Gubernur Sulawesi Tenggara membutuhkan kepala dinas "tahan banting"

id gub-banting

Gubernur Sulawesi Tenggara membutuhkan kepala dinas "tahan banting"

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi, saat meninjau pembuatan jembatan Bailey di Sampara, di dampingi Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Saleh. (Foto ANTARA/Harianto)

Kendari (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi blak-blakan menyuarakan keinginannya sosok kepala dinas berkarakter "tahan banting" atau pantang mundur dalam bekerja untuk melaksanakan program pembangunan daerah.

"Saya tidak mengangkat kepala dinas atau kepala organisasi perangkat daerah (OPD) berdasarkan kolusi korupsi dan nepotisme (KKN) tetapi memilih mereka karena cerdas, pekerja keras dan tahan banting," kata Ali Mazi di Kendari, Jumat.

Impian Gubernur Ali Mazi menemukan calon pembantu setingkat kepada dinas yang "tahan banting" diutarakan saat menyampaikan sambutan pada rapat paripurna mendengarkan pidato Presiden serangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI 17 Agustus 2019.

Sultra yang berlimpah sumber daya alam, baik di darat maupun di laut membutuhkan sosok pemimpin yang cerdas, pekerja keras dan pantang mundur.

"Tantangan membangun daerah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat membutuhkan komitmen kuat pemimpin dan kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalam menyelenggarakan pembangunan," kata Ali Mazi.

Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan jajaran birokrasi dan elemen masyarakat lainnya mendukung pasangan pemimpin Ali Mazi dan Lukman Abunawas yang berakronium "Aman" dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan sosial kemasyarakatan dengan baik.

Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh mengagumi talenta figur gubernur Ali Mazi dan Wakil Gubernur Lukman Abunawas.

"Rakyat Sultra patut berbangga memiliki figur pemimpin Ali Mazi yang jago investasi dan Lukman Abunawas yang jago birokrasi. Kita doakan dan dukung kepemimpinan mereka untuk mengabdikan diri hingga periode 2024 mendatang," ujar politisi PAN yang disambut aplaus hadirin peserta rapat paripurna.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar