Kendari (Antara Sultra) - Petani tambak undang vaname di Kabupaten Konawe Selatan dan Bombana, Sulawesi Tenggara, pada masa panen pada Juni dan Juli 2017 gagal panen akibat kondisi cuaca hujan yang cukup tinggi saat itu.

Salah seorang pengusaha petani tambak di Kecamatan Moramo Konawe Selatan, Rabu, mengatakan dari luas areal 10 hektare itu hanya bisa panen satu ton per hektare atau gagal panen yang biasa diraih antara 6-8 ton per hektare udang vaname.

"Kegagalan panen tahun ini merupakan yang terparah sepanjang lima tahun terakhir," katanya dan menambahkan bahwa pada minggu pertama September, pihaknya sudah melakukan penaburan bibit udang yang diharapkan pada 3-4 bulan ke depan sudah bisa penen kembali.

Ia mengatakan, budi daya udang "vaname" (litopenaues vannamae) menjadi idola para petani tambak di sejumlah daerah khususnya di Kabupaten Konawe Selatan dan Bombana, karena selain bibitnya (benur) mudah diperoleh, juga proses pemeliharannya tidak sesulit dengan udang sito (udang hitam).

"Masa penen udang vaname lebih cepat, hanya membutuhkan waktu 95-110 hari sudah bisa panen. Sedanagkan jenis udang sitto masa panenya bisa empat bahkan lima bulan," ujarnya.

Keunggulan lain dari udang vaname atau udang putih itu sangat jarang terkena penyakit bintik-bintik putih (white spot) yang biasanya banyak menyerang tambak udang masyarakat akhir-akhir ini.

"Memang dari segi harga di pasaran saat ini, udang putih ini hanya berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram, sedangkan udang sito di atas harga Rp100 ribu per kilogram," ujaranya.

Namun dari segi keuntungan antara budi daya udang vaname dan sito, petani tambak masih banyak yang memilih udang sito karena sekali panen saja bisa menguntungkan tiga kali lipat dibanding dengan membudidaya udang vaname.

Pewarta : Azis Senong
Editor : Hernawan Wahyudono
Copyright © ANTARA 2024