Pemkab Buton mendorong petani kembangkan kelapa dan pala
Selasa, 23 Maret 2021 18:20 WIB
Tanaman perkebunan kelapa hibrida milik petani di Kabuapaten Konawe Selatan, tepatnya di Desa Lapoa, Kecamatan Tinanggea. (Foto ANTARA/Azis Senong)
Kendari (ANTARA) -
Pemerintah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mendorong para petani mengembangkan komoditas pertanian jenis kelapa genjah dan pala banda di seluruh wilayahnya.
Bupati Buto, La Bakri melalui pesan berantai yang diterima, Selasa mengatakan, kedua komoditi itu diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat serta merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional.
Bakri menjelaskan tanaman kelapa dan pala tidak ada yang dibuang, mulai dari pohon hingga buahnya dapat dimanfaatkan, ditambah lagi tanaman ini dapat menghasilkan buah sepanjang tahun.
"Dalam kondisi darurat misalnya transportasi produksi yang kita konsumsi hari ini terhenti, Insha Allah masyarakat Kabupaten Buton tidak akan kelaparan, karena dua komoditas ini bisa dikonsumsi," kata La Bakri.
Bupati menginginkan wilayahnya tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil Aspal alam, namun juga sebagai daerah yang mampu menghasilkan dan menyuplai tanaman jangka panjang seperti kelapa dan pala.
Pengembangan kedua tanaman itu akan mendorong para investor masuk ke ke Buton untuk mendirikan sebuah industri.
La Bakri mengatakan, Kabupaten Buton masuk dalam jajaran 238 daerah penghasil kelapa di Indonesia.
"Kita masuk sebagai daerah produsen kelapa dari 238 daerah produsen kelapa di Indonesia," ujarnya.
Kendati demikian, jumlahnya masih terbatas untuk dapat memenuhi kebutuhan daerah sekitar khususnya di Sultra.
Untuk itu Bupati Buton meminta seluruh jajarannya hingga tingkat desa menggalakan penanaman kelapa dan pala demi kesejahteraan masyarakat Buton dimasa yang akan datang.
Pemerintah Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) terus mendorong para petani mengembangkan komoditas pertanian jenis kelapa genjah dan pala banda di seluruh wilayahnya.
Bupati Buto, La Bakri melalui pesan berantai yang diterima, Selasa mengatakan, kedua komoditi itu diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat serta merupakan bagian dari program ketahanan pangan nasional.
Bakri menjelaskan tanaman kelapa dan pala tidak ada yang dibuang, mulai dari pohon hingga buahnya dapat dimanfaatkan, ditambah lagi tanaman ini dapat menghasilkan buah sepanjang tahun.
"Dalam kondisi darurat misalnya transportasi produksi yang kita konsumsi hari ini terhenti, Insha Allah masyarakat Kabupaten Buton tidak akan kelaparan, karena dua komoditas ini bisa dikonsumsi," kata La Bakri.
Bupati menginginkan wilayahnya tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil Aspal alam, namun juga sebagai daerah yang mampu menghasilkan dan menyuplai tanaman jangka panjang seperti kelapa dan pala.
Pengembangan kedua tanaman itu akan mendorong para investor masuk ke ke Buton untuk mendirikan sebuah industri.
La Bakri mengatakan, Kabupaten Buton masuk dalam jajaran 238 daerah penghasil kelapa di Indonesia.
"Kita masuk sebagai daerah produsen kelapa dari 238 daerah produsen kelapa di Indonesia," ujarnya.
Kendati demikian, jumlahnya masih terbatas untuk dapat memenuhi kebutuhan daerah sekitar khususnya di Sultra.
Untuk itu Bupati Buton meminta seluruh jajarannya hingga tingkat desa menggalakan penanaman kelapa dan pala demi kesejahteraan masyarakat Buton dimasa yang akan datang.
Pewarta : Abdul Azis Senong
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ditjenpas dan Pemprov tanam 5 ribu pohon kelapa di seluruh Lapas dan Rutan Sultra
09 September 2025 13:12 WIB
Mentan Andi Amran minta Dubes RI perkuat kerjasama hilirisasi kelapa di Sri Lanka
13 June 2025 17:25 WIB
PT Timah gandeng pemerintah desa "sulap" bekas tambang jadi perkebunan
05 February 2025 14:11 WIB, 2025
Kemenperin melahirkan guru besar ilmu kimia bantu pacu hilirisasi sawit
17 December 2024 9:46 WIB, 2024
Kementerian ATR diminta Ombudsman tuntaskan tumpang tindih lahan sawit
21 November 2024 5:52 WIB, 2024
Menko Zulkifli usulkan pengembangan komoditas kelapa karena bernilai ekonomi tinggi
06 November 2024 13:13 WIB, 2024