Kendari (Antaranews Sultra) - Pengguna jasa transportasi angkutan penumpang maupun pemilik kendaraan pribadi yang melintas di ruas jalan trans Sulawesi, di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mengeluhkan kondisi jalan yang rusak berat.

Pantauan Antara, Kamis, melaporkan selain pengguna kendaraan rodak empat maupun roda dua yang mengeluhkan kondisi jalan seperti kubangan juga meresahkan warga sepanjang jalan rusak sekitar 20 kilometer.

Pada musim kemarau warga mandi debu dan pada musim penghujan kesulitan dengan lumpur dan permukaan jalan berlubang sehingga tidak pilihan mau melewati jalan tersebut.

Setiap hari ratusan kendaraan melayani pengangkutan material pembangunan konstruksi perusahaan tambang di wilayah tersebut. Material berupa batu gelondongan dan batu olahan diangkut dari Kecamatan Moramo dan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan melalui ruas jalan Kota Kendari.

Sebagian material batu gelondongan diangkut dari wilayah Kecamatan Sawa Kabupaten Konawe Utara.

Ruas jalan yang mengalami rusak berat di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe termasuk trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan Palu, Sulawesi Tengah.

Setiap hari belasan kendaraan roda empat, baik angkutan penumpang maupun kendaraan pribadi dari dan ke tujuan Morowali - Konawe Utara, Kota Kendari, Konawe Selatan dan Kabupaten Konawe.

Bupati Konawe Utara Ruksamin mengatakan perusahaan penyewa kendaraan angkutan material batu harus bertanggungjawab atas kerusakan jalan ruas trans Sulawesi.

"Harga tabung gas elpiji subsidi 3 kilo gram di Konawe Utara hingga mencapai Rp40.000. Mobilisasi tabung gas dari Kota Kendari ke Konawe Utara menelan tambahan biaya tinggi karena biasa tertanam di jalan rusak Kecamatan Morosi," kata Ruksamin.

Ia mengharapkan otorita pengelolah jalan wilayah IV Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan perusahaan tambang penyewa kendaraan angkutan material untuk bertanggungjawab.

Pemilik kendaraan pribadi Muhtar (47) mengatakan sejak perusahaan tambang memulai pembangunan konstruksi pabrik 2017 jalan sudah rusak hingga hari ini.

"Perusahaan harus bertanggungjawab karena kendaraan mengangkut material batu dan batu olahan tanpa memperhitungkan kekuatan badan jalan. Yang dirugikan adalah masyarakat dan negara," kata Muhtar.

Pj Gubernur Sultra Teguh Setyabudi yang melakukan kunjungan kerja di lokasi perusahaan tambang PT Virtune Dragon Nikel Industri mengimbau pihak perusahaan peduli lingkungan.

"Perusahaan jangan menutup mata dengan kerusakan jalan yang semakin parah. Warga sekitar pasti menjadi korban sehingga harus bertanggungjawab," kata Teguh.



 

Pewarta : Sarjono
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024