Pemerhati kesehatan: ASI dan imunisasi saling melengkapi
Selasa, 9 Januari 2024 9:04 WIB
Tangkapan layar - Dokter sekaligus pemerhati kesehatan Reisa Broto Asmoro dalam diskusi tentang ASI dan imunisasi yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (9/1/2024). (ANTARA/Sean Muhamad)
Jakarta (ANTARA) - Dokter sekaligus pemerhati kesehatan Reisa Broto Asmoro menyebutkan air susu ibu (ASI) dan imunisasi adalah dua hal yang tidak bisa saling menggantikan, karena kedua hal tersebut merupakan penguat satu sama lain.
"Tidak tepat anggapan bahwa ASI saja cukup. ASI ini penting, tetapi ASI dan imunisasi saling menunjang, tidak bisa saling menggantikan," katanya dalam diskusi tentang ASI dan imunisasi yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.
Reisa menjelaskan keduanya tidak bisa saling menggantikan, karena ASI memberikan perlindungan secara umum, sedangkan imunisasi memberikan perlindungan secara khusus terhadap penyakit atau masalah kesehatan tertentu.
"Makanya ada berbagai jenis vaksin, karena per penyakit vaksinnya satu. Tidak bisa digantikan dengan sesuatu yang sifatnya general," katanya.
Reisa mengungkapkan vaksin bekerja secara spesifik untuk melindungi penyakit tertentu, dengan cara merangsang tubuh untuk menciptakan antibodi khusus yang dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap penyakit tertentu.
Menurut dia, imunisasi pada anak dapat membantu anak untuk lebih kebal terhadap penyakit tertentu, yang dapat mempengaruhi status kesehatan hingga produktivitas baik bagi anak maupun keluarganya.
"Keduanya harus dilengkapi. ASI bagus sekali, terutama ASI eksklusif untuk anak, tetapi imunisasi juga memberikan perlindungan lebih baik lagi untuk penyakit spesifik berbahaya," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Prima Yosephine menyebutkan Imunisasi Rutin Lengkap kepada anak merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencegah anak dari kematian dan kesakitan yang diakibatkan oleh infeksi virus.
Pemerintah telah menyediakan 14 jenis antigen imunisasi gratis untuk berbagai macam penyakit untuk dimanfaatkan masyarakat, di antaranya pneumonia yang dapat dicegah dengan imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine), diare dengan imunisasi RV (Rotavirus), dan kanker leher rahim yang dapat dicegah melalui imunisasi HPV.
"Kenapa kita harus repot menambah jenis vaksin? Tadinya 11 antigen sekarang 14 antigen imunisasi nasional. Salah satunya karena kita tahu sebagian besar kematian bayi dan balita kita disebabkan pneumonia dan diare yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksin," tutur Prima Yosephine.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dokter: ASI dan imunisasi saling melengkapi
"Tidak tepat anggapan bahwa ASI saja cukup. ASI ini penting, tetapi ASI dan imunisasi saling menunjang, tidak bisa saling menggantikan," katanya dalam diskusi tentang ASI dan imunisasi yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.
Reisa menjelaskan keduanya tidak bisa saling menggantikan, karena ASI memberikan perlindungan secara umum, sedangkan imunisasi memberikan perlindungan secara khusus terhadap penyakit atau masalah kesehatan tertentu.
"Makanya ada berbagai jenis vaksin, karena per penyakit vaksinnya satu. Tidak bisa digantikan dengan sesuatu yang sifatnya general," katanya.
Reisa mengungkapkan vaksin bekerja secara spesifik untuk melindungi penyakit tertentu, dengan cara merangsang tubuh untuk menciptakan antibodi khusus yang dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap penyakit tertentu.
Menurut dia, imunisasi pada anak dapat membantu anak untuk lebih kebal terhadap penyakit tertentu, yang dapat mempengaruhi status kesehatan hingga produktivitas baik bagi anak maupun keluarganya.
"Keduanya harus dilengkapi. ASI bagus sekali, terutama ASI eksklusif untuk anak, tetapi imunisasi juga memberikan perlindungan lebih baik lagi untuk penyakit spesifik berbahaya," ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Prima Yosephine menyebutkan Imunisasi Rutin Lengkap kepada anak merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencegah anak dari kematian dan kesakitan yang diakibatkan oleh infeksi virus.
Pemerintah telah menyediakan 14 jenis antigen imunisasi gratis untuk berbagai macam penyakit untuk dimanfaatkan masyarakat, di antaranya pneumonia yang dapat dicegah dengan imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine), diare dengan imunisasi RV (Rotavirus), dan kanker leher rahim yang dapat dicegah melalui imunisasi HPV.
"Kenapa kita harus repot menambah jenis vaksin? Tadinya 11 antigen sekarang 14 antigen imunisasi nasional. Salah satunya karena kita tahu sebagian besar kematian bayi dan balita kita disebabkan pneumonia dan diare yang seharusnya bisa dicegah dengan vaksin," tutur Prima Yosephine.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dokter: ASI dan imunisasi saling melengkapi
Pewarta : Sean Muhamad
Editor : Zabur Karuru
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dokter anak: kondisi tertentu susu formula dapat menjadi pengganti ASI
25 October 2024 7:24 WIB, 2024
TNI-AD mengajak BKKBN mendiskusikan pelatihan konselor manajemen laktasi
15 July 2023 18:56 WIB, 2023
Cegah stunting pada anak, BKKBN gencarkan sosialisasi pemberian ASI
12 December 2022 13:41 WIB, 2022
Dokter sebut Ibu tak perlu khawatir jika ASI tak keluar usai persalinan
01 August 2022 19:22 WIB, 2022
Terpopuler - Humaniora
Lihat Juga
IPIP tangani lima karhutla sepanjang Agustus 2026, terus perkuat kesiapsiagaan lintas sektor
05 September 2026 13:31 WIB
LKBN ANTARA latih mahasiswa di Kendari teknik penulisan standar kantor berita
04 September 2026 22:10 WIB
LKBN ANTARA beri literasi media mahasiswa UHO Kendari guna hadapi era digital
03 September 2026 15:56 WIB