Kendari (ANTARA) - Kelangkaan minyak goreng terjadi hampir di seluruh daerah Indonesia tak terkecuali di Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara yang saat ini masih terjadi.

Langkahnya minyak goreng cukup meresahkan khususnya bagi ibu-ibu sebagai orang yang mengerti betul betapa pentingnya minyak goreng berada di dapur untuk menghidangkan konsumsi keluarga.

Yang tak kalah penting untuk menjadi perhatian adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang jika usahanya bergantung terhadap minyak goreng. Hal ini harus menjadi atensi dari pihak terkait.

Akibat langkahnya komoditas itu membuat harga ditemukan cukup meroket nyaris mencapai Rp20 ribu per liter padahal pemerintah telah menetapkan Rp14 ribu per liternya.

Pasokan minyak goreng di pasar semakin lama semakin berkurang, sehingga pemerintah perlu melakukan upaya untuk meningkatkan produktivitas dari produksi minyak goreng.

Pemerintah harus memastikan pasokan minyak goreng terpenuhi dengan harga yang wajar dan terjangkau oleh masyarakat. Sebab, selama pasokan minyak goreng di pasar masih kurang, hal itu akan terjadi kelangkaan dan harganya pun akan naik.

Kelangkaan tersebut harus menjadi perhatian bersama sehingga kondisi ini tidak terjadi dalam jangka panjang, apalagi dalam waktu dekat akan menghadapi bulan puasa suci Ramadhan.

Dilakukan penyelidikan

Dengan kondisi yang terjadi saat ini, membuat Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara melakukan penyelidikan terhadap kelangkaan minyak goreng di setiap distributor di Kota Kendari.

Direktur Kriminal Khusus Polda Sultra Kombes Pol. Heri Tri Maryadi mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Surat Perintah Penyelidikan Nomor Sprin/32/II/2022/DitReskrimsus dan Nomor Sprin 32.a/II/2022/DitReskrimsus tanggal 1 Februari 2022.

Personel yang dipimpin Kasubdit I Indagsi Dit Reskrimsus Polda Sultra AKBP Yudhi Palmi Dj. melaksanakan tugas penyelidikan terkait dengan ketersediaan dan distribusi minyak goreng di wilayah hukum Polda Sultra.

Tim Satgas Pangan Polda Sultra tersebut mengecek langsung di gudang distributor minyak goreng, antara lain PT Tunas Bakti, PT Landipo Niaga Raya, PT Wira Eka, PT Wings, PT Inti Cakrawala Citra, dan Indogrosir Cabang Kendari pada hari Senin (21/2) lalu.

Kombes Pol. Heri menyebutkan di beberapa gudang dari kelima distributor besar tersebut terdapat stok minyak goreng yang kosong, seperti di gudang PT Tunas Bakti dan PT Wira Eka. Harga yang dijual untuk 1 liter minyak goreng bervariasi berkisar antara Rp13 ribu dan Rp15 ribu.

Ketika tim satgas melakukan pengecekan terhadap ketersediaan dan distribusi minyak goreng di Pasar Anduonohu, dia mengatakan bahwa para pedagang menjual dengan harga Rp20 ribu per liter.

Menurut dia, saat ini yang menjadi kendala dan hambatan penyebab kelangkaan minyak goreng adalah keterlambatan pendistribusian dari pusat (pabrik) ke distributor dan jarak tempuh distribusi dari Pulau Jawa, yakni Kota Surabaya ke Kota Kendari, Sulawesi Tenggara yang membutuhkan waktu

Ia mengutarakan bahwa tidak adanya pengawasan dari distributor ke toko atau retail menyebabkan harga tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET). Saat ini beberapa toko atau swalayan mengalami kekurangan stok minyak goreng. Hal ini, kata dia, karena pengiriman dari distributor yang mengalami keterlambatan.

Tim Satgas Pangan Polda Sultra memandang perlu pengecekan secara berkala terhadap distributor-distributor yang ada di Kota Kendari serta melaksanakan operasi pasar dengan pihak-pihak terkait.

Konsumsi sewajarnya

Dengan kondisi yang terjadi saat ini terkait kelangkaan minyak goreng, masyarakat dituntut untuk lebih arif menyikapi situasi ini.

Wali Kota Kendari, Sulawesi Tenggara Sulkarnain Kadir meminta kepada seluruh masyarakat di daerah itu agar mengkonsumsi minyak goreng secara normal terkait kelangkaan komoditas itu yang saat ini terjadi.


"Saya sampaikan kepada masyarakat agar tidak perlu 'panic buying,' tetap saja mengkonsumsi secara normal. Kalau perlu lakukan penghematan supaya tidak mempersulit atau tidak menambah situasi yang rumit," kata Sulkarnain di Kendari, Minggu.

Wali Kota mengaku telah berkoordinasi ke Pemerintah Pusat untuk mengatasi kelangkaan minyak goreng, khususnya di daerah tersebut. Dengan koordinasi itu telah disiapkan stok minyak goreng.

Ia mengatakan, stok minyak goreng itu nantinya bakal disalurkan ke pasar-pasar dan toko-toko. Meski begitu Wali Kota tidak menyebut secara pasti berapa jumlah stok yang akan disalurkan.

Menurut Sulkarnain, jika masyarakat belanja minyak goreng secara normal dan sesuai kebutuhan maka stok minyak goreng masih mencukupi cukup.

Wali Kota menilai jika kebijakan pemerintah pusat untuk menetapkan standar harga terhadap minyak goreng sebenarnya dalam rangka melindungi konsumen.

Dalam hal ini melindungi masyarakat agar tidak tergantung secara mutlak oleh mekanisme pasar. Sebab jika dibiarkan mekanisme pasar berlangsung maka harganya akan terus melambung.

"Sebelum ada kebijakan penetapan harga minyak goreng Rp14 ribu per liter ini kan harganya sudah hampir Rp20 ribu, bahkan di beberapa tempat sudah mencapai Rp22 ribu," ujar Sulkarnain.

Meski begitu dia mengakui bahwa dalam penerapannya memang butuh proses untuk bisa sampai ke angka ideal itu.

Dengan kondisi yang terjadi yakni disparitas harga, lanjut Sulkarnain, maka akan ada spekulan yang bermain sehingga peran pemerintah bersama aparat keamanan melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap orang-orang yang mencoba mengambil manfaat sesaat pada kondisi seperti ini.

Wali Kota meminta agar masyarakat tidak khawatir dan tidak perlu berbelanja minyak goreng secara berlebihan atau di luar dari kebutuhan.

"Tidak usah khawatir, kita berusaha untuk menjaga ketersediaannya. Alhamdulillah sampai hari ini sebenarnya secara ketersediaan siap, hanya saja kita mengantisipasi ketika masyarakat melakukan panik buying," demikian Sulkarmain Kadir.

Sejauh ini, Pemerintah Kota Kendari, telah bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat agar tidak terjadi penimbunan minyak goreng, meskipun di pasar tradisional harga belum bisa mengikuti ketetapan pemerintah Rp14 ribu per liter.

Sidak Pasar

Sebelumnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Tenggara menemukan harga minyak goreng di pasar tradisional di Kota Kendari masih dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) oleh para pedagang.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra Sitti Saleha mengatakan hal ini ditemukan dalam pemantauan harga minyak goreng yang dilakukan di Pasar Basah Mandonga.

Terkait dengan kelangkaan minyak goreng dan harga mahal sekitar Rp20 ribuan. Ini sekarang di pasaran masih Rp20 ribuan per liter karena itu masih stok lama.

TPID Sultra yang terdiri dari Dinas Perdagangan, Bulog dan Bank Indonesia setempat melakukan pemantauan harga minyak goreng di pasar tradisional yang ada di Kota Kendari salah satunya di Pasar Basah Mandonga.

Dalam pemantauan tersebut, TPID masih menemukan harga minyak yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dia menyampaikan, para pedagang menjual dengan kisaran harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari harga Rp18 ribu per liter hingga Rp20 ribu per liter nya.

Kata Saleha, berdasarkan keterangan dari para pedagang minyak goreng yang dijual saat ini merupakan stok lama yang disesuaikan dengan harga di distributor sehingga harga jual nya masih tinggi di atas HET.

"Inilah langkah pemerintah terkait untuk mengantisipasi daripada harga minyak goreng agar bisa merata Rp14 ribu, kami bekerjasama dengan Bulog dan BI bagian dari TPID," ujar dia.

Deputi Bank Indonesia Sultra Taufik Ariesta berharap agar kelancaran distribusi minyak goreng di pasaran dapat terus terjaga guna mengantisipasi kelangkaan sehingga harga minyak kembali normal.

"Dengan distribusi yang lancar harapannya itu harga bisa langsung beralih sesuai dengan yang ditetapkan karena dengan harga yang lebih murah masyarakat dapat terbantu

TPID Sultra menegaskan bakal terus melakukan pemantauan serta pengawasan terhadap para distributor minyak yang ada guna menjaga stabilitas harga di pasaran.


Tutup izin usaha

Fenomena kelangkaan minyak goreng di Kota Kendari memantik reaksi keras dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari.

DPRD dengan tegas menyampaikan bakal melakukan pencabutan izin usaha terhadap mereka mencoba-coba melakukan penimbunan komoditas itu khususnya yang bersubsidi dari pemerintah pusat.

Ketua DPRD Kota Kendari Subhan mewanti-wanti oknum yang melakukan penimbunan minyak goreng. Pihaknya akan jatuhkan sanksi tegas kalau ada yang main-main dengan ketersediaan minyak goreng.

“Kita akan memberikan sanksi tegas berupa pencabutan izin usaha terhadap oknum yang melakukan penimbunan minyak tersebut," ucap Subhan.

Menurutnya, penimbunan minyak goreng bisa memberikan dampak besar terhadap masyarakat. Bukan hanya itu, penimbunan minyak ini juga adalah salah satu bentuk tindak kejahatan yang harus ditindak lanjuti.

Orang nomor satu di lingkup DPRD Kota Kendari ini mengaku, sudah berkoordinasi dengan Komisi II untuk turun langsung memantau ketersediaan minyak goreng di pasaran.

Menurut dia, kebutuhan minyak goreng tidak bisa ditunda karena menyangkut konsumsi setiap hari bahkan tidak hanya itu, kelangkaan komoditas itu juga akan berdampak kepada pelaku usaha apalagi menjelang bulan Suci Ramadhan.


Pasokan 33.480 liter

Kabar baik akan menyelimuti warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara terkait fenomena kelangkaan minyak goreng yang saat ini menjadi permasalahan.

Dimana Kota Kendari bakal menerima pasokan 33.480 liter minyak goreng dari pemerintah pusat pada awal Maret 2022 untuk mengatasi kelangkaan di pasar setempat.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Kendari Ambo Aco Palinrungi mengharapkan kedatangan minyak goreng tersebut bisa mengatasi kelangkaan yang saat ini masih terjadi.

"Pemerintah pusat bakal mengirimkan pasokan minyak goreng ke Kota Kendari sebanyak 33.480 liter," katanya.

Dia menyampaikan pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI bekerja sama dengan pabrik minyak goreng akan mengirim 33.480 liter ke Kota Kendari.

Ambo menjelaskan puluhan ribu minyak goreng tersebut nantinya bakal di salurkan ke distributor yang ada di daerah tersebut yaitu PT Surapandang Kendari.

Menurut dia, kelangkaan minyak goreng di Kota Kendari terjadi bukan karena adanya orang tidak bertanggung jawab melakukan penimbunan tetapi memang akibat kekosongan stok.

"Kelangkaan minyak goreng baik di ritel-ritel modern maupun di pasar tradisional di Kendari lebih disebabkan stok minyak goreng di tingkat distributor kosong," ujar dia.

Ia berharap masyarakat agar tidak panik dengan kelangkaan minyak goreng karena kebutuhan minyak goreng di Kota Kendari segera terpenuhi dalam sepekan ke depan.

Kelangkaan komoditas ini harus menjadi perhatian semua pihak sehingga kondisi ini tidak terjadi dalam jangka panjang, apalagi dalam waktu dekat kita akan menghadapi bulan puasa suci Ramadhan.
 

Pewarta : Muhammad Harianto
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024