
Ekonomi "Kampung Inggris" Yang Terus Bergerak
Selasa, 18 Juni 2013 12:53 WIB

Sumiatun (55) tak pernah menyangka rumahnya akan menjadi sumber penghasilan di masa tuanya. Ia bersama suaminya Misbakun adalah warga yang kecipratan rezeki dari menjamurnya kursus di Kampung Inggris Pare.
Pasangan suami istri pemilik rumah kos Baduri Zone di Dusun Singgahan, Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu tak perlu terlalu "susah" seperti saat menjadi petani. Apalagi ketiga anaknya sudah berkeluarga dan mandiri.
Kini dari sewa kamar bulanan, mereka memperoleh penghasilan tidak kurang dari Rp3 juta jika tidak sedang ramai. Pada saat libur sekolah, 12 kamar rumahnya akan terisi semua sehingga penghasilannya meningkat menjadi Rp5 juta.
Di daerah itu, tarif kos antara Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per bulan. Dalam satu kamar bisa diisi maksimal empat anak. Dengan menggunakan air sumur dan mesin pompa, maka pengeluaran rutin tiap bulan adalah untuk rekening listrik yang tidak sampai Rp1 juta.
Penghasilan yang sangat besar untuk ukuran masyarakat desa yang di warung-warung masih menyediakan nasi dengan lauk telor goreng seharga Rp3 ribu. Selain itu godaan-godaan konsumtif juga belum banyak.
Baduri Zone bukan satu-satunya rumah kos di dusun itu. Di depannya atau samping kanan-kirinya, rumah-rumah disulap sedemikian rupa menjadi tempat kos. Mereka kecipratan rezeki dari dibukanya lembaga kursus "Happy English Course 1" (HEC 1) di sebelah barat Baduri Zone dan sejumlah lembaga kursus lainnya.
Direktur HEC 1 Wahyu Kurniawati mengakui bahwa munculnya lembaga kursus telah membawa dampak ekonomi yang luar biasa bagi warga di daerah itu yang umumnya sebagai petani.
Ia mendirikan HEC 1 pada 17 September 1997 dengan hanya memanfaatkan rumah. Seiring waktu, kini ia sudah memiliki ruang kelas sendiri berlantai dua di belakang rumahnya. Ia juga telah mempekerjakan lima guru. Setiap bulan HEC 1 bisa menerima 60 siswa saat musim sepi dan 400 orang saat musim liburan sekolah.
Dusun Singgahan adalah gambaran yang begitu jelas bagaimana sebenarnya ekonomi di daerah itu mulai tumbuh berkat banyaknya orang ingin belajar Bahasa Inggris.
Namun suasana kursus di dusun itu belum seramai seperti di Jalan Anyelir atau Jalan Brawijaya. Daerah itu masih menyisakan wajah asli rumah dan suasana desanya. Rumah-rumah yang asalnya hanya untuk ditinggali keluarga, disulap menjadi tempat kos. Misalnya ruang tamu yang memanjang, sebagian dibuat kamar dengan memasang kayu dan tripleks untuk dinding pembatas. Atau bagian depan rumah dibuatkan atap untuk warung nasi.
Kalau ke timur dari Baduri Zone atau kantor HEC-1, lalu di perempatan berbelok ke selatan, kondisinya sudah berbeda. Halaman rumah warga di pinggir jalan sudah berubah menjadi deretan warung nasi. Dari perempatan itu kalau terus berjalan sekitar 500 meter, akan ditemui perempatan lagi. Berbelo ke kiri (timur), di jalan ini perubahannya lebih total. Rumah-rumah menjadi tempat kursus dengan bagunan bagus, atau menjadi tempat kos dan warung serta usaha lainnya.
Di depan beberapa rumah teronggok tumpukan pasir dan batu bata. Itu salah satu tanda ekonomi Pare yang terus bergerak. Kalau tidak menambah kamar kos, pasir dan bata itu untuk menambah ruangan tempat belajar atau tempat usaha lainnya. Di tempat lain juga begitu. Bangunan-bangunan baru tumbuh atau bangunan lama diperluas.
Jika terus berjalan ke timur, sebelah kanan jalan akan dijumpai bangunan bertingkat yang pintu gerbangnya bertulis "Basic English Course" (BEC). BEC adalah cikal bakal berkembangnya kursus Bahasa Inggris di Pare. BEC didirikan oleh Muhammad Kalend Osen, legenda hiup Kampung Inggris. Lewati dulu kisah tentang BEC yang jalan di depannya begitu ramai dengan anak-anak muda berjalan kaki atau naik sepeda pancal.
Di sebelah kanan BEC, terdapat toko buku dan toko berbagai kebutuhan sehari-hari bernama "Asmo John". Wiyoto (40), pemilik toko yang lebih banyak dipanggil Pak Asmo itu juga memiliki usaha persewaan sepeda. Asmo yang pernah belajar di BEC, lebih mengembangkan minat bisnisnya dari pada meneruskan kemampuan bahasa asingnya.
Kalau terus ke timur di Jalan Anyelir tersebut, sekitar 500 meter dari BEC, sebelah kiri jalan akan ditemui salah satu kursus yang barangkali paling muda. "The Eagle", namanya. Semangatanya adalah "elang", yakni burung perkasa dengan kemampuan terbang yang tinggi.
Achmad Dany (22), pemilik lembaga kursus "The Eagle" di Jalan Anyelir, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, adalah anak muda yang mampu menangkap peluang usaha di bidang pencerdasan manusia itu. Ia adalah pendatang baru dari sekitar 150 lembaga kursus di Pare. Dany mengklaim sebagai pemilik lembaga kursus paling muda, baik usia maupun lembaganya.
Mahasiswa fakultas hukum sebuah universitas swasta di Surabaya itu mendirikan lembaga kursus pada November 2011 setelah sebelumnya malang melintang menjadi guru di sejumlah tempat kursus lain di Pare. Bukan perjuangan mudah bagi Dany mendirikan lembaga itu, meskipun dari kecil ia sudah terbiasa ditempa kemelaratan orang tuanya.
"Saya melihat animo masyarakat untuk datang ke Pare ini luar biasa. Saya berpikir kenapa saya tidak mendirikan lembaga sendiri? Akhirnya saya mendirikan The Eagle ini. Awal-awal berdiri saya hanya bermodal brosur dan menempati emperan rumah. Ternyata satu bulan hanya mendapat tiga siswa. Sedih juga waktu itu," kata pria kelahiran Porong, Sidoarjo, yang rumah orang tuanya hilang tertelan lumpur Lapindo itu.
Dany tak patah semangat, apalagi pekerjaan mengajar di lembaga kursus lain sudah ditinggalkannya. Penantian tak berlangsung lama, sebab satu bulan kemudian lembaganya kedatangan rombongan 30 siswa MTs dari Mojokerto. Tantangan hidup yang dijalaninya waktu di Porong mengajarkan ia untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mesikupun tidak memiliki tempat untuk menampung 30 orang, ia segera memutar otak untuk menyewa rumah.
Uang Rp9 juta sudah di tangan dari tarif kos plus biaya kursus per anak Rp300 ribu. "Almadulillah, sekarang sudah berjalan, meskipun saya sendiri merangkap sebagai manajer, tenaga marketing dan juga tenaga pengajar. Orang sering melihat saya sudah seperti sekarang ini, mereka tidak tahu perjuangan hidup saya dulunya," kata lelaki yang sangat akrab dengan anak didiknya itu.
Anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku sejak kecil sudah hidup susah di Porong. Maklum, orang tuanya waktu itu hanya penjual krupuk keliling. Dany sudah biasa mencari uang sejak kecil, dengan mencari burung atau membantu berjualan milik ayahnya.
Meskipun ada semacam "dendam" untuk keluar dari kemelaratan di masa lalu, dalam mengelola The Eagle, Dany tidak semata-mata mencari untung. Ia memahami betul bahwa dia adalah pendidik. Karenanya tidak heran jika ia justru sering tidur bareng dengan anak-anak kos atau muridnya. Hal itu untuk lebih mendalami karakter anak didiknya itu.
Lelaki berkulit putih yang tinggal di Pare karena mengikuti ibunya yang pulang kampung setelah rumahnya di Porong ditelan lumpur itu memiliki cita-cita besar dari lembaga kursusnya. Dia ingin mencetak guru Bahasa Inggris yang memiliki jiwa sosial untuk mengajar di daerah terpencil di luar Jawa. Kalau bisa guru itu mengajar tanpa memungut biaya bagi anak didiknya.
"Nah, untuk itu saya harus kuat secara ekonomi sehingga bisa memikirkan kesejahteraan guru yang saya kirim nanti. Karenanya saya tidak akan berhenti di lembaga kursus ini. Saya akan merambah ke usaha lain, salah satunya persewaan mobil," kata bujang murah senyum ini yang saat itu ditemani anak-anak kosnya.
Mengakhiri ceritanya, Dany juga mengakui bahwa potensi ekonomi dari bisnis kursusan ini sangat besar. Bahkan dia menyebut triliunan uang masuk ke dua desa di Pare, Kabupaten Kediri, tersebut. Karena itu, ia menganggap wajar jika kemudian lembaga kursus di lokasi itu menjamur. Bahkan kini pemiliknya banyak yang bukan orang Pare.
Data mengenai jumlah peserta kursus di Pare diungkapkan A Zulkarnain dalam bukunya "Pare dan Catatan tak Usai". Lelaki asal Makassar yang juga alumni Pare itu menyebutkan bahwa di saat sepi, rata-rata 5.000 orang dan saat musim libur sekolah mencapai 15.000 orang.
Agustin, guru di lembaga kursus Daffodils, menggambarkan bahwa kalau musim libur sekolah, suasana di Jalan Anyelir tempatnya tinggal sangat ramai.
"Jadi kalau naik sepeda di Jalan Anyelir ini harus hati-hati agar tidak menabrak pejalan kaki karena ramai," kata perempuan asal Sumenep, Madura, itu.
Pantauan wartawan Antara, warung-warung di tempat itu menjual satu porsi nasi dan lauk, antara Rp3.000 hingga Rp5.000, belum termasuk minum. Untuk biaya kos antara Rp150 ribu hingga Rp180 ribu, belum termasuk jika di tempat kos, seseorang mengikuti program pedidikan tambahan.
Jika dikalkulasi minimal, maka kebutuhan per anak dalam sehari sekitar Rp26.000. Jumlah itu terdiri dari makan tiga kali total Rp12 ribu (sekali makan Rp4.000), kos Rp5.000 (Rp150 ribu sebulan), biaya kursus Rp6.000 (Rp180 ribu sebulan). Satu lagi yang sangat dibutuhkan oleh peserta kursus, yaitu sepeda "ontel" untuk mobilitas. Sewa sepeda "pancal" itu rata-rata sebulan Rp100 ribu atau sehari Rp3.000 lebih.
Jika Rp26 ribu dikalikan 5.000 orang, maka uang masuk ke Pare dalam sehari mencapai Rp130 juta atau Rp3,9 miliar dalam sebulan. Jika ramai hingga 15 ribu peserta kursus, maka dalam sehari mencapai Rp390 juta atau sebulan Rp11,2 miliar. Hitungan itu belum termasuk jika para peserta mencuci menggunakan jasa usaha laundry, pembelian suvenir, jasa becak, ojek, minuman, camilan, kendaraan travel.
Itu juga belum termasuk jika satu orang mengikuti lebih dari satu program kursus. Agar tidak banyak menganggur, --kecuali untuk program tiga bulan di BEC dan HEC--, satu peserta biasanya mengambil dua hingga tiga program. Bisa di satu lembaga kursus atau di lembaga lain.
Kampung Inggris kini bukan lagi kampung dalam pengertian tata kewilayahan di negeri ini. Kampung Inggris tidak lagi berada di satu kampung di Desa Pelem saat awal berdirinya BEC. Lembaga kursus sudah menyebar di Desa Pelem dan Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya Prof Dr Ahmad Erani Yustika mengemukakan bahwa dari sisi penghuni, kedatangan peserta kursus ke Pare telah menambah jumlah penduduk di wilayah itu beberapa kali lipat. Padahal rata-rata penduduk satu desa di Jawa 6.000 orang. Pertambahan penghuni desa hingga tiga kali lipat itu tentu membawa dampak ekonomi yang besar.
Jika kalkulasi minimal uang yang masuk ke Pare itu sehari minimal Rp130 juta, maka jumlah itu sangat besar untuk ukuran desa. Keberadaan Kampung Inggris itu merupakan bukti tumbuhnya ekonomi yang berangkat dari potensi lokal.
"Di tempat lain kita bisa melakukan hal serupa dengan mengembangan potensi-potensi lokal yang ada," katanya.
Erani mengakui bahwa tidak semua daerah memiliki keberuntungan yang sama dengan di Pare. Fenomena perkembangan ekonomi di Pare tidak dimulai dari upaya pemerintah, melainkan tumbuh dari inisiatif warga sendiri setelah melihat banyaknya peminat kursus yang datang ke tempat itu.
Ia menganjurkan agar pemerintah di tingkat desa dan pemerintah kabupaten hendaknya membuat regulasi untuk mengantisipasi pertumbuhan yang tidak terarah dan kemudian mematikan pendapatan masyarakat lokal. Misalnya dengan semakin banyaknya pemilik modal dari luar Pare yang mendirikan kursus di tempat itu.
Selain itu, katanya, masih kuatnya etika dan moral di lingkungan masyarakat sekitar lembaga kursus di Pare merupakan kekuatan tersendiri. Karena masyarakat Pare masih memegang teguh etika dan norma, maka orang tua tidak keberatan untuk melepas anaknya belajar di ke tempat itu.
"Itu juga harus diatur agar para peserta kursus menyesuaikan dengan norma dan etika masyarakat di Pare. Jangan sampai sebaliknya, misalnya masyarakat yang datang justru mempengaruhi masyarakat di sana. Hal seperti ini harus diantisipasi untuk kepentingan jangka panjang agar tidak menimbulkan masalah," katanya.
Muhammad Kalend mengaku tidak pernah membayangkan kalau Pare akan menjadi seperti sekarang. "Dulu saya sekedar ingin numpang hidup saja. Sekarang, orang di sini ibaratnya tidur saja sudah pegang uang dari kos-kosan," kata pria asal Kalimantan itu.
Ia mengemukakan bahwa biaya murah menjadi salah satu daya tarik orang untuk datang belajar di Pare. Karena itu ia tidak mau seenaknya menaikkan tarif kursus di BEC. Ia sadar bahwa peserta yang datang ke Pare tidak semuanya anak orang mampu.
Ia juga tidak tergoda untuk meraup untung besar, misalnya dengan membuat rumah untuk tempat kos para siswanya. Ia lebih memilih berbagi pendapatan dengan penduduk sekitar agar memiliki penghasilan dari usaha tempat kos.
Mengenai perkembangan lembaga kursus yang sangat banyak, ia berpikir positif dan berharap semoga semuanya baik-baik saja. Tidak ada tanda bahwa ia merasa tersaingi oleh pendatang baru itu.
"Saya ikut senang karena meskipun didirikan orang luar, banyak alumni BEC yang dipakai jadi guru. Sementara yang saya lihat positif saja. Cuma orang yang mau belajar memang harus jeli. Pilih sesuai kebutuhan. Salah pilih, maka salah sendiri," kata lulusan Pesantren Modern Gontor, Ponorogo itu.
Ia sangat bahagia karena efek sosial dan ekonomi dari banyaknya lembaga kursus itu luar biasa bagi masyarakat. Masyarakat kampung bisa membuka usaha, seperti kos-kosan, warung, persewaan sepeda, warnet, laundry dan lainnya.
Ditanya soal campur tangan pemerintah terhadap kampung itu, Kalend mengatakan hampir tidak ada. "Syukurlah pemerintah tidak pernah ikut-ikut. Kalau ikut-ikut malah repot," katanya.
Pewarta : Oleh Masuki M Astro
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
