Diduga dimakan buaya, nelayan kepiting ditemukan tewas

id Buaya muara, nelayan kepiting dimangsa buaya, taman nasional Sembilang, tn sembilang,Nelayan dimangsa buaya, buaya muara

Diduga dimakan buaya, nelayan kepiting ditemukan tewas

Jasad Sidik, nelayan kepiting yang ditemukan tidak utuh di Sungai Bangke Taman Nasional Sembilang Kabupaten Banyuasin, ia diduga dimangsa buaya, Senin (9/12) (ANTARA/Aziz Munajar/19)

Palembang (ANTARA) - Seorang nelayan pencari kepiting ditemukan dalam kondisi tidak utuh dengan dugaan dimangsa buaya di Sungai Bangke Taman Nasional Sembilang Desa Sungsang 4, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Camat Banyuasin II, Salinan, Senin, mengatakan, dari hasil identifikasi mayat tersebut diketahui bernama Sidik yang tinggal di Desa Pagar Bulan, Kecamatan Rantau Bayur, ia berada di Desa Sungsang untuk mencari kepiting bersama kelompoknya.

"Tapi kami belum tahu apa penyebab kematiannya karena masih dicek petugas," ujar Salinan.

Sebelum ditemukan meninggal, Sidik dan rekan-rekannya diketahui mencari kepiting di Sungai Sembilang pada Sabtu (7/12), keesokan hari rekanya pulang ke pemondokan kecuali Sidik.

Lalu pada Senin pagi rekan-rekannya menyusul ke lokasi Sidik, namun perahunya sudah kosong dan ia ditemukan meninggal dalam kondisi hanya tersisa badan bagian dada hingga kepala, korban segera dibawa pulang serta dikebumikan.

Sementara Kepala Seksi Wilayah II Taman Nasional Sembilang, Affan, mengatakan, perlu pemeriksaan lebih dalam untuk memastikan korban dimangsa buaya, meskipun dari tanda-tandanya kemungkinan memang korban dimangsa binatang buas.

"Harus diperiksa lagi, nanti akan kami identifikasi, apakah dia diserang, apakah dia mungkin tertidur atau terjatuh lalu dimangsa, atau ada sebab lain," kata Affan.

Tetapi, menurutnya, korban memang ditemukan di dalam sungai, sungai itu sendiri masih termasuk wilayah Taman Nasional Sembilang yang menjadi habitat buaya muara, sementara waktu pihaknya mengimbau kelompok-kelompok nelayan agar lebih berhati-hati saat mencari kepiting.
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar