Kendari (ANTARA) - Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), melalui Dinas kesehatan (Dinkes) meminta para kader posyandu setempat untuk terus gencar melakukan edukasi kepada ibu-ibu hamil mau pun keluarga yang memiliki balita tentang penanganan stunting. 

Kepala Dinas kesehatan Kendari, drg Rahminigrum, mengatakan kader-kader posyandu sebagai garda terdepan harus memiliki pemahaman yang memadai tentang stunting, sehingga saat memberikan edukasi tentang penanganan stunting bisa disampaikan secara utuh kepada masyarakat apa itu stunting dan bagaimana penanganan anak stunting sehingga tepat sasaran. 

Edukasi tentang stunting harus menjadi gerakan bersama yang harus dilakukan para kader posyandu di setiap kelurahan dengan informasi yang benar dan tepat. Kadis kesehatan Kendari, Rahminingrum (ANTARA/Suparman)

“Apabila para kader posyandu belum memiliki pemahaman yang jelas tentang stunting maka informasi yang diberikan kepada masyarakat menjadi kurang lengkap,” katanya.

Kurangnya pengetahuan dari para kader tentang stunting katanya, maka dibutuhkan peran serta para tenaga kesehatan maupun kepala Puskesmas untuk selalu mengedukasi para kader tentang stunting.

“Para kepala puskesmas dan tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan edukasi bagi para kader tentang stunting agar bisa disampaikan langsung kepada masyarakat apa itu stunting dan bagaimana penanganan anak stunting sehingga tidak terjadi kekeliruan di masyarakat tentang bagaiman menangani anak-anak stunting,” katanya. Kadis Dalduk dan KB kendari jahudding (ANTARA/Suparman)

Kepala Dinas Dalduk dan KB kendari, Jahuddin, menyebutkan pada tahun 2022 prevalensi tertinggi Stunting di Kendari terjadi di Kecamatan Kendari sebesar 2,7 persen, disusul Kecamatan Kendari Barat 2,6 persen dan di urutan ketiga ada Kecamatan Abeli dan Kecamatan Wua-wua masing-masing sebesar 2,3 persen.
 
“Jadi terdapat 5 Kecamatan dengan angka prevalensi stunting tertinggi tahun 2020-2022 yaitu Kecamatan Puuwatu, Kendari Barat, Kendari, Wua-wua dan Abeli,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa data trend perkembangan jumlah balita stunting tahun 2020-2022 menunjukkan bahwa, jumlah balita stunting di Kota Kendari rata-rata mengalami penurunan dari tahun 2020 ke tahun 2021 yaitu 466 orang menjadi 227 orang, tetapi mengalami peningkatan di tahun 2022 yaitu 365 orang.

Ia menambahkan, beberapa Kecamatan dengan jumlah balita stunting tertinggi tahun 2022 adalah Kecamatan Kendari Barat, Kendari dan Puuwatu. Tetapi terdapat 3 Kecamatan yang mengalami penurunan jumlah balita stunting dari tahun 2020-2022 yakni, Kecamatan Mandonga, Baruga dan Kadia.
  Pj Wali Kota Kendari (ANTARA/Suparman)
Sementara itu, Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu mengatakan, berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) angka stunting di Kota Kendari berada di angka 19,5 persen.

PJ Wali Kota Kendari, H Asmawa Tosepu selaku orang tua asuh, saat menyambangi langsung keluarga pemilik balita beresiko stunting Angka tersebut menurun dari tahun 2021 sebesar 24 persen, berdasarkan data SSGI itu, angka stunting Kota Kendari terendah dibandingkan dengan angka kabupaten/kota di Sulawesi Tenggara.

Capaian itu kata dia, maka Kota kendari terpilih sebagai percontohan (role model) dalam petik aksi audit kasus stunting di tingkat nasional bersama dua kabupaten kota lainnya. (ADV)

Pewarta : Suparman
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024