hanya dirasakan untuk subgenre hard rock. Thrash metal, subgenre dari metal dan rock dengan musik yang lebih rapat dan keras juga punya gaung yang cukup besar di dekade 1990-an.

Bahkan thrash metal sudah masuk ke kompilasi Log yang selama ini lebih kental dengan corak heavy metal dan hard rock. "Itu ada Valhalla di Kompilasi Festival Rock se-Indonesia keenam (1991)," ucap dia.

Harlan menilai kalau thrash saat itu memang menjadi ciri khas tersendiri sebagai rock yang berada di luar standar Log atau God Bless yang merilis "Semut Hitam" pada 1988.

Band-band thrash metal ini juga mempunyai gerakan sendiri yang bisa dibilang sebagai cikal bakal dari skena bawah tanah Jakarta. Mulai dari Sucker Head yang dimotori Irvan Sembiring, Krishna Sadrach, Yahya Wacked, Nano, dan Doddy, hingga Roxx yang di awal 1990-an mulai berubah haluan dari heavy metal ke thrash yang lebih kencang.

Band-band yang akhirnya di rentang 1990-1992 mulai membentuk ekosistem ini mampu tampil dengan cara mandiri dan mengisi sejumlah perhelatan pentas seni yang marak digelar di sejumlah kampus dan sekolah menengah atas di Jakarta.

Selain Sucker Head dan Roxx, beberapa yang mendapat sorotan di antaranya proyek musikal Irvan adalah Rotor yang merilis album pada 1992 dan disebut sebagai album thrash metal pertama.

"Thrash saat itu lagi besar sekali. Hampir semua acara di Jakarta seingat gue bintang tamunya ya mereka," ucap dia.

Yuka Narendra menulis, ekosistem band metal yang mengisi panggung-panggung Jakarta sejak 1987 awal 1990-an banyak yang lahir dari tongkrongan di Pid Pub, Pondok Indah.

Sucker Head, Roxx, dan Rotor di antaranya. Ada juga nama-nama seperti Mortus, Alien Scream, Razzle, atau Parau yang kemudian berganti nama menjadi Getah.

Pid Pub membuka jalan bagi kancah metal lain untuk tumbuh, misalnya arena Poster Cafe di Museum Satria Mandala, Jalan Gatot Subroto di era 1990-an.

Kecenderungan yang sama juga terasa di Bandung. Dengan band-band yang berasal dari kawasan Timur Bandung, tepatnya Ujung Berung, sejumlah band metal lahir seperti Burgerkill, Jasad, Necromancy, dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka juga merintis jalan di kancah musik secara independen.


Rock Laris

Di satu sisi ada metal yang mulai membangun fondasi skenanya secara mandiri, di sisi lain, rock tak juga pergi dari layar kaca dan tingkat penjualan yang tinggi.

Beberapa nama muncul seperti U'Camp, Elpamas, Grass Rock, Boomerang, dan lain-lain. Namun boleh jadi yang sangat disorot saat itu adalah Jamrud.

Jamrud adalah band asal Cimahi, Jawa Barat, yang digerakkan oleh Krisyanto, Azis MS, dan Ricky Teddy sejak 1984 dengan nama Jamrock.

Setelah melakukan beberapa kali bongkar pasang personel, Jamrock akhirnya berganti nama menjadi Jamrud seiring kontrak rekaman yang mereka terima dari LogIss Records pada 1995. Selain Krisyanto, Azis, dan Ricky, formasi ini diisi pula Fitrah dan Sandy dengan debut "Nekad" pada 1995.

Dari debut, Jamrud terlihat sudah punya gerak yang potensial. Dalam waktu singkat, "Nekad" terjual 150.000 kopi disusul "Putri" setahun kemudian yang mampu terjual 300.000 kopi.

Grafik Jamrud terus naik dengan menjual 800.000 kopi di album "Terima Kasih" (1999) dan melejit pada album "Ningrat" (2000) dengan dua juta kopi.

Prestasi ini diganjar anugerah sebagai Group Rock Terbaik AMI Award 1999 dan membawa mereka bersama Log Zhelebour melakukan tour tunggal di 120 kota, diundang tampil di Jepang dan Korea serta melakukan rekaman di Australia dan melahirkan Album "Sydney 090102" (2002) yang terjual 1.000.000 kopi.

Jika mengamati lagu-lagu Jamrud, mereka memang punya banyak eksperimen sehingga musik mereka tak selalu jenuh untuk didengarkan.

Kalau di lagu "Nekad" mereka masih main aman dengan standar hard rock dan heavy metal, di lagu "Putri" mereka sudah berani bermain eksplorasi dengan tempo yang naik turun dan permainan suara dalam proses mixing.

Mereka lebih jauh lagi memasukkan unsur ska di lagu "Dokter Suster" yang ada di album "Terima Kasih". Pada saat yang sama, ska memang mulai menggeliat, belum lagi lirik nakal dan nyeleneh yang membuat Jamrud kerap jadi perhatian.


 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar