Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut sampai saat ini hilirisasi nikel menjadi paling pesat perkembangannya dalam program hilirisasi industri pertambangan.

"Jadi, kalau kita lihat memang yang paling pesat perkembangannya adalah hilirisasi di nikel di mana sudah lebih dari 100 smelter (industri pengolahan dan pemurnian) yang ada yang mengarah kepada industri besi baja dengan produk nickel pig iron dan feronikel," ungkap Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif dalam webinar yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9 dipantau secara daring, Senin.

Ia mengatakan dari hilirisasi nikel juga sudah ada empat smelter yang mengarah kepada industri baterai. "Kemudian sudah ada empat dan mungkin menyusul belasan smelter yang akan mengarah ke baterai," kata dia.

Selain hilirisasi nikel, ia juga mengatakan saat ini hilirisasi bauksit juga sedang berkembang yang mengarah kepada alumina dan aluminium

"Jadi, dari industri bauksit ini ada empat perusahaan sudah menghasilkan dari biji bauksit ke alumina. Kemudian ada beberapa, dari satu sudah eksis yang menghasilkan dari alumina ke aluminium dan satu lagi akan berkembang di Kalimantan Utara untuk menghasilkan aluminium," ucap Irwandy.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan produk komoditas pertambangan lainnya yang sedang berkembang hilirisasinya adalah tembaga. Saat ini, kata Irwandy, sudah ada tiga perusahaan yang mengembangkan hilirisasi industri tembaga, yaitu PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, dan PT Merdeka Copper Gold.

"Yang akan membangun pasti sudah berjalan itu ada dua, yaitu smelter yang ada di Gresik (Jawa Timur) milik PT Freeport dan smelter PT Amman di Nusa Tenggara Barat," kata dia.

Lebih lanjut, Irwandy menyatakan perkembangan hilirisasi tersebut memang cukup pesat. Namun, kata dia, juga perlu dorongan pemerintah untuk industri yang sedang membangun smelter.

"Perkembangannya cukup cepat tetapi perlu dorongan pemerintah untuk mereka-mereka yang sedang membangun smelter," ujar Irwandy.

Ia pun mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi oleh industri yang ingin mendirikan smelter. "Kalau dari hasil pengamatan kami berinteraksi dengan industri, industri akan mendirikan smelter itu kami bisa kelompokkan menjadi yang pertama halangannya adalah pendanaan," kata dia,

Kemudian kedua, masalah pasokan energi listrik ke smelter. "Yang ketiga adalah pembebasan tanah dan yang keempat adalah masalah perizinan," kata Irwandy.

Adapun, ucap dia, upaya pemerintah untuk mengatasi beberapa kendala itu, salah satunya melakukan pertemuan komprehensif dengan pihak industri.

"Jadi, upaya-upaya pemerintah untuk mengatasi ini, misalnya dari Kementerian ESDM sudah pernah melakukan satu pertemuan yang komprehensif antara industri yang mengalami kesulitan dengan bank dan juga dengan PLN langsung. Menjembatani bagaimana supaya mereka bisa mendapatkan akses yang lebih mudah. Kemudian juga dengan masalah pasokan energi sudah ada komitmen juga dari PLN yang akan membantu mereka," tuturnya.


 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kementerian ESDM sebut hilirisasi nikel paling pesat perkembangannya

Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024