
Cadangan BBM Indonesia aman, Pertamina lakukan upaya penstabilan pasokan

Jakarta (ANTARA) - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad menyatakan Pertamina sebagai badan usaha milik negara (BUMN) sektor energi akan melakukan berbagai upaya agar cadangan bahan bakar minyak (BBM) terus berkesinambungan.
Oleh karena itu dia menegaskan agar masyarakat diharapkan tidak khawatir terkait cadangan BBM Indonesia yang saat ini yaitu sekitar 20 hari, sebab stok tersebut akan habis hanya jika selama kurun waktu tersebut tidak dilakukan upaya apapun.
"Tetapi harus diingat bahwa seperti reguler dilakukan, saat ini pun Pertamina tentu melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan guna menjaga level cadangan," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Level cadangan BBM tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku, dalam laporan bulan Desember 2025, Menteri ESDM menyebut sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan, sekitar 19 – 31 hari untuk berbagai produk BBM tertentu.
Sedangkan Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak disebutkan Pemegang Izin Usaha wajib menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari.
Tauhid menjelaskan pencadangan adalah seberapa jauh pemerintah dan Pertamina memiliki dana untuk menyediakan stok, bukan hanya bahan-bahan tetapi juga gudangnya, jalur distribusi, pengapalan dan sebagainya.
Oleh karena itu pihaknya menilai positif berbagai perencanaan pasokan oleh Pertamina, mulai dari produksi kilang hingga impor energi karena hal ini penting agar cadangan tetap terjaga.
Tauhid mencontohkan, langkah Pertamina dan pemerintah yang segera mengalihkan impor minyak mentah dari kawasan Arab. Di tengah kondisi kawasan Teluk yang terus memanas, upaya tersebut merupakan hal positif termasuk rencana mengimpor dari Brasil atau Amerika Serikat.
"Menurut saya itu pilihan baik, karena kawasan itu kan bebas dari konflik saat ini,” ujarnya.
Saat ini, menurut dia, impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi sekitar 20 persen dari keseluruhan. Selain itu, Indonesia juga mendatangkan dari Nigeria serta Angola
Tauhid juga menganjurkan, agar kontrak-kontrak untuk impor minyak mentah harus segera dilakukan sebab komoditas tersebut saat ini terus meningkat di tengah gejolak konflik AS-Israel dengan Iran apalagi negara-negara seluruh dunia juga akan memperebutkan.
Selain itu, dia mengingatkan jangan sampai impor dilakukan saat harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel dari saat ini 78 dolar AS,hal itu akan membuat jebol APBN karena defisitnya akan melampaui 3 persen.
Dia juga mengingatkan, bahwa kuota cadangan BBM Indonesia di tengah konflik, sebaiknya ditambah mencukupi sekitar 1 – 2 bulan untuk mengantisipasi terkendalanya jalur-jalur distribusi dunia akibat konflik tersebut, termasuk penutupan Selat Hormuz saat ini.
Selain itu, Pertamina juga harus menyiapkan rencana cadangan jika situasi terus memburuk sehingga kebutuhan BBM masyarakat tidak terganggu.
Dengan sejumlah rencana tersebut, Tauhid menilai, masyarakat tidak perlu khawatir cadangan BBM Indonesia akan habis dalam waktu sekitar 20 hari. Karena setidaknya sudah ada rencana pengalihan impor ke kawasan yang lebih aman.
Sebelumnya saat akan menghadiri rapat mengenai kondisi terkini geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3) , Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa saat ini cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional cukup untuk 20 hari.
Pewarta : Subagyo
Editor:
Faidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
