Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo mengatakan adaptif, solutif hingga kolaboratif menjadi kunci menavigasi perubahan bisnis dalam transportasi kereta api demi memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

“KAI tidak hanya beradaptasi, tapi juga bertransformasi secara menyeluruh. Kami berinovasi secara berkelanjutan, memberikan solusi yang dibutuhkan pelanggan, dan menjalin kolaborasi lintas sektor,” kata Didiek saat menjadi pembicara pada forum tahunan Grab Business Forum 2025 bertema “Beyond Bolder: Navigating Changes, Driving Growth” di Jakarta, Kamis.

Dalam sesi diskusi panel bersama sejumlah pemimpin industri nasional, Didiek membagikan strategi KAI dalam menyikapi perubahan lingkungan bisnis yang cepat, menegaskan bahwa KAI terus memperkuat posisinya sebagai perusahaan transportasi publik yang adaptif, solutif, dan kolaboratif.

Menurut Didiek, perubahan kebijakan dan dinamika ekonomi harus direspon dengan ketanggapan institusional yang cepat serta inovasi yang relevan.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa profil pelanggan KAI kini semakin didominasi generasi muda, terutama Gen Z yang menghendaki layanan yang serba cepat, mudah, dan digital.

Hal itu mendorong KAI untuk mengembangkan layanan berbasis teknologi terkini, seperti integrasi aplikasi Access by KAI dengan PeduliLindungi pada saat COVID-19, lalu ada implementasi teknologi pemindai wajah (face recognition) di boarding gate stasiun.

“Kini pelanggan cukup memindai wajah, tanpa perlu mencetak tiket atau antre panjang. Prosesnya cepat dan aman karena sesuai standar ISO 27001,” jelas Didiek.

Ia juga menekankan bahwa pandemi telah menjadi momen penting yang membentuk daya tahan KAI. Pengalaman 2020–2021 memberikan pelajaran untuk bergerak cepat, berpikir jangka panjang, dan mengandalkan digitalisasi sebagai tulang punggung efisiensi.

“Kami tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh. Ketahanan dan semangat beradaptasi itulah yang kini memperkuat pondasi bisnis KAI,” tambahnya.

Kinerja KAI selama masa Angkutan Lebaran 2025 menjadi salah satu refleksi keberhasilan transformasi tersebut. Volume pelanggan meningkat dari 4,4 juta pada 2024 menjadi 4,7 juta pada 2025. Tingkat ketepatan waktu keberangkatan pun mencapai 99,69 persen dan kedatangan 97,23 persen, meningkat dari tahun sebelumnya.

KAI juga terus memperluas kapabilitas bisnis logistik, terutama di sektor angkutan batu bara.

Didiek menyebut KAI tengah merealisasikan investasi hampir Rp30 triliun di wilayah Sumatera Bagian Selatan sebagai upaya memperkuat peran perusahaan dalam sistem logistik batu bara untuk ketahanan energi nasional.

Grab Business Forum 2025 menjadi wadah strategis untuk mendiskusikan arah kolaborasi lintas sektor guna mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dirut KAI: Adaptif hingga kolaboratif kunci navigasi perubahan bisnis