Kendari, Antara Sultra - Badan Pusat statistik (BPS) Sulawesi Tenggara merilis penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Sultra pada September 2016 hingga Maret 2017 naik menjadi 4.024 orang.

Kepala BPS Sultra Aqto Mardiyanto di Kendari, Senin mengatakan penduduk miskin pada September 2016 sebanyak 327,29 ribu orang atau 12,77 persen dari jumlah penduduk Sultra, sedangkan pada Maret 2017 menjadi 331,71 ribu orang atau 12,81 persen.

"Akan tetapi bia dihitung berdasarkan pendapatan per kapita per orang justru naik, dimana angka garis kemiskinan pada Maret 2017 mencapai Rp285.609 atau naik 1,22 persen dibanding dengan angka garis kemiskinan pada September 2016 yang hanya Rp282.161 per kapita per orang," ujarnya.

Aqto menambahkan, adapun metode penghitungan garis kemiskinan yakni ada beberapa kriteria yang dilakukan mulai dari konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, kepala keluarga perkapita per hari hingga jenis komoditas yang jumlahnya ada antara 51 jenis komoditi di kota dan 47 jenis komoditas yang ada di perdesaan.

"Di Sultra, jumlah sampel yang dilakukan sebanyak 6.160 rumah tangga yang tersebar di 17 kabupaten kota se-Sulawesi Tenggara," ujaranya.

Dengan demikian, kata Aqto indeks kedalaman kemiskinan atau biasa disebut (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menurun.

Dimana, selama periode September 2016 - Maret 2017 turun dari 1,98 menjadi 1,86. Penurunan nilai indeks mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin mendekati garis kemiskinan.

Sedangkan P2, selama periode yang sama juga turun 0,46 menjadi 0,44, penurunan nilai indeks mengindikasikan bahwa ketimpangan pengeluaran penduduk miskin semakin mengecil.

Pewarta : Azis Senong
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024