Baubau (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, berencana mengajukan pengadaan mesin penetas telur itik sebanyak 10 unit melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) tahun 2021 guna mempercepat pengembangan itik.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Baubau Muhamad Rais M di Baubau, Sabtu, mengatakan saat ini peternakan itik ala bio atau itik petelur itu sementara dikembangkan di Pulau Makasar (Puma), Kelurahan Sukanaeyo, Kecamatan Kokalukuna.

"Jadi kemarin kan kita sudah adakan itiknya kurang lebih 1.500 ekor, makanya sekarang di perubahan anggaran ini kita fokuskan untuk mengadakan lagi mesin penetasnya supaya lebih cepat populasinya. Anggarannya kurang lebih Rp40 juta," katanya.

Menurutnya, dengan anggaran yang tidak begitu banyak namun memberikan manfaat bagi peternak karena akan lebih memperbanyak dan mempercepat penetasan telur melalui proses mesin penetas itu.

"Karena kalau telur itik pakai mesin penetas paling 28 hari sudah menetas. Nah kalau misalnya tiap dua bulan dikasih menetas, berarti kan bisa akan cepat banyak," katanya.

Dengan mesin penetas otomatis itu, kata Rais, kelompok peternak tidak akan kesusahan lagi untuk mengembangkan itik mereka karena telur yang akan ditetaskan tinggal disetor ke alat tersebut untuk dietaskan.

"Rencananya alat itu diadakan sebanyak 10 unit. Satu unitnya bisa menetaskan 100 butir telur, kalau semua mesin itu digunakan maka bisa mencapai 1.000 telur sekali menetas," ujarnya.

Hanya saja, kata dia, yang menjadi persoalan bila populasi itik semakin lebih cepat berkembang, kebutuhan pakannya juga harus dipersiapkan.

"Makanya sekarang kita di Ngkaring-karing ada rencana penanaman kedelai. Jadi kalau selama ini petani di sana hanya dua kali tanam yakni padi, sekarang kita upayakan bisa tiga kali tanam, jadi setelah padi dan padi dilanjutkan dengan kedelai," ujarnya.

"Jadi sekarang sementara persiapan panen padi dua pekan ke depan. Setelah panen itu diganti kedelai karena masih ada jeda waktu untuk menanam kedelai," katanya.

Pewarta : Yusran
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024