
Banten Siapkan Formulasi Hadapi Kenaikan Harga BBM

Serang, (ANTARA News) - Pemerintah berencana menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) awal April 2012, yang tentunya akan membawa dampak, baik secara langsung ataupun tidak terhadap kehidupan masyarakat.
Guna menghadapi dampak tersebut, pemerintah Provinsi Banten, melalui dinas/instansi di jajarannya telah menyiapkan formulasi, sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing.
"Kenaikan harga BBM ini tentu akan berdampak luas terhadap perekonomian dan ini perlu diantisipasi. Paling utama saya berharap tidak berdampak terhadap iklim investasi di Banten," kata Wakil Gubernur Banten Rano Karno.
Rano menjelaskan, secara spesifik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten belum melakukan rapat koordinasi dalam mengantisipasi rencana kenaikan harga BBM itu. Akan tetapi sejumlah dinas terkait sudah memiliki formulasi program sebagai bentuk antisipasinya.
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten Ahmad Syaukani mengatakan, jaring pengaman atau formulasi yang disiapkan instansinya dalam menghadapi kenaikan BBM itu, di antaranya pengawasan terhadap barang beredar termasuk label dan mengantisipasi barang yang sudah kadaluarsa, kemudian menggelar pasar murah atau operasi pasar kebutuhan pokok, tera ulang pompa bensin dan pengawasan lainnya.
"Kami juga bekerjasama dengan pihak Kepolisian untuk melakukan pengawasan dan antisipasi penimbunan, karena ini sudah masuk ranah pidana," kata Ahmad Syaukani.
Ia mengatakan, program jaring pengaman tersebut diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap rencana kenaikan BBM, sehingga tidak ada pihak-pihak yang akan memanfaatkan kesempatan tersebut demi keuntungan pribadi.
"Yang berkaitan langsung dengan antisipasi dampak rencana kenaikan BBM itu adalah pengawasan terhadap kemungkinan adanya penimbunan kebutuhan pokok," kata Syaukani.
Sebagian program jaring pengaman dari Disperindag Banten tersebut sudah dilakukan sebelumnya, seperti pasar murah dan kembali akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Pihaknya juga akan segera melakukan pengawasan dan pengecekan pompa bensin di sejumlah SPBU menjelang kenaikan BBM.
"Karena ada rencana kenaikan BBM, kami khawatir ada pompa bensin yang memanfaatkan kesempatan yang mengakibatkan kerugian konsumen," katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten Suyitno mengatakan, Pemprov Banten masih menunggu formulasi dari pemerintah pusat terkait jenis bantuan yang nantinya akan diberikan bagi nelayan sebagai konvensasi dari kenaikan BBM jika jadi dinaikkan 1 April mendatang.
"Kami masih menunggu bentuk bantuan yang nantinya akan diberikan bagi nelayan. Namun selama ini jenis bantuan itu, ada bentuk kelompok usaha minapolitan atau bantuan alat tangkap," kata Suyitno.
Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagpas) Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, terus memantau harga barang di pasaran, yang sekarang mulai terjadi kanaikan.
"Kita menurunkan tim untuk memantau perkembangan harga di setiap pasar tradisional yang ada di Pandeglang," kata Kepala Disperindagpas Kabupaten Pandeglang Dadan Tafif Danial.
Ia juga membenarkan, adanya kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok berkisar 5-10 persen, dan ada kemungkinan didorong rencana kenaikan harga BBM yang sekarang ramai diberitakan.
"Bisa saja karena adanya informasi rencana kenaikan harga BBM, jadi para produsen menaikan harga barang, yang berimbas pada naikknya harga eceran di pasaran," katanya.
Dadan mengaku, segera melakukan koordinasi dengan dinas/instansi terkait untuk mengatasi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok tersebut.
"Kita akan koordinasi, termasuk kemungkinan dilakukannya operasi pasar oleh dinas/instansi terkait bersama kita," katanya.
Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di pasar tradisional di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Beberapa pedagang di Pasar Badak, menjelaskan berbagai kebutuhan pokok mengalami kenaikan berkisar 5-10 persen, sejak bergulirkan rencana kenaikan BBM.
"Rata-rata naik 5-10 persen, dan itu sudah biasa terjadi setiap ada rencana kenaikan harga BBM," kata Ferdi, pedagang sayuran di Pasar Badak Pandeglang.
Jeritan Masyarakat Kecil
Berbagai pihak akan terkena dampak kenaikan BBM tersebut, terutama masyarakat yang menggunakan BBM untuk mendukung aktivitasnya sehari-hari, seperti para nelayan dan sopir angkutan umum.
Para nelayan di pesisir selatan Kabupaten Lebak merasa "terpukul" dan "menjerit" terkait rencana pemerintah menaikan harga BBM itu, karena khawatir akan memperburuk tingkat kehidupan ekonominya.
"Kami merasa terpukul jika pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Sekarang saja pendapatan nelayan tidak menentu karena cuaca ekstrem," kata Sekertaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lebak Ade Supriyadi.
Menurut dia, nelayan berharap pemerintah meninjau kembali kenaikan BBM yang akan diberlakukan 1 April 2012. Apabila harga BBM dinaikan dipastikan kehidupan nelayan semakin terpuruk.
"Jika BBM naik dipastikan harga-harga bahan pokok dan harga lainya juga terjadi kenaikan, sehingga semakin berat bagi ekonomi nelayan," ujarnya.
Nelayan di Kabupaten Lebak sekitar 4.500 kepala keluarga, yang tersebar di sembilan tempat pelelangan ikan (TPI) di daerah tersebut. Sebagian nelayan hidup di bawah garis kemiskinan.
Untuk itu, ia berharap agar pemerintah menunda kenaikan harga BBM tersebut, minimal sampai masyarakat, termasuk para nelayan benar-benar siap menerimanya.
Saat ini, kata dia, masyarakat belum siap menghadapi kenaikan BBM sehingga terjadi aksi unjuk rasa dimana-mana.
Ode (45), nelayan di TPI Bayah Kabupaten Lebak mengaku dirinya merasa bingung apabila BBM dinaikkan karena pendapatan nelayan hanya cukup untuk makan keluarga.
"Kami jika cuaca normal pergi melaut sehari bawa pulang uang ke rumah Rp20 ribu dan uang sebesar itu tidak ada artinya bila BBM naik. Sebab naiknya harga BBM, akan mendorong kenaikan harga komoditas lainnya," ujarnya.
Para nelayan di Pantai Karangantu, Kota Serang, berharap pemerintah tidak menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM), karena khawatir akan menambah berat beban hidup karena operasional yang lebih besar.
"Kalau pemerintah serius ingin bantu nelayan jangan naikkan BBM. Justru seharusnya BBM diturunkan harganya," kata Sumantri, nelayan Karangantu Kota Serang.
Ia berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM yang rencananya pada 1 April 2012. Sebab jika BBM naik, biaya operasional bagi nelayan akan bertambah besar di tengah semakin sulitnya mencari ikan di laut karena sejumlah kendala.
"Sekarang saja biaya operasional kami berlima untuk satu perahu, sekali berangkat sekitar Rp150 ribu, sering hasil tangkapan tidak mencapai nilai sebesar itu," kata Sumantri.
Ia mengatakan, dengan harga solar saat ini per liter Rp5.300 di pengecer, terkadang para nelayan harus mengutang karena penghasilannya kurang. Apalagi jika pemerintah akan menaikan harga BBM tersebut, tentunya akan memberikan dampak yang luas terhadap harga kebutuhan pokok.
"Kapan nelayan kecil ini akan hidup sejahtera. Kami berharap bantuan dari pemerintah, bukan malah akan menaikkan BBM," katanya.
Supir angkutan umum di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mencemaskan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak pada sepinya penumpang.
"Kalau BBM naik, otomatis kami juga menaikan tarif, yang kita khawatirkan penumpang akan semakin sepi saja," kata Firli, supir angkutan umum jurusan Pandeglang-Cadasari.
Menurut dia, dengan harga premiun saat ini angkutan jurusan Pandeglang-Cadasari mematok tarif Rp2.000/penumpang, jika terjadi kenaikan berapa lagi tarif harus dinaikkan.
"Sekarang saja, penumpang dalam satu rit paling hanya lima orang, karena banyak masyarakat yang memiliki membeli sepeda motor, karena proses mudah dan bisa kredit sampai tiga tahun," katanya.
Candra, supir angkutan jurusan Pandeglang-Serang, juga mengaku khawatir jika pemerintah jadi menaikan harga BBM yang berdampak pada naiknya tartif, akan mempengaruhi jumlah penumpang.
"Sekarang tarif Pandeglang-Serang Rp5.000/orang, kalau BBM naik kami juga harus menaikan tarif, yang saya khawatirkan masyarakat enggan naik kendaraan umum, dan memiliki membeli motor secara kredit," katanya.
Untuk ia berharap, pemerintah memikirkan kembali rencana kenaikan BBM tersebut, karena dampaknya akan dirasakan masyarakat kecil, termasuk para supir angkutan umum.
Ia menjelaskan, sebagian besar supir angkutan umum Pandeglang-Serang yang sebagai buruh karena itu setiap hari harus setor pada pemilik kendaraan.
"Sekarang setoran per hari Rp50 ribu, kalau BBM naik pemilik mobil pasti juga meminta kenaikan setoran, jadi pendapatan kita akan semakin berkurang saja," katanya.
Rencana pemerintah menaikkan harga BBM untuk mengurangi beban terhadap APBN dapat dimengerti, tapi juga harus disiapkan formalasi yang benar-benar "jitu" agar dampak yang ditimbulkan tidak terlalu parah, terutama bagi kelangan masyarakat miskin yang jumlahnya masih cukup banyak di Indonesia.
Pewarta : Sambas
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
