Kendari (ANTARA News) - Produksi budidaya rumput laut para petani di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), saat ini baru mencapai sekitar 3.000-an ton per tahun.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Wakatobi, La Hajibu, saat dihubungi melalui telepon dari Wakatobi, Selasa, mengatakan, produksi rumput laut yang dihasilkan para petani rumput laut tersebut baru sekitar 30 sampai 33 persen dari potensi rumput laut yang dimiliki Kabupaten Wakatobi yang diperkirakan mencapai 9.000 ton per tahun.

"Masih rendahnya produksi budidaya rumput laut para petani Wakatobi itu, dikarenakan keterbatasan modal kerja yang dimiliki para petani," katanya.

Menurut dia, sekitar 30 persen dari total penduduk Wakatobi yang berjumlah sebanyak 114.000 jiwa, saat ini sedang membudidayakan rumput laut.

Namun, jumlah hamparan yang dimiliki masing-masing petani masih sangat terbatas karena tidak memiliki modal yang cukup untuk membuat tempat budi daya rumput laut yang memadai.

"Untuk satu tempat budi daya rumput laut yang memadai, satu petani membutuhkan modal kerja sekitar Rp5 juta," katanya.

Ia mengungkapkan, di tahun 2011, 100 petani rumput laut di Wakatobi memperoleh bantuan modal kerja dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp500 juta atau setiap keluarga kebagian Rp5 juta.

Dinas Kelautan dan Perikanan Wakatobi, kata dia, menyalurkan bantuan tersebut kepada para petani rumput laut dalam bentuk sarana produksi sepeti rakit bambu, tali pengikat rumput laut dan jangkar.

"Kami harapkan, dengan bantuan itu setiap keluarga petani rumput laut di Wakatobi, sudah bisa memperoleh pendapatan antara Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per sekali musim panen.

Menurut Hajibu, budi daya rumput laut di Wakatobi sangat menjanjikan karena hampir seluruh wilayah pesisir pantai Wakatobi cokok untuk membudidayakan rumput laut.

Dalam setahun, kata dia, petani rumput laut bisa panen enam sampai tujuh kali karena masa pemeliharaan rumput laut sampai masa panen hanya butuh waktu 45 hari.

"Kesulitan petani dalam mengembangkan rumput laut di Wakatobi adalah keterbatasan modal kerja, terutama sarana produksi seperti rakit bambu dan tali," katanya. (Ant).

Pewarta : Agus
Editor :
Copyright © ANTARA 2024