Kendari (Antara News) Kantor Wilayah Kementerian (Kemenag) Republik Indonesia menggelar workshop implementasi kurikulum 2014 pada Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Dasar (SD) di Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Workshop implementasi kurikulum 2013 bagi guru pendidikan Agama Islam SD tersebut, dibuka langsung oleh Kasubit PAI SD Dirjen Pendis Kemenag RI, Syahrial, di Kendari, Rabu (15/10) malam, di Kendari.
Kegiatan yang berlangsung 15-17 Oktober tersebut, dihadiri oleh Kabag PAKIS Kemenag Sultra, Anab T Malinda, dan diikuti sebanyak 120 orang dari kabupaten kota se-Sultra.
"Salah satu dasar lahirnya kurikulum 2013 karena mutu pendidikan di negara ini masih rendah. Tuntutan untuk memajukan pendidikan di Indonesia adalah keharusan sehingga mendorong lahirnya kurikulum 2013," kata Syahrial.
Kurikulum 2013 katanya, memiliki banyak perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, terutama dari segi paradigma berpikir, cara mengajar, maupun jam pelajaran.
"Olehnya itu, guru sebagai ujung tombak dari pelaksanaan kurikulum 2013 harus memiliki kompetensi dan kualitas akademik yang memadai sehingga diharapkan paradigma berpikir dan cara mengajar serta kompetensi dari para guru bisa lebih baik," katanya.
Menurut dia, hasil yang diharapkan dari pemberlakuan kurikulum 2013 ini adalah anak didik bukan hanya unggul dalam bidang kognitif, tetapi mereka juga unggul dalam sikap dan budi pekerti.
"Membentuk karakter anak didik tidak hanya dari segi intelektual tetapi harus seimbang dengan kecerdasan spritual," katanya.
Menurutnya, masih ada sekitar 1000 lebih guru PAI SD di SUltra yang belum mengikuti orientasi atau workshop implemntasi kurikulum 2013 tersebut dan berjanji pada 2015 semua akan tuntas.
Workshop implementasi kurikulum 2013 bagi guru pendidikan Agama Islam SD tersebut, dibuka langsung oleh Kasubit PAI SD Dirjen Pendis Kemenag RI, Syahrial, di Kendari, Rabu (15/10) malam, di Kendari.
Kegiatan yang berlangsung 15-17 Oktober tersebut, dihadiri oleh Kabag PAKIS Kemenag Sultra, Anab T Malinda, dan diikuti sebanyak 120 orang dari kabupaten kota se-Sultra.
"Salah satu dasar lahirnya kurikulum 2013 karena mutu pendidikan di negara ini masih rendah. Tuntutan untuk memajukan pendidikan di Indonesia adalah keharusan sehingga mendorong lahirnya kurikulum 2013," kata Syahrial.
Kurikulum 2013 katanya, memiliki banyak perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, terutama dari segi paradigma berpikir, cara mengajar, maupun jam pelajaran.
"Olehnya itu, guru sebagai ujung tombak dari pelaksanaan kurikulum 2013 harus memiliki kompetensi dan kualitas akademik yang memadai sehingga diharapkan paradigma berpikir dan cara mengajar serta kompetensi dari para guru bisa lebih baik," katanya.
Menurut dia, hasil yang diharapkan dari pemberlakuan kurikulum 2013 ini adalah anak didik bukan hanya unggul dalam bidang kognitif, tetapi mereka juga unggul dalam sikap dan budi pekerti.
"Membentuk karakter anak didik tidak hanya dari segi intelektual tetapi harus seimbang dengan kecerdasan spritual," katanya.
Menurutnya, masih ada sekitar 1000 lebih guru PAI SD di SUltra yang belum mengikuti orientasi atau workshop implemntasi kurikulum 2013 tersebut dan berjanji pada 2015 semua akan tuntas.