Logo Header Antaranews Sultra

18 Kabupaten Di NTT Rawan DBD

Selasa, 13 Januari 2015 20:10 WIB
Image Print

Kupang (Antara News) - Sebanyak 18 dari 22 kabupaten dan kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan survei dan analisis kasus yang ada dikategorikan sebagai daerah yang rawan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada musim hujan saat ini.

"Perubahan iklim dan iklim yang ekstrem merupakan salah satu penyebab meningkatnya jumlah kasus DBD, karena termasuk ikut mengkategorikan sejumlah daerah sebagai daerah yang memiliki angka prevalensi Malaria tertinggi," kata Pengelola Program DBD Acep Efendy di Kupang, Selasa.

Bukan cuma itu, katanya, NTT Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga dalam skala nasional dikategorikan sebagai daerah yang memiliki angka prevalensi Malaria tertinggi dari lima propinsi di Indonesia.

"Banyak faktor penyebab, misalnya, kata Acep, perubahan iklim yang seharusnya musim kemarau tapi tetap hujan yang membuat semakin banyak sarang nyamuk dan musim hujan tetap jaring disertai angin kencang sehingga banyak nyamuk terutama nyamuk penyebar virus DBD banyak bersarang di tempat bersih maupun kotor," kata PNS pada DInas Kesehatan Provinsi NTT itu.

Untuk memutus mata rantai penularan, katanya, masyarakat kembali diingatkan untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan mengerjakan 3M Plus atau menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat nyamuk DBD bertelur.

"Yang dimaksud dengan plus adalah segala bentuk pencegahan seperti memberi bubuk larvasida pada tempat air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah dan tidak menggantung pakaian didalam rumah yang bisa menjadi tempat peristirahatan nyamuk.

"PSN perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan dan pancaroba, karena air hujan dapat meningkatkan ketersediaan tempat bertelur vektor (nyamuk) yang sering menimbulkan KLB," katanya.

Jadi sebanyak 18 kabupaten/kota di NTT termasuk NTT secara nasional memiliki angka prevalensi Malaria tertinggi ini membuktikan kepedulian pencegahan dan pemberantas penyakit malaria masih sangat minim.

Sehingga pemerintah dan masyarakat harus bangkit sadar untuk memerangi penyakit Malaria.

Ia mengakui 18 kabupaten yang memiliki angka prevalensi Malaria tertinggi soal DBD tidak secara rutin melaporkan perkembangan kasus dan upaya penanganan dan pencegahannya, sehingga kesulitan mendapatkan data akurat dari setiap kabupaten di NTT yang terprevelensi DBD.

Untuk mengantisipasi penyebaran DBD ke daerah di NTT pihaknya tengah menggiatkan tindakan pencegahan dengan melakukan pengasapan (fogging) di radius 50 meter kediaman penderita kemudian membagikan abate kemudian melakukan pembersihan sarang nyamuk, serta melakukan gerakan 3M yakni membersihkan dan menguras bak mandi, menutup sumber air dan menimbun barang bekas.

Selain itu, pihaknya juga tengah melakukan penyuluhan kesehatan kepada pihak kelurahan atau aparat desa dan ketua RT agar dapat menggerakkan masyarakat di masing-masing wilayah untuk melakukan gerakan pembersihan lingkungan, sehingga tidak hanya bergantung ke dinas terkait mengingat keterbatasan tenaga dan biaya yang mereka miliki.

Langkah-langkah penanganan DBD ini tambah dia, harus didukung semua pihak sehingga dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa, di samping penanganan yang dilakukan pihak kesehatan yang tersebar dalam 18 kabupaten di daerah itu.
Beberapa penyakit yang kerap timbul saat perubahan musim dari hujan ke musim kemarau atau sebaliknya, selain DBD juga ISPA, diare dan tyfus, kendati tergolong ringan namun harus diwaspadai, jika tidak segera mendapatkan pertolongan medis dapat menyebabkan kematian.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026