Upacara Adat `Mosehe` Warnai HUT Ke-184 Kendari
Jumat, 15 Mei 2015 16:48 WIB
Wali Kota Kendari Asrun (tengah) bersalama dengan beberapa tokoh adat usai prosesi upacara adat Mosehe dalam rangkaian perayaan HUT Ke-184 Kota Kendari di Alun-Alun Kendari, Jumat. (FOTO ANTARA/Azis Senong).
Kendari (Antara) - Upacara adat ,mosehe wonua, atau penyucian negeri mewarnai rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-184 Kota Kendari, Jumat, di Alun-alun Kota Kendari.
"Adat mosehe yang kita laksanakan hari ini bertujuan ingin mengangkat budaya yang merupakan kearifan lokal di kalangan masyarakat suku Tolaki sekaligus untuk memperkenalkan kepada tamu-tamu dari luar Sultra," kata Wali Kota Kendari, Asrun, saat memberikan sambutan pada acara adat tersebut.
Menurutnya, makna upacara adat `mosehe` yang sangat agung itu adalah identik dengan `tolak bala` dengan tujuan untuk membersihkan segala sesuatu yang tidak baik, berupa penyakit, konflik atau kesalahpahaman di kalangan masyarakat.
"Baik yang terjadi pada masa silam, masa kini maupun masa datang. Ritual ini juga digelar kala terjadi fenomena alam berupa bencana atau ada hal penting yang dianggap memengaruhi kehidupan masyarakat Tolaki," katanya.
Tradisi mosehe sendiri, katanya, sudah berlangsung turun-temurun oleh leluhur suku Tolaki, dan sekarang terus dilestarikan keberadaannya.
Puncak seremonial upacara adat mosehe tersebut ditandai dengan pemotongan kerbau putih sebagai korban atau tumbal yang disaksikan seluruh raja-raja ataupun sultan se-nusantara yang sempat hadir dalam kesempatan itu.
Prosesi adat mosehe tersebut juga mengundang perhatian masyarakat Kota Kendari, mulai dari anak dan orang dewasa yang melihat dan mengikuti secara langsung prosesi adat sakral itu.
"Adat mosehe yang kita laksanakan hari ini bertujuan ingin mengangkat budaya yang merupakan kearifan lokal di kalangan masyarakat suku Tolaki sekaligus untuk memperkenalkan kepada tamu-tamu dari luar Sultra," kata Wali Kota Kendari, Asrun, saat memberikan sambutan pada acara adat tersebut.
Menurutnya, makna upacara adat `mosehe` yang sangat agung itu adalah identik dengan `tolak bala` dengan tujuan untuk membersihkan segala sesuatu yang tidak baik, berupa penyakit, konflik atau kesalahpahaman di kalangan masyarakat.
"Baik yang terjadi pada masa silam, masa kini maupun masa datang. Ritual ini juga digelar kala terjadi fenomena alam berupa bencana atau ada hal penting yang dianggap memengaruhi kehidupan masyarakat Tolaki," katanya.
Tradisi mosehe sendiri, katanya, sudah berlangsung turun-temurun oleh leluhur suku Tolaki, dan sekarang terus dilestarikan keberadaannya.
Puncak seremonial upacara adat mosehe tersebut ditandai dengan pemotongan kerbau putih sebagai korban atau tumbal yang disaksikan seluruh raja-raja ataupun sultan se-nusantara yang sempat hadir dalam kesempatan itu.
Prosesi adat mosehe tersebut juga mengundang perhatian masyarakat Kota Kendari, mulai dari anak dan orang dewasa yang melihat dan mengikuti secara langsung prosesi adat sakral itu.
Pewarta : Oleh: Suparman
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kakanwil Kemenag: ritual adat "Mosehe" tidak bertentangan dengan agama
13 March 2020 19:54 WIB, 2020