Kendari, Antara Sultra - Program produksi kakao berkelanjutan atau Sustainable Cocoa Production Program (SCPP) memperluas kerja sama hingga ke Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Perwakilan dari program SCPP Provinsi Sultra, Suharman Sumpala dan Haerul Nangngareng, Rabu, mengatakan program produksi kakao berkelanjutan itu telah mendapat respon dari Bupati Konsel Surunuddin Dangga beserta jajarannya.

"Program SCPP ini sudah masuk dalam pembahasan Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) yang dituangkan dalam dokumen 2017 ini," ujarnya.

Ia mengatakan, kakao adalah komoditas yang populer di Kabupaten Konawe Selatan, sebuah kabupaten dengan 20.316 hektare lahan kakao. Namun, karena menurunnya produktivitas dari pohon kakao yang menua, petani beralih menanam komoditas lain seperti lada, cengkih, sawit, dan nilam.

Banyak petani masih belum menyadari akan adanya pasar dan kebutuhan kakao di masa depan yang tinggi dan menawarkan sumber pemasukan yang berkelanjutan.

Keterlibatan SCPP dalam program yang menyasar langsung para petani kakao diharapkan mampu meningkatkan produksi kakao di Konawe Selatan.

Sebagai bagian dari Rencana Kegiatan Tahunan 2017 sebanyak 1.250 petani kakao di Kabupaten Konawe Selatan akan menerima manfaat langsung Pelatihan Pertanian yang baik (GAP-Good Agricultural Practices).

Pelatihan Lingkungan yang baik (GEP-Good Environment Practices), dan program sertifikasi. Pembangunan unit pembibitan kakao juga menjadi salah satu perhatian untuk menyediakan akses petani terhadap bibit kakao.

"Total lima kecamatan dan 23 desa rencananya akan menjadi bagian dalam program pelatihan pada tahun 2017 ini," ujarnya.

Selain Konawe Selatan, Program Produksi Kakao Berkelanjutan sudah berjalan di tiga kabupaten lain di Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu Kabupaten Kolaka pada 2012, Kolaka Timur pada 2013 setelah kabupaten ini berdiri dan Kolaka Utara pada 2015.

"Saya percaya petani kakao akan melihat hasil yang menggembirakan seperti yang terjadi di kabupaten lain tempat Program diimplementasikan. SCPP tidak hanya memperbaiki produksi kakao, namun juga penghasilan bagi para petani dan komunitas di sekitarnya. Saya menyambut hangat kolaborasi antara Swisscontact dengan pemerintah kabupaten Konawe Selatan," ungkap Manfred Borer, Country Director Swisscontact Indonesia.

Ia mengatakan, SCPP adalah upaya kolaboratif antara sektor publik dan mitra pelaksana program yakni sektor swasta dan organisasi non-profit. Program ini mengutamakan peningkatan pendapatan para petani kakao skala kecil hingga 75 persen dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lewat perkebunan kakao hingga 30 persen.

SCPP saat ini telah berjalan di 29 kabupaten di 8 provinsi daerah-daerah utama penghasil kakao di Sulawesi dan Sumatera. Hingga Desember 2016 sebanyak 77.976 petani kakao skala kecil telah menerima pelatihan pertanian yang baik, dengan tujuan peningkatan produksi melalui manajemen pertanian yang tepat dan berkesinambungan.

Selain itu, sejak program diimplementasikan di berbagai daerah, secara rata-rata, terdapat peningkatan 62 persen terhadap angka produksi kakao yang semula berada dikisaran 450 kg/ha/tahun menjadi 720 kg/ha/tahun.

Pewarta : Azis Senong
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2026