Kendari (ANTARA) - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Sulawesi Tenggara (Sultra), meminta kepada pemerintah daerah se Sultra melalui dinas terkait untuk mengawal dan melakukan pendampingan terhadap petani jagung agar bisa meningkatkan produksinya.

"Petani harus terus diberi penguatan dan pendampingan agar bisa meningkatkan produksi. Karena masalah pemasaran peroduk itu tidak ada masalah, pemerintah siap membeli," kata Kepala Divre Bulog Sultra, Kusmiawan, di Kendari, Selasa.

Bulog merupakan badan usaha milik negara yang diberi wewenang untuk melakukan pembelian terhadap hasil produksi jagung petani yang tentunya memenuhi syarat atau kualitas yang ditentukan.

"Misalnya kami hanya membeli hasil panen jagung dengan kadar air 14 persen, diatas dari itu tidak bisa membelinya karena cepat rusak saat disimpan di gudang Bulog," katanya.

Tetapi faktanya di Sultra, pihak Bulog mengaku kesulitan untuk memenuhi target penyerapan atau pembelian hasil panen jagung daerah itu, karena stok atau hasil produksi yang terbatas.

Salah satu contohnya kata Kusmiawan, pada tahun 2018 lalu pihaknya menargetkan membeli jagung petani sebanyak 4.000 ton pipilan kering. 

"Tetapi stok tidak ada, sehingga kami bingung mau dapat di mana produksi jagung sebanyak itu," katanya.

Produksi yang dihasilkan petani, hanya untuk dijual ke pihak perusahaan atau pembeli di luar bulog karena memang nilai jualnya lebih tinggi dari pembelian bulog.

"Harga pembelian jagung Bulog yakni Rp3.150 per kilogram pipilan kering asalkan memenuhi persyaratan pembelian. Tetapi kalau ada pihak swasta yang membeli ditas harga bilog, maka sebaiknya petani menjual ke pihak swasta," katanya.

Karena, Bulog hadir hanya untuk memastikan pasar setiap hasil panen, agar tidak ada alasan petani tidak menanam jagung karena pasar yang tidak jelas.

"Harapan kita petani untuk terus melakukan penanaman jagung karena pasarnya sangat luas dan kebutuhan jagung relatif tinggi. Jagung yang kita maksud ini kan untuk pakan ternak, dan ternak itu membutuhkan makanan setiap hari, karena orang makan daging ayam setiap hari. Sehingga produk jagung dibutuhkan juga setiap hari," ujarnya.

Ia mengemukakan, ada produksi jagung petani di beberapa daerah yang konsen mengawal dan mendampingi warganya untuk mengembangkan komoditas tanaman jagung, tetapi saat Bulog turun, ternyata sudah tidak ada stok.

"Bagi kami itu tidak masalah karena mungkin petani menjual ke pihak lain yang lebih tinggi harga pembeliannya dari Bulog. Malah kami menyarankan menjual kepada yang lebih mahal demi meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.

Sedangkan, harga pembelian jagung Bulog yakni Rp3.150 per kilogram pipilan kering asalkan memenuhi persyaratan pembelian.

 

Pewarta : Suparman
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024