Tanggerang (ANTARA) - Masyarakat Indonesia semakin meminati mobil hibrid seiring dengan pengetahuan dan makin banyaknya pilihan kendaraan jenis tersebut, sehingga berdampak pada penjualan mobil hibrid Toyota yang tumbuh pesat.

"Pada tahun 2017 rata-rata penjualan mobil hibrid Toyota hanya 14 unit per bulan, tapi tahun ini tumbuh pesat," kata Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy pada Electrification-Day di sela-sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di Tangerang, Banten, Jumat.

Pada Januari-Juni 2019, lanjut dia, penjualan kendaraan hibrid Toyota Grup, termasuk Lexus, rata-rata telah menembus 68 unit per bulan.

Sejak pertama kali memperkenalkan kendaraan hibrid di Indonesia lewat sedan Toyota Prius pada tahun 2009, hingga memasarkan model mobil hibrid lainnya seperti Toyota Alphard Hybrid, Toyota Camry Hybrid, Lexus LS600h, hingga terbaru Toyota C-HR Hybrid, TAM telah menjual sekitar 2.000 mobil bertenaga gasoline dan baterai listrik itu.

Penjualan mobil hibrid Toyota diyakininya bakal meningkat seiring dengan makin banyaknya varian hibrid yang dipasarkan Toyota dan edukasi serta meluasnya pemahaman konsumen tentang keunggulan mobil hibrid.

"Ada lima kelebihan (mobil) hibrid yang bisa menjadi pertimbangan konsumen di Indonesia," kata Anton pada Electrification-Day di sela-sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di Tangerang itu.

Pertama, kata dia, konsumsi bahan bakarnya jauh irit dibandingkan mobil konvensional biasa.

Anton mencontohkan untuk dua model yang memiliki varian hibrid seperti Toyota Camry dan C-HR. Untuk konsumsi BBM sedan Camry biasa mencapai 13,1km/liter, sedangkan Camry hibrid konsumsi BBM-nya menembus 22,3 km/liter.

Sementara konsumsi BBM untuk C-HR biasa sebesar 12,3 km/liter dan C-HR hibrid mencapai 20,8 km/liter.

Kedua, emisi gas buang mobil hibrid sangat rendah, sehingga ramah lingkungan. Ia mencontohkan untuk C-HR bermesin konvensional emisi karbonnya 150 gram/km dan C-HR hibrid hanya 95 gram/km.

Demikian pula dengan Camry konvensional, lebih besar emisi gas buangnya dibanding Camry hibrid, masing-masing 148 gram/km dan 92 gram/km.

"Jadi teknologi hibrid bisa membuat penggunaan bahan bakar lebih efisien dan lebih ramah lingkungan," kata Anton.

Ketiga, keempat, dan kelima, yang belum banyak diketahui oleh konsumen pengguna mobil di Indonesia, menurut Anton, adalah mobil hibrid lebih menyenangkan untuk dikemudikan.

Baca juga: Wapres sambangi anjungan Toyota, langsung lirik Yaris Sport

"Fun to drivenya juga jauh lebih baik, akselerasinya lebih cepat. Kenyamanannya juga bertambah karena lebih hening," kata Anton.

Yang juga tidak perlu dikhawatirkan, lanjut dia, biaya perawatan mobil hibrid tidak mahal, atau hampir sama dengan mobil konvensional.

Ia kembali mencontohkan Camry konvensional dan hibrid yang total biaya perawatan periodik selama 5 tahun masing-masing hanya Rp3,611 juta dan Rp3,758 juta per unit. Sedangkan C-HR konvensional dan hibrid masing-masing Rp3,333 juta dan Rp3,54 juta per unit.

"Memang butuh waktu bagi masyarakat Indonesia mengetahui lebih banyak tentang (keunggulan) mobil hibrid ini," kata Direktur Pemasaran TAM lainnya Kazunori Minamide.

Oleh karena itulah, pihaknya akan intensif melakukan sosialisasi dan edukasi mobil hibrid.

Baca juga: Toyota tarik 60.000 Rush karena airbag bermasalah
Baca juga: Toyota New Hilux Single Cabin Diesel pakai mesin baru
Baca juga: Toyota posisi teratas dalam uji keselamatan ASEAN NCAP
 

Pewarta : Risbiani Fardaniah
Editor : M Sharif Santiago
Copyright © ANTARA 2024