Syafii: Gunakan pendekatan psikoantropologi hadapi persoalan Papua

id Syafii Maarif,papua,pendekatan psikoantropologi

Buya Syafii Ma'arif (ANTARA / Mario Sofia Nasution)

Padang, (ANTARA) - Buya Syafii Ma'arif mengatakan pemerintah harus melakukan pendekatan psikoantropologi untuk menghadapi persoalan di Papua.

"Ini yang kurang dilakukan pemerintah selama ini terhadap Papua," kata dia saat peresmian gedung Pesantren Modern Terpadu Prof Hamka di Padang, Selasa.

Baca juga: Papua Terkini - Pemerintah bisa gunakan gereja berdialog

Baca juga: Papua Terkini - PGI harapkan tercipta kedamaian bagi masyakat Papua

Baca juga: Komnas HAM Papua dukung penegakkan hukum kepada pelaku anarkis

Baca juga: JK: penanganan konflik di Aceh dan Papua berbeda meski sama-sama otsus


Menurut dia pendekatan psikoantropologi itu adalah pemerintah harus memahami betul bagaimana masyarakat Papua itu.

Mulai dari bagaimana orangnya, tipe orangnya, kemudian asal usulnya, pendidikannya dan lainnya.

Ia menilai selain pendekatan sosial ekonomi yang telah dilakukan, pendekatan psikoantropologi ini juga harus dilakukan.

"Bagaimanapun kondisinya kita harus menyelamatkan Papua," kata dia.

Selain itu, dirinya mengajak baik pemerintah maupun masyarakat Papua untuk meningkatkan kearifan nasional.

Pemerintah juga harus paham bahwa Papua ini bergabung dengan Indonesia bukan sejak 1945 namun belakangan sehingga harus ada berbagai pendekatan yang dilakukan

Terkait ada dugaan pihak yang menunggangi aksi di Papua, ia menilai itu sebuah kewajaran, namun yang terpenting bangsa ini harus kuat dari dalam.

"Ada yang menunggangi kerusuhan itu hal biasa, mereka berusaha mengobok-obok dan selama kita kuat dan belum lumpuh tentu itu dapat diselesaikan," katanya.

Selain itu wacana referendum yang dimunculkan, ia mengatakan referendum yang diinginkan oleh pihak tersebut.

"Hal ini tentu tergantung kesepakatan antara Jakarta dengan Papua namun yang jelas kita harus selamatkan mereka," katanya.

Pewarta : Mario Sofia Nasution
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar