Pesan Habibie kepada generasi muda

id habibie,bj habibie, karya ilmiah

Presiden Ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie saat memberikan pidato kunci pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema "Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0" dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional XXIII 2018 di Pekanbaru, Riau, Kamis (9/8/2018). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Pekanbaru (ANTARA News) - Presiden Ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan kemerdekaan harus diisi dengan karya-karya nyata, sebagaimana semangatnya dulu saat dikirim Presiden Sukarno untuk belajar ke luar negeri.

"Dulu angkatan 45 berprinsip `merdeka atau mati`. Kami tidak ingin mati. Kami ingin merdeka, mengisi kemerdekaan dengan karya-karya nyata," kata Habibie saat memberikan pidato kunci pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema "Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0" di Pekanbaru, Riau, Kamis.

Habibie menambahkan saat itu Presiden Sukarno ingin bangsa Indonesia bisa membuat pesawat dan kapal sendiri sehingga tidak bergantung pada buatan negara lain.

Karena itu, bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya, Habibie mengaku didoktrin agar belajar sebanyak mungkin di luar negeri dan pulang ke tanah air dengan membawa ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Saat itu fokusnya dua bidang ilmu, membuat kapal dan pesawat terbang," ujarnya.

Meskipun teknologi terus berkembang, dan dunia saat ini disebut-sebut memasuki era industri 4.0, Habibie mengatakan tetap ada yang jauh lebih penting daripada teknologi.

"Robot, tetap tidak akan bisa menggantikan manusia yang memiliki otak yang diciptakan Tuhan," tuturnya.

Habibie memberikan pidato kunci pada Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema "Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0" dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional XXIII 2018 .

Acara tersebut dibuka Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir yang sekaligus memberikan arahan.

Baca juga: Pesawat R-80 dapat dikembangkan untuk patroli maritim
Baca juga: Habibie: SDM-pendidikan-teknologi untuk naikkan nilai tambah

Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar