MPR-UMK Diskusi Soal Wacana GBHN
Jumat, 22 April 2016 22:22 WIB
Anggota DPD/MPR RI Abdul Jabar Toba (kedua kiri), Prof Dr Muhammad Jufri Dewa kiri) dan Dr. Jamaluddin HOS (ketiga kanan), Warek III UMK Bambang Indro Yuwono (kedua kanan) saat menyampaikan materi pada acara dengar pendapat dengan kalangan civitas ak
Kendari (Antara News) – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menggelar dengar pendapat dengan kalangan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) terkait wacana penerapan kembali Garis-Garis Besar Haluan Negara(GBHN).
Acara diskusi yang bertema “Reformulasi Sistem Perencanaan Pembanguna Nasional dengan Model GBHN” di Kendari, Jumat, menghadirkan narasumber dari anggota MPR RI Abdul Jabar Toba dan akademsi Prof Dr Muhammad Jufri Dewa, SH MH. dan Dr Jamaluddin Hos, MSi.
Anggota MPR RI yang juga anggota DPD RI dari perwakilan Sulawesi Tenggara Abdul Jabar Toba mengatakan, pihaknya membutuhkan saran dan masukan terkait tema yang diusung pada acara dengar pendapat tersebut.
"Munculnya wacana ini karena adanya ketidakpuasan terkait jalannya pelaksanaan pembangunan saat ini. Dan hasil masukan pada acara dengar pendapat ini Insya Allah saya akan bawa ke Jakarta,” ujarnya.
Sementara Prof. Muhammad Jufri Dewa mengatakan, pasca Orde Baru perencanaan pembangunan ditetapkan oleh presiden, dan fakta yang terjadi tidak ada kesinambungan pembangunan antara presiden sebelumnya dan presiden sesudahnya.
“Karena pembangunan berdasarkan visi misi presiden masing-masing, padahal seharusnya setiap presiden harus mengacu pada pola pembangunan nasional,” katanya.
Wacana yang mengemuka terkait GBHN saat ini berbeda penerapanya dengan di zaman Orde Baru. “Bukan berarti adanya GBHN nanti akan merubah sistim presidensiil kita ,”katanya.
Hal yang sama dikemukakan Dr Jamaluddin Hos bahwa saat ini telah terjadi disorientasi arah pembangunan nasional.
"Kematangan moral para penyelenggara negara belum mendukung. Hal ini berakibat pemahaman terhadap maksud tujuan dan hakekat otonomi tidak sesuai harapan," ujarnya.
Dia berharap agar cara berpikir yang ada selama ini, jika kita memahami bahwa negeri ini adalah warisan nenek moyang, maka seharusnya adalah negeri ini pinjaman anak cucu kita. “Kita harus meluruskan arah kiblat pembangunan nasional,” katanya.
Acara diskusi yang bertema “Reformulasi Sistem Perencanaan Pembanguna Nasional dengan Model GBHN” di Kendari, Jumat, menghadirkan narasumber dari anggota MPR RI Abdul Jabar Toba dan akademsi Prof Dr Muhammad Jufri Dewa, SH MH. dan Dr Jamaluddin Hos, MSi.
Anggota MPR RI yang juga anggota DPD RI dari perwakilan Sulawesi Tenggara Abdul Jabar Toba mengatakan, pihaknya membutuhkan saran dan masukan terkait tema yang diusung pada acara dengar pendapat tersebut.
"Munculnya wacana ini karena adanya ketidakpuasan terkait jalannya pelaksanaan pembangunan saat ini. Dan hasil masukan pada acara dengar pendapat ini Insya Allah saya akan bawa ke Jakarta,” ujarnya.
Sementara Prof. Muhammad Jufri Dewa mengatakan, pasca Orde Baru perencanaan pembangunan ditetapkan oleh presiden, dan fakta yang terjadi tidak ada kesinambungan pembangunan antara presiden sebelumnya dan presiden sesudahnya.
“Karena pembangunan berdasarkan visi misi presiden masing-masing, padahal seharusnya setiap presiden harus mengacu pada pola pembangunan nasional,” katanya.
Wacana yang mengemuka terkait GBHN saat ini berbeda penerapanya dengan di zaman Orde Baru. “Bukan berarti adanya GBHN nanti akan merubah sistim presidensiil kita ,”katanya.
Hal yang sama dikemukakan Dr Jamaluddin Hos bahwa saat ini telah terjadi disorientasi arah pembangunan nasional.
"Kematangan moral para penyelenggara negara belum mendukung. Hal ini berakibat pemahaman terhadap maksud tujuan dan hakekat otonomi tidak sesuai harapan," ujarnya.
Dia berharap agar cara berpikir yang ada selama ini, jika kita memahami bahwa negeri ini adalah warisan nenek moyang, maka seharusnya adalah negeri ini pinjaman anak cucu kita. “Kita harus meluruskan arah kiblat pembangunan nasional,” katanya.
Pewarta : Rudy Iskandar
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menaker wajibkan gubernur mengumumkan UMP paling lambat 21 November 2023
13 November 2023 23:34 WIB, 2023
PT DSSP Power Kendari ajarkan teknologi PLTU kepada mahasiswa UHO dan UMK
29 September 2023 9:49 WIB, 2023
PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara gelar shalat Idul Fitri di pelataran kampus UMK
21 April 2023 13:04 WIB, 2023
Terpopuler - Seputar Sultra
Lihat Juga
BPBD catat zona rawan gempa bumi capai 3,8 juta hektare yang tersebar di Sultra
03 February 2026 21:41 WIB
Kementerian ESDM survei tiga desa di Muna untuk elektrifikasi pedesaan periode 2026--2027
26 January 2026 17:11 WIB