6.000 warga Rusia ingin dipulangkan dari Bali di tengah wabah

id rusia,repatriasi,bali,covid-19,wabah,pandemi,dubes rusia,Lyudmila Vorobieva

6.000 warga Rusia ingin dipulangkan dari Bali di tengah wabah

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, usai memberikan keterangan kepada media dalam press briefing di kediamannya di Jakarta, Rabu (12/2/2020). (ANTARA/Aria Cindyara)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengatakan bahwa per April lalu sebanyak total 6.000 warga negara Rusia ingin dipulangkan dari Bali, di tengah situasi pandemi COVID-19.

Lyudmila menyampaikan hal itu dalam temu media rutin yang digelar secara virtual, Rabu, menambahkan bahwa Kedutaan Besar Rusia di Jakarta sudah memfasilitasi kepulangan sebagian dari jumlah tersebut.

"Kami telah menjalankan 13 penerbangan ke dan dari Denpasar. Pada April, kami mencatat sekitar 6.000 warga Rusia yang ingin pulang dari Bali dan lebih dari 4.000 orang di antaranya sudah direpatriasi hingga saat ini," kata dia.



Menurut data Pemerintah Rusia, sejak wabah merebak secara global mulai Maret, warga Rusia yang direpatriasi dengan bantuan Kedutaan Besar di seluruh dunia sekitar 50.000.

Lebih dari 30.000 di antara mereka pulang dengan pesawat maskapai Rusia, sementara sisanya pulang dengan pesawat maskapai asing dan sewaan.

"Kami merencanakan, setidaknya, satu penerbangan lagi untuk memulangkan (warga Rusia dari Bali). Kebanyakan pesawat yang digunakan adalah dari maskapai nasional kami," ujar Lyudmila menambahkan.

Rusia mengonfirmasi hampir 700.000 kasus positif COVID-19 dari 21,5 juta tes yang telah dilakukan, dengan 460.000 pasien sembuh dan sekitar 10.000 pasien meninggal dunia.

Walaupun dengan angka kasus itu Rusia berada di posisi tertinggi ke-4 dunia, pemerintahnya menyatakan bahwa saat ini kasus baru harian sudah rendah, yakni kurang dari 1%.

"Langkah karantina oleh pemerintah menunjukkan hasil yang bagus... kurva sudah melandai dan negara kami mulai secara perlahan mencabut aturan pembatasan yang sebelumnya sangat ketat, sehingga kehidupan kembali ke normal baru," kata Lyudmila.
 
Pewarta :
Editor: Hernawan Wahyudono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar