Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebutkan bahwa stok cadangan beras Bulog hingga Juni 2020 mencapai 1,8 juta ton melalui optimalisasi serapan gabah atau beras petani pada masa panen raya.

Budi Waseso atau akrab disapa Buwas menyatakan bahwa selama masa panen yang dimulai Maret hingga Juni mendatang, Bulog menargetkan penyerapan gabah petani mencapai 650.000 ton setara beras.

"Prediksi saya yang sudah kontak dengan kelompok tani dan beberapa supplier gabah, kita sudah ada kontrak 650.000 ton dan sekarang bertahap. Tapi ada penyerapan di luar kontrak, jadi prediksi saya paling rendah, sampai Juni kita punya serapan 650.000 ton," kata Buwas usai memantau kegiatan stabilisasi harga di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat.

Saat ini stok cadangan beras pemerintah yang dikelola dan tersebar di seluruh kantor wilayah Bulog, yakni mencapai 1,4 juta ton.

Dengan kegiatan operasi pasar beras medium yang terus berjalan, serta berbagai bantuan sosial untuk masyarakat terdampak COVID-19, Bulog memperkirakan cadangan beras pada bulan Juni setidaknya mencapai 1,8 juta ton.

"Sekarang masih ada 1,4 juta ton beras Bulog, walaupun kita gunakan untuk bansos dalam pandemi ini, kita masih ada stok, ditambah penyerapan lagi," katanya.

Perum Bulog menargetkan pengadaan beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 950.000 ton sepanjang 2020 melalui penyerapan gabah dalam negeri.

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IV DPR, Buwas menyatakan jumlah target pengadaan sebesar 61 persen itu akan dilakukan selama tiga bulan, yakni April, Mei dan Juni.

Hingga pertengahan Mei, realisasi serapan beras petani sudah mencapai 290.000 ton.

"Sampai Juni, beras kita bisa sekitar 1,8 juta ton. Jadi (stok) akan banyak, masyarakat juga jangan khawatir soal beras," kata Buwas.


 

Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024