Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis anak Rini Sekartini membagikan tips kepada orang tua untuk menangani alergi kandungan makanan atau pun minuman pada anak agar anak tetap aman dan tidak lagi mengalami kondisi serupa.

“Orang tua harus mengidentifikasi,sebenarnya anak itu alerginya apa sih? Kalau dia alergi susu sapi pada saat bayi, dia bisa minum susu soya. Nah setelah menginjak satu tahun boleh kita kenalkan dengan kandungan susu,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta itu dalam webinar, Sabtu.

Langkah serupa juga bisa dilakukan pada anak yang mengalami alergi kandungan bahan makanan tertentu.
 

Sebagai contoh anak yang alergi pada boga bahari atau seafood, ada baiknya konsumsi seafood tidak diberikan selama satu tahun kepada anak setelah mengalami alergi.

Namun setelah lewat satu tahun anak boleh mulai mencoba sedikit- sedikit makanan laut untuk membiasakan diri didampingi dengan observasi pada anak.

Jika ternyata kondisi alergi masih muncul, orang tua bisa mencari alternatif lain.

Seperti misalnya makanan laut yang kaya protein bisa diganti dengan bahan makanan lainnya yang mengandung protein seperti ayam atau sapi.

“Kalau misalnya alergi itu biasanya tidak alergi secara keseluruhan. Misalnya untuk protein itu makanan laut dia alergi, tapi bisa diganti oleh ayam atau sapi. Tapi sambil dilakukan observasi, biasanya alergi itu timbul gatal, batuk- batuk, bentol- bentol, itu yang perlu diobservasi,” kata dokter Rini.

Ada pun reaksi alergi pada anak sama halnya seperti orang dewasa timbul karena adanya alergen dan antibodi pun meresponnya sehingga munculah tanda- tanda alergi seperti bentol, gatal, bersin- bersin, hingga batuk- batuk.

Umumnya pada anak, alergi didominasi dari faktor genetik dan berasal dari dua faktor makanan dan yang bukan makanan.

Beberapa makanan yang umumnya menjadi alergen pada anak di antaranya seperti susu sapi, ikan atau seafood, telur, dan kacang.

Sementara dari faktor bukan makanan seperti tungau, debu, bulu hewan, serbuk sari, atau pun zat kimia seperti sabun.
 


Pewarta : Livia Kristianti
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024