Logo Header Antaranews Sultra

Tanker Kandas Berhasil Ditarik dari Perairan Dobo

Selasa, 16 Desember 2014 16:00 WIB
Image Print

Dobo (Antara News) - Kapal tanker MT.Ngagel Dadi, akhirnya berhasil ditarik setelah sempat kandas di perairan Tanjung Lampu, dusun Marbali, kota Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, sejak Sabtu (13/12), siang.

"Tanker tersebut berhasil ditarik kapal cargo yang disewa dari salah satu perusahaan di Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru pada Senin (15/12) petang," kata Sales Executive Retail IV Pertamina Cabang Ambon, Fandy Ivan Nugroho, dihubungi dari Dobo, Selasa.

Kapal yang mengangkut 3.500 kilo liter (KL) bahan bakar minyak (BBM) itu sudah merapat di dermaga terminal BBM Dobo dan menyuplai tangki di sana.

Kandasnya kapal tanker tersebut, menurut dia, alasannya kondisi cuaca buruk dan armada tersebut baru pertama kalinya mengangkut BBM ke Depot Pertamina setempat.

"Cuaca ekstrim dan tankernya baru pertama mengangkut BBM ke terminal BBM Dobo sehingga kandas," ujarnya.

Dia memastikan, kandasnya kapal tanker tersebut tidak mempengaruhi stok BBM di Kepulauan Aru karena premium dan solar cukup untuk dua pekan ke depan, sedangkan minyak tanah bisa memenuhi kebutuhan selama 10 hari.

"Kami pun sedang mengarahkan kapal tanker dari Saumlaki, ibu kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) ke terminal BBM Dobo agar tidak meresahkan masyarakat, terutama merayakan Natal dan Tahun Baru," tegas Fandi.
nahkoda lalai
Petugas Lalulintas Angkutan Laut dan Pelayanan Jasa Kantor Unit Penyelengara Pelabuhan Klas II Dobo, Nico Kerlely mengatakan, kandasnya kapal tanker tersebut karena nahkodanya lalai dengan kurang memperhatikan peta laut telah dipasang di sekitar perairan Tanjung Batu.

"Seharusnya saat menuju dermaga Depot Pertamina Dobo berkoordinasi dengan Stasiun Radio Pantai setempat agar diarahkan alur pelayaran," katanya.

Karena itu, nahkoda kapal telah dipanggil untuk diperiksa pada Senin (15/12) dengan harus membawa dokumen kapal.

"Kelalaian nahkoda ada ketentuan sanksinya, baik administrasi hingga hukuman penjara sehingga nahkoda hendaknya kooperatif," ujar Nico.

Dia juga menyesalkan nahkoda kapal tanker tersebut yang saat meminta bantuan kapal lainnya hendaknya berkoordinasi dengan Kantor Unit Penyelengara Pelabuhan Klas II Dobo.

"Kami tidak pernah dikoordinasikan soal olah gerak kapal bantu tersebut. Sekiranya terjadi hal - hal yang tidak diinginkan, maka siapa harus bertanggung jawab,"tegas Nico.

Sebelumnya pada awal Januari 2014 kapal cargo KM.Obelik milik PT. Tirta Sarana Indo Line di Surabaya juga kandas di perairan setempat.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026