Logo Header Antaranews Sultra

Pemprov Sultra: Program Pompanisasi jadi solusi irigasi hadapi kemarau panjang

Selasa, 28 April 2026 17:10 WIB
Image Print
Plt Kepala Distanak Sultra Muhammad Taufik. (ANTARA/La OdeMuh Deden Saputra)

Kendari (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) menyatakan bahwa program pompanisasi menjadi solusi utama irigasi guna menghadapi ancaman kekeringan akibat kemarau panjang pada 2026.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Sultra Muhammad Taufik saat ditemui di Kendari, Selasa, mengatakan metode irigasi buatan dengan pompa air ini sangat efektif untuk mengambil air langsung dari sungai atau sumur guna dialirkan ke lahan pertanian yang terdampak fenomena El Nino.

"Langkah antisipasi melalui pompanisasi ini harus dilakukan sejak awal. Sesuai arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, pemerintah daerah tengah menyiapkan dukungan anggaran untuk program ini demi menjaga ketersediaan air tanaman," kata Muhammad Taufik.

Dia menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang diprediksi melanda wilayah Sultra dapat menyebabkan penurunan produksi jika tidak dimitigasi dengan baik. Selain pompanisasi, petani juga dianjurkan menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kekeringan serta menyesuaikan jadwal tanam lebih awal.

"Jika El Nino tidak dihadapi dengan strategi yang tepat, produksi pertanian bisa menurun dan berpotensi mengganggu target swasembada pangan daerah," ujar dia.

Muhammad Taufik mengungkapkan bahwa di sisi lain pihaknya juga telah memastikan jika stok pangan di Sultra saat ini masih dalam kondisi aman.

"Penyerapan gabah petani oleh Bulog terus dioptimalkan hingga gudang-gudang di berbagai daerah terisi penuh, bahkan Sultra masih mampu menyuplai kebutuhan beras ke luar wilayah," katanya menjelaskan.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Sulawesi Tenggara akan terjadi pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Sultra Nur Wiryanti Sih Antomo menjelaskan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga Oktober mendatang.

"Kami mengimbau para pemangku kepentingan dan petani untuk mewaspadai kondisi El Nino lemah hingga moderat yang berpeluang besar terjadi pada Mei hingga Juli mendatang," kata Nur Wiryanti.

Dia berharap sinergi antara teknologi irigasi pompanisasi dan pemantauan iklim yang akurat dapat menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah tantangan perubahan iklim global.



Pewarta :
Editor: Zabur Karuru
COPYRIGHT © ANTARA 2026