Akademisi: waspadai dramatisasi pada PLT energi terbarukan

id pembangkit listrik tenaga air

Pekerja melakukan pengecekan instalasi sumur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) PT Geo Dipa Energi di dataran tinggi Dieng, Batur, Banjarnegara, Jateng, Rabu (4/4/2018). Dieng merupakan salah satu lokasi proyek PLTP Geo Dipa Energi dengan kontur pegunungan, sumber air panas, solfatara, fumarole serta bebatuan yang merupakan lokasi potensial untuk pengembangan sumber energi panas bumi (geothermal) dengan perkiraan sebesar 400 MW. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Jakarta  (ANTARA News) - Semua pihak terkait, termasuk masyarakat awam diminta mewaspadai dramatisasi angka dan argumentasi keliru untuk menghalangi pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Pakar konservasi sumber daya hutan dan ekowisata Institut Pertanian Bogor DR Ricky Avenzora di Jakarta, Senin, mengungkapkan berbagai proyek pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan untuk kemandirian energi nasional dikhawatirkan terhambat karena kampanye tersebut.

Dia menduga aksi itu melibatkan ilmuwan asing untuk menyerang sejumlah proyek infrastruktur yang merupakan Proyek Strategis Nasional Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Mereka mengenyampingkan kolaborasi pemerintah dan swasta mengembangkan energi terbarukan ramah lingkungan untuk memacu pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.

Ricky mengatakan praksis dramatisasi data yang tidak tepat digunakan untuk menakut-nakuti publik. Padahal, kajian ilmuwan asing yang digunakan banyak yang tidak sesuai kenyataan lapangan.

"Berbagai dinamika yang ada menunjukkan bahwa relatif sangat banyak NGO yang bertindak dengan pola-pola yang masuk dalam kriteria kriminal," kata Ricky. Indikator kriminalitas terlihat dari adanya manipulasi data dan interpretasi yang dilebih-lebihkan (hiperbola).

Salah satu informasi yang dihembuskan adalah hasil riset kelompok ilmuwan yang mendiskreditkan Pembangkit Listrik Tenaga Air Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Mereka menyatakan, proyek PLTA Batang Toru akan memicu deforestasi dengan pembangunan dam raksasa untuk menampung air, jalan akses, dan jaringan transmisi listrik.

Dalam rapat di DPRD Sumatera Utara, Medan, Selasa (31/7/2018), pengembang PLTA Batangtoru, PT North Sumatera Hydro Energy, menyatakan, pembangkit yang akan menjawab krisis listrik di Sumatera itu disiapkan dengan teknologi tinggi sehingga tak butuh bendungan raksasa.

Pembangkit berteknologi canggih ini didesain irit lahan dengan hanya memanfaatkan badan sungai seluas 24 Hektare (Ha) dan lahan tambahan di lereng yang sangat curam seluas 66 Ha sebagai kolam harian untuk menampung air.

Air kolam harian tersebut akan dicurahkan melalui terowongan bawah tanah menggerakkan turbin yang menghasilkan tenaga listrik sebesar 510 MW. PLTA Batang Toru sangat efisien dalam penggunaan lahan, terutama jika dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat yang membutuhkan lahan penampung air seluas 8.300 Ha untuk membangkitkan tenaga listrik berkapasitas 158 MW.

Baca juga: Pembangkit listrik energi terbarukan minim dampak negatif
Baca juga: Riau siapkan Rp6 miliar untuk bangun PLTA

Pewarta : Erafzon Saptiyulda SAS
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar