Jakarta (ANTARA) - Dalam film terbarunya yang berjudul "Tarian Lengger Maut", Della Dartyan berperan sebagai seorang penari Lengger. Demi mendalami karakter, ia pun belajar langsung dengan penari Lengger asli dan melakukan beberapa ritual.

Della mengatakan tidak memiliki dasar-dasar kemampuan sebagai penari, oleh karenanya ia harus latihan secara intens bersama penari Lengger yang berada di Banyumas, Jawa Tengah.

"Ini bukan sekadar nari biasa, sebab ini karakternya adalah penari yang akan diberikan Indang," ujar Della dalam peluncuran poster dan trailer film "Tarian Lengger Maut" pada Jumat.

Della mengaku sampai menginap di rumah penari Lengger wanita senior untuk mempelajari kehidupan sehari-harinya dan juga perihal budaya tarian tersebut.

Selain itu, Della juga melihat bagaimana tari Lengger dianggap oleh masyarakat Banyumas sebagai sebuah hiburan khususnya pada acara tertentu seperti khitanan.

"Aku diberi kesempatan datang ke acara khitanan, aku nonton secara langsung tarian ini seperti apa. Kalau orang awam menganggapnya negatif, padahal di kehidupan Banyumas ini adalah sebuah hiburan," kata Della.

Della juga tidak lupa melakukan beberapa ritual khusus agar proses syuting dapat berjalan dengan lancar.

"Untuk ritualnya sebenarnya enggak yang full gimana-gimana, tapi aku sempat datang ke penari Lengger lanang senior, aku sempat berziarah juga ke makam penari-penari Lengger senior, kulonuwun lah," kata bintang film "Love for Sale" itu.

"Tarian Lengger Maut" disutradarai oleh Yongki Ongestu. Film ini bercerita tentang misteri yang terjadi di desa Pageralas, satu persatu warganya menghilang secara misterius.

Kemudian di sisi lain kehadiran dokter Jati (Refal Hady), masih belum diketahui apa hubungannya dengan berbagai insiden yang terjadi di desa Pageralas.

Namun, seorang penari Lengger, Sukma (Della Dartyan), sedang menjalani ritual untuk penerimaan Indang, dipercaya bahwa penari yang memiliki Indang dapat mempesona penontonnya dan dapat melindungi pemiliknya.

Film tersebut tayang di bioskop mulai 13 Mei 2021.


 

Pewarta : Maria Cicilia
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024