Jakarta (ANTARA) - Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, hasil survei RAAB (Rapid Assessment of Avoidable Blindness) tahun 2014-2015, katarak menjadi penyebab kebutaan tertinggi di 15 provinsi di Indonesia.

"Hasil survei RAAB tahun 2014-2015, di Indonesia ada 15 provinsi menunjukkan angka kebutaan lebih dari tiga persen dengan penyebab kebutaan tertinggi adalah katarak," ucapnya dalam webinar “Mata Sehat Era Digital” dalam rangka Hari Penglihatan Sedunia 2022, yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Gangguan penglihatan lainnya seperti glaukoma dan retinopati diabetikum ikut meningkat seiring meningkatnya kasus diabetes. Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan satu dari tiga penderita diabetes beresiko terkena retinopati diabetikum.

"Di sisi lain angka refraksi terus meningkat. Diperkirakan saat ini usia 10 sampai 14 tahun terdapat 3,6 juta yang mengalami kelainan refraksi. 2,7 juta atau 25 persennya belum dikoreksi dengan kacamata," ucap Maxi.

Maxi juga menjelaskan pergeseran pola penyakit menjadi kelompok penyakit tidak menular (PTM) juga didasari dari gaya hidup seperti konsumsi alkohol, makanan cepat saji dan merokok. Hal itu mengakibatkan obesitas secara tinggi yang akhirnya berdampak pada kesehatan mata.

"Berdasarkan hal tersebut diperkirakan jumlah penduduk berusia di atas 18 tahun, diabetes mencapai 422 orang dan sejak tahun 2014 data menunjukkan bahwa memang diabetes itu meningkat terus," ucapnya.

Melalui peringatan Hari Penglihatan Sedunia, yang secara nasional mengambil tema 'Mata Sehat Milik Kita' ini, sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengendalikan gangguan penglihatan serta kebutaan dengan menggunakan pendekatan community base

Ia berharap  masyarakat mau memeriksakan kesehatan matanya dengan sasaran rentan adalah anak sekolah dan orang tua serta orang-orang dengan diabetes.

"Hari kesehatan mata ini difokuskan yang pertama adalah untuk kesehatan mata mulai dari mencintai mata sendiri, kedua katarak atau kelainan refraksi menjadi fokus utama penanggulangan gangguan penglihatan, sesuai target Global Eye Health 2030," ucap Maxi.

Maxi mengakui tantangan yang dihadapi di era pandemi menjadikan penggunaan teknologi dan informasi tidak bisa dilepaskan dari kegiatan sehari-hari. Ia berharap tenaga kesehatan bisa memberikan penyuluhan yang baik kepada masyarakat agar tahu pentingnya menjaga kesehatan mata

"Saya berharap upaya pengendalian gangguan penglihatan terus dilakukan mulai dari deteksi dini, jika ada gangguan segera ditangani secara dini mungkin bisa terhindar dari risiko yang dapat memperparah kondisinya dan berakibat pada kebutaan," tutupnya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenkes: Penyebab kebutaan tertinggi di Indonesia adalah katarak

Pewarta : Fitra Ashari
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024