Kendari (ANTARA News) - Warga Pulau Kadatua, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, kesulitan peroleh hewan kurban jenis kambing yang akan disembelih pada hari raya Idul Adha 1432 Hijriyah.

"Kami di Pulau Kadatua saat ini sangat sudah untuk memperoleh kambing kurban. Kalau pun dapat, harganya selangit, antara Rp2 juta hingga Rp2,5 juga per ekor," kata Warga Pulau Kadatua, La Pali di Kendari, Selasa.

Menurut La Pali, untuk mendapatkan kambing kurban, warga Pulau Kadatua harus menyeberang Pulau Siompu atau di wilayah Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton yang terletak di daratan Pulau Muna.

"Pulau Siompu atau Mawasangka, harga satu ekor kambing kurban berkisar antara Rp,1,5 juta hingga p1,7 juta," katanya.

Ia mengatakan warga Pulau Kadatua pada setiap hari raya kurban, hanya menyembeli hewan kurban jenis kambing, karena di pulau tersebut hanya kambing, hewan kurban yang hidup dan diternak warga.

"Sejak dari leluhur kami hingga sekarang, pada setiap hari raya kurban hanya jenias kambing yang kita sembeli," katanya.

Di tahun 1990-an kata La Pali, Pulau Kadatua merupakan pulau penghasil kambing terbesar di Kabupaten Buton.

Populasi kambing tersebut terus menurun dari tahun ke tahun seiring berkurangnya minat masyarakat memelihara ternak kambing karena sebagian besar warga pulau tersebut sudah memilih merantau ke berbagai kota di Indonesia, termasuk ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

"Saat ini warga Pulau Kadatua yang memelihara ternak kambing tinggal hitungan jari. Makanya, pada setiap hari raya kurban, warga sudah kesulitan memperoleh hewan kurban," katanya.

Sementara itu, Camat Kadatua, La Mpute yang dihubungi melalui telepon dari Kadatua, Selasa membenarkan kalau warga Pulau Kadatua saat ini kesulitan memperoleh hewan kurban.

"Untuk mendapatkan hewan kurban, warga Kadatua harus menyeberang ke Pulau Siompu atau di wilayah Mawasangka dan sekitarnya," katanya.

Menurut dia, warga mulai kesulitan memperoleh hewan kurban tersebut sejak sebagian warga pulau itu beralih profesi sebagai pedagang di wilayah Timur Indonesia, seperti Maluku Tenggara dan Papua.

"Di Kadatua hampir tidak ada lagi yang beternak kambing. Rata-rata warga kadatua sudah hidup seagai pedagang dan sebagian lainnya hidup sebagai nelayan tangkap ikan," katanya. *(Ant).

Pewarta : Agus
Editor :
Copyright © ANTARA 2026