Jayapura (ANTARA) - Provinsi Papua pertama kali dalam sejarah sejak lahirnya Republik Indonesia menjadi tuan rumah gelaran multi-event olahraga kelas nasional dengan hadirnya Pekan Olahraga Nasional (PON) XX dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI.

Menjadi tuan rumah dua kejuaraan tersebut merupakan idam-idamkan banyak provinsi dan Papua telah menunjukkan jika semuanya bisa dilaksanakan dengan lancar sesuai dengan harapan.

Meski pada akhirnya berjalan mulus dan sukses, sempat ada kekhawatiran karena isu gangguan keamanan yang sering muncul sehingga membuat kewaspadaan ditingkatkan.



Dengan suksesnya penyelenggaraan kedua event besar empat tahunan, PON XX dan Peparnas XVI bisa menepis soal isu keamanan yang sempat mencuat sebelum kejuaraan ini digelar.

PON Papua sendiri sukses berlangsung pada 3 hingga 15 Oktober lalu. Setelah itu disusul pelaksanaan kejuaraan khusus untuk atlet disabilitas yakni Peparnas pada 5-13 November.

Peparnas dibuka oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Stadion Mandala, Jayapura pada 5 November. Pembukaan sendiri berlangsung sukses dan meriah.

Ada dua belas cabang olahraga dipertandingkan sejak 5 hingga 13 November dan semuanya berhasil digelar dengan lancar dan aman. Berbeda dengan PON yang digelar di empat kluster, Peparnas hanya di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Penutupan Peparnas Papua sendiri digelar di Stadion Mandala, Jayapura, Sabtu dan ditutup oleh Presiden Joko Widodo yang pada pembukaan absen karena harus menjalani karantina sepulang dari lawatannya ke luar negeri.




Pandangan peserta

Kesuksesan ini juga turut diamini oleh beberapa atlet, pelatih dan perangkat pertandingan yang hadir di Papua. Mereka datang dari penjuru Tanah Air Indonesia. 

Pada cabang sepak bola CP, pelatih tim Jawa Barat, Dadang Kurnia dan pelatih tim Kalimantan Selatan, Berni Munkar mengucapkan hal yang positif soal Papua serta penduduknya.

Dadang Kurnia mengaku dirinya salut dan mengakui jika masyarakat Papua hebat karena bisa menepis kabar yang menyebutkan Papua adalah daerah genting yang rawan oleh isu keamanan.

"Saya sangat salut, hebatlah. Di ingatan saya Papua itu genting, ternyata ramah, luar biasa, di hotel maupun di luar. Hebat, salut," kata Dadang Kurnia.



Hampir senada dengan Dadang, Berni Munkar mengatakan masyarakat Papua luar biasa dan pihaknya maupun kontingen lain mendapatkan sambutan yang baik dari warga sekitar.

Ia juga menambahkan rumor-rumor yang berkembang soal Papua tidak benar karena sempat merasakan pengalaman datang ke Bumi Cenderawasih.

"Secara keseluruhan ya, masyarakat di Papua sangat luar biasa. Mereka menerima kami dengan senang hati, artinya rumor-rumor yang ada itu tidak betul. Kami merasakan datang dan dengan santunnya mereka menerima kami," jelas Berni di Stadion Mahacandra UNCEN, Jayapura, Jumat.

Selain dari cabang olahraga sepak bola CP, anggapan serupa juga muncul dari atlet angkat berat asal Sumatera Utara, Tambi Sibarani yang berhasil memecahkan rekor nasional di gelaran Peparnas kali ini.

Tambi Sibarani yang berhasil meraih medali emas Peparnas cabang olahraga angkat berat kelas 80kg putra itu menjelaskan ia memang sempat penasaran dengan keadaan Papua.

Dirinya mengaku ketika sampai di Papua, ia mendapatkan sambutan yang ramah dari masyarakat setempat dan menilai kabar tidak amannya daerah ini tidak benar karena sudah membuktikannya sendiri.

"Sebenarnya saya sudah penasaran dengan Papua, bagaimana kondisinya, orang-orangnya ramah ternyata. Lumayan bisa dikenang karena orangnya ramah dan baik-baik," ungkap Tambi.

Selain pelatih dan atlet, salah satu technical delegatee sepak bola CP Pomo Warih Adi mengatakan Papua tidak seperti yang kerap media katakan.

Pomo menjelaskan dirinya sudah kurang lebih tiga pekan di Papua dan ia merasakan kenyamanan selama berada di Bumi Cenderawasih serta senang bisa bekerja sama dengan warga sekitar.

"Saya di sini hampir dua atau tiga pekan. Tapi selama tiga pekan itu saya merasakan kenyamanan. Mereka sangat bersahabat dan mau bekerja sama. Itu yang membuat saya nyaman berada di Papua ini," tegas Pomo




Papua juara

Sebagai tuan rumah, Papua berusaha memberikan yang terbaik bagi tamunya. Sarana dan prasarana pendukung kejuaraan khusus disabilitas dibangun sesuai dengan kebutuhan meski tidak semuanya sempurna.

Begitu juga dengan persiapan atlet. Tuan rumah Papua menunjukkan tekadnya untuk menjadi yang terbaik dan hal tersebut dibuktikan dengan raihan medali emas tertinggi dibandingkan peserta Peparnas lainnya.

"Gubernur Lukas Enembe meminta kepada seluruh atlet dan ofisial Kontingen Papua untuk menggenggam erat kemenangan ini dan menghargai setiap butir keringat yang telah tumpah, karena mempertahankan tidak semudah mendapatkan," kata Juru Bicara Gubernur Papua Muhammad Rifai Darus.

"Teruslah menabur kasih, ciptakan rasa damai, dan bergeraklah maju untuk mewujudkan Papua Bangkit, Mandiri dan Sejahtera yang Berkeadilan," katanya menambahkan.

Pada gelaran Peparnas Papua, tuan rumah sukses memastikan diri menjadi juara umum setelah mengumpulkan total 306 medali dengan rincian 127 medali emas, 86 medali perak dan 93 medali perunggu.

Selanjutnya di posisi kedua, ada provinsi Jawa Barat yang berhasil mengumpulkan 277 medali dengan rincian 110 medali emas, 92 medali perak dan 75 medali perunggu.

Peringkat ketiga diisi oleh kontingen Jawa Tengah yang sukses mengumpulkan 225 medali dengan rincian 89 medali emas, 60 medali perak dan 76 medali perunggu.

Selain berhasil menjadi juara umum kompetisi, Papua juga tercatat berhasil menjadi juara umum dari beberapa cabang olahraga yang dipertandingkan.

Pada cabang olahraga sepak bola CP, Papua berhasil menjadi juara dan meraih medali emas setelah menang WO melawan Kalimantan Selatan dengan skor 5-1 (2-1) di partai final, Jumat.

Selain di sepak bola CP, Papua juga berhasil menjadi juara umum di cabang olahraga judo tunanetra dengan mengumpulkan 11 medali emas, 3 medali perak dan 7 medali perunggu.

 

Pewarta : Aldi Sultan
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024