Penghujung September '65 dalam ingatan saksi sejarah

id Kesaktian pancasila,g30s/pki,NKRI

Penghujung September '65 dalam ingatan saksi sejarah

Sejumlah orang mengamati patung keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI) seusai mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di areal Monumen Korban Keganasan PKI di Kresek, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (1-10-2020). Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tersebut untuk mengenang peristiwa pembantaian oleh PKI pada tahun 1948 di lokasi tersebut dengan puluhan korban terbunuh terdiri atas prajurt TNI, polisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan wartawan. ANTARA FOTO/Siswowidodo/nz.

Jakarta (ANTARA) - Hari terakhir setiap September pernah menyisakan trauma yang memilukan bagi banyak masyarakat di Tanah Air.

Pada hari yang sama, 55 tahun yang lalu, sejarah mencatatkan peristiwa berdarah G-30-S/PKI yang menewaskan tujuh pahlawan revolusi.

Sejarah kelam itu juga terekam dengan amat tajam dalam benak Jappy M. Pellokila muda. Pria yang ketika peristiwa itu terjadi masih dalam usia remaja, sejatinya belum terlampau mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, yang dia ingat ketika itu suasana malam di akhir September seketika berubah menjadi kelam, sunyi, dan orang dewasa di sekitarnya tampak tegang.

Rumah Jappy satu kompleks dan berdekatan dengan rumah jabatan Gubernur NTT, Kantor Tentara (Korem Wira Cakti NTT), RRI Kupang, Gedung Wanita, dan Bank Indonesia, yang sebenarnya terbilang wilayah aman.

Namun, ada kekuatiran pada kedua orang tuanya sehingga Jappy beserta adik dan kakaknya tak diperbolehkan masuk sekolah pada hari itu.

"Mereka takut kami jadi korban dari penculikan atau entah apa yang kita tidak tahu tetapi mungkin saja terjadi," kata Jappy yang kini menjadi penggagas Gerakan Damai Indonesia yang berpusat di Jakarta.

Baca juga: Moeldoko: Hari Kesaktian Pancasila sejarah yang harus selalu diingat

Jappy menempelkan telinganya pada radio yang suaranya tak pernah terdengar jernih sekalipun baterainya sudah diganti.

Ia mendengarkan siaran RRI Jakarta, yang direlai oleh RRI Kupang, tentang kekuasaan NKRI yang tak lagi berada di bawah pemerintahan Presiden Sukarno.

Beberapa hari berlalu NTT yang ribuan kilometer jauhnya dari pusat NKRI tetap terasa kian mencekam. Lampu listrik harus dibungkus kertas karbon agar tak terlampau terang pada malam hari.

Belum lagi, dia terpaksa harus berjaga malam mengantisipasi berbagai kemungkinan. Sementara itu, di luar rumah, dia mendengar suara tentara yang tak henti lalu lalang di depan rumah lantaran rumahnya berhadapan persis dengan korem.

Setiap saat dia mendengar para pemuda yang berseru, berbaris, berteriak di jalan raya, ditambah lagi dengan terpaksa harus makan bulgur (biji gandum yang ditumbuk kasar dan dikeringkan).

"Akhirnya kami tahu, dari percakapan orang dewasa, bahwa Partai Komunis Indonesia telah melakukan percobaan kudeta namun gagal," katanya.

Kegagalan itu karena ABRI berhasil mengusai keadaan negara.

Sselanjutnya, kata dia, ada perintah pembasmian semua unsur yang terlibat dengan kudeta yang gagal, yaitu orang-orang komunis atau disebut PKI.

Baca juga: Presiden pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

Orang Hilang

Esoknya, Jappy mendapati beberapa kerabat dan kenalannya raib tanpa pesan dan tak pernah kembali hingga kini.

"Mulai saat itulah saya menjadi makin tahu bahwa Kakak A, Susi B, Om C, dan Tante D, dan seterusnya, telah hilang atau ditangkap karena dianggap PKI. Saya masih mengingat banyak nama dan kenangan terhadap mereka," kata Jappy yang kini banyak menghabiskan waktu menjadi sukarelawan dan aktivis kemanusiaan.

Ada banyak orang yang menjadi takut dan penuh ketakutan karena sewaktu-waktu mereka bisa diseret dari dalam rumah, kemudian dimasukkan ke dalam karung, selanjutnya tak pernah lagi terlihat atau pulang.

Setelah memasuki pendidikan yang lebih tinggi, ketika di SMA, makin jelas pengetahuan tentang peristiwa 1965/1966, dia pun berusaha memadukan pelajaran sejarah dengan pengalaman sekitar 1965/1966, terutama tentang pembasmian PKI.

"Walau terasa tidak pas atau cocok, hal itu tak boleh dibahas sebab siswa harus menerima pelajaran sejarah tentang PKI dari guru. Jika menolak atau membantah, akan dituding sebagai anak PKI, tuduhan yang sangat menghina, menakutkan, dan memalukan," kisahnya.

Serupa tapi tak sama dialami Sumini, warga Parungkamal, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah. Ketika peristiwa itu terjadi, dia hanyalah anak kecil yang menghabiskan waktu dalam kehidupan sederhana di pelosok desa yang miskin informasi.

Baca juga: GM FKPPI Jatim: Kesaktian Pancasila jadi momentum penguatan bangsa

Radio pun merupakan kemewahan yang hanya bisa dijangkau dan terbeli oleh para mandor kebun jati berseragam necis sementara orang tuanya hanyalah buruh tani.

Namun, yang dia kenang ketika itu hari memang mencekam hingga malam tiba. Sampai pada malam-malam berikutnya. Hingga pada suatu siang, warga desanya dikejutkan dengan begitu seringnya penemuan mayat dalam karung yang dibuang di lekuk dan bibir jurang yang tak bertuan.

Saking seringnya penemuan mayat dalam karung, sampai-sampai warga desanya makin terbiasa. Lantaran takut bermasalah, mereka tutup mulut, menggali tanah dan menguburkannya dalam kesunyian. Tanpa kata, tanpa suara, dan tanpa mempertanyakan siapa.

Kesaktian Pancasila

Sejarah adalah milik mereka yang berkuasa agaknya relevan dengan apa yang pernah terjadi di Indonesia.

Sejarah tentang PKI segelap film G-30-S/PKI yang menyisakan stigma amat rendah bagi label komunis di Tanah Air.

PKI menjadi simbol pengkhianatan kepada bangsa dan negara, bahkan dianggap menganut ajaran menolak dan antiagama. Hingga sampai pada titik PKI adalah noda bangsa yang penuh kejahatan, keji, dan penuh kekegalapan.

Tahun-tahun pasca-1965 diwarnai kemudian dengan euforia teriakan semboyan dan yel-yel Kesaktian Pancasila. Semboyan dan yel yang terus-menerus menjadi bagian dari kata-kata wajib pada masa itu, barangkali sama dengan frasa "Merdeka atau Mati" pada tahun 1945/1946.

Semua orang pada masa itu, dari kecil hingga dewasa, dengan irama yang sama, seakan menyatakan bahwa Pancasila penuh kesaktian sehingga dengan 'kekuatan yang ada di dalamnya' berhasil mengalahkan pengkhianatan bangsa yang terbesar, yaitu PKI.

Baca juga: Bertoleransi di bawah panji Kesaktian Pancasila

Atas nama Pancasila yang sakti itulah, kesaktiannya itu merambah masuk ke dalam tangan-tangan bersenjata mesiu serta pedang. Mereka pun menunjukkan kesaktiannya dengan cara pembasmian semua yang dituduh PKI.

Penggambaran Pancasila menjadi sakti dan penuh kesaktian seakan dinodai dengan darah anak-anak bangsa yang menjadi korban keganasan dari mereka yang memakai kedok membela Pancasila.

'Pancasila yang telah menjadi sakti' itu kemudian menjadi semacam 'agama kedua', atau bahkan 'memaksa agar orang Indonesia beragama' sehingga melawan Pancasila maka sama artinya dengan masa depan suram, tak bisa menjadi PNS, politikus, tentara, dan polisi, bahkan kehidupan sehari-harinya pun dimata-matai dan diawasi.

Sekian puluh tahun lamanya bangsa ini segala sesuatunya diukur dengan mahir dan hafal tidaknya dengan sila-sila dalam Pancasila, termasuk di dalamnya, sekian juta rakyat kecil yang memiliki sebidang tanah dan lahan.

Jika negara 'membutuhkannya', mereka harus rela dibayar dengan harga murah. Jika tidak, akan diberi label 'sisa-sisa PKI'. Hal itu berlanjut dengan kemungkinan kian tersingkir dan termaginalkan.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila penting bangkitkan kesadaran membangun bangsa

Banyak orang ketika itu menjadi takut pada 'Kesaktian Pancasila' yang bahkan bisa menjadikan 'seorang anak bangsa' sebagai orang asing di negeri sendiri.

'Kesaktian Pancasila' menjelma menjadi bermuatan ganda, yaitu tragedi orang-orang yang kalah dan menjadi korban sekaligus sejarah pemenang bagi orang-orang yang membasmi mereka yang kalah.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo memimpikan rekonsiliasi peristiwa 30 September 1965 (G-30-S) saat memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Benny mendorong elite politik bersikap dewasa dalam hal menyikapi isu-isu redikalisme, terorisme, dan komunisme yang masih berkembang.

Menurut dia, sudah saatnya seluruh elemen bangsa bersatu.

Kini saatnya membuka lembaran baru bernama sejarah yang lebih baik di bawah panji kesaktian Pancasila yang sebenarnya.

Pewarta : Hanni Sofia
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar