Jakarta (ANTARA) - Survei New Indonesia Research & Consulting menunjukkan tingkat kepuasan publik kepada Presiden Jokowi beranjak naik dari angka di bawah 60 persen menjadi 64,5 persen saat pandemi COVID-19 di Indonesia mulai reda.

"COVID-19 reda dan Indonesia makin dipercaya dunia, tingkat kepuasan terhadap Jokowi naik," kata Direktur Eksekutif New Indonesia Research & Consulting Andreas Nuryono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, naiknya tingkat kepuasan menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian COVID-19 yang dipilih pemerintah efektif dalam menekan lonjakan kasus serta berdampak pada pelonggaran kegiatan ekonomi masyarakat.

Sebagaimana diketahui, pandemi COVID-19 di Indonesia mulai reda. Jika sebelumnya dampak dari penyebaran varian delta memicu gelombang kedua pada bulan Juli—Agustus 2021, kini penambahan kasus positif harian secara nasional sudah turun jauh.

Pada puncaknya, lonjakan kasus COVID-19 mencapai kisaran 50.000 dan kematian 2.000 orang per hari. Fasilitas kesehatan nyaris kolaps, ICU tidak mampu lagi menampung pasien yang membeludak hingga terjadinya kelangkaan pasokan oksigen.

Berdasarkan kondisi tersebut, Pemerintah merespons dengan menerapkan PPKM darurat, kemudian berubah menjadi PPKM level satu hingga empat. Hal itu berdampak pada kegiatan ekonomi yang mesti terhenti atau beroperasi secara terbatas.

Situasi pandemi berangsur membaik dengan pemulihan yang cepat dibandingkan dengan negara-negara tetangga, termasuk pula dilakukannya pelonggaran atas pembatasan dengan banyaknya daerah telah berada pada PPKM level dua dan tiga, bahkan pada level satu.

Sejalan dengan itu, Indonesia juga dipercaya dunia dengan memimpin presidensi G20 dalam KTT di Roma, Italia. Presiden Jokowi juga secara khusus terbang ke Eropa untuk menghadiri konferensi perubahan iklim di Glasgow, Inggris Raya.

Andreas menilai tampilnya Jokowi di forum internasional sejatinya turut memperbesar angka kepuasan publik. Apalagi, selama ini Jokowi kerap absen dan lebih banyak berkutat dengan urusan domestik. Dengan kata lain, hanya menunjuk jajaran pejabat tinggi untuk menggantikannya.

"Posisi Indonesia yang memegang presidensi G20 harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, termasuk untuk menggerakkan perekonomian nasional," ujar Andreas.

Meskipun demikian, dia berharap Pemerintah tidak abai terhadap kemungkinan munculnya gelombang ketiga COVID-19 pada liburan Natal dan tahun baru. Ditambah lagi dengan ancaman varian baru omicron sehingga Indonesia harus mengambil langkah-langkah efektif untuk pencegahan.

"Jangan sampai terulang kembali lonjakan seperti saat varian delta menyebar," katanya.

Sebagai catatan, survei New Indonesia Research & Consulting dilakukan pada tanggal 11—20 November 2021 terhadap 1.200 orang yang mewakili seluruh provinsi tersebut juga menunjukkan masih adanya publik yang merasa tidak puas sebesar 30 persen, sisanya tidak tahu atau tidak menjawab sebanyak 5,5 persen.

Secara umum, metode survei yang dilakukan adalah multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,89 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
 

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024