Logo Header Antaranews Sultra

Iran tolak proyek AS di Selat Hormuz, sebut krisis tak bisa diselesaikan militer

Selasa, 5 Mei 2026 13:43 WIB
Image Print

Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik dan memperingatkan Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk tidak meningkatkan eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz.

"Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik. Dengan adanya pembicaraan yang mengalami kemajuan lewat upaya baik Pakistan, Amerika harus waspada agar tidak terseret kembali ke dalam kubangan oleh pihak-pihak yang berniat buruk; begitu pula UEA," kata Araghchi di platform X. Selasa.

Araghchi juga menolak rencana "Proyek Kebebasan" Washington (Project Freedom) untuk mengawal kapal dagang keluar dari Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa proyek itu adalah proyek buntu.

Iran melancarkan serangan balasan pada Senin (4/5) dengan menargetkan UEA. Serangan rudal dan drone yang diperbarui itu menandai insiden pertama sejak gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berlaku sejak bulan lalu.

UEA kemudian melaporkan pelunuran gelombang keempat rudal dan drone dari Iran dan menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya mencegat 15 rudal dan empat pesawat nirawak.

Selain itu, kebakaran juga terjadi di Zona Industri Minyak Fujairah, pusat energi utama di pantai timur UEA, setelah dihantam oleh pesawat nirawak yang diluncurkan dari Iran.

Ketegangan regional telah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

Kedua pihak kemudian menyepakati gencatan senjata sejak 8 April lalu lewat mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan di Islamabad itu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditetapkan.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Faidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026