Mesin partai di Kalsel belum mampu antarkan putra daerah ke kabinet

id Kabinet Indonesia Maju, presiden Jokowi, kabinet putra daerah, pengamat politik,Universitas Lambung Mangkurat,ULM,Dr Budi Suryadi,Mardani H Maming

Pengamat politik dari Universitas Lambung Mangkurat Dr Budi Suryadi. (antara/foto/firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin telah dilantik,namun dari 34 menteri yang ada, tidak ada satupun berasal dari Kalimantan Selatan.

Menurut pengamat politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Budi Suryadi, mesin partai di Kalsel belum mampu mengantarkan putra daerah duduk di kabinet.

"Kenyataan mesin partai politik di Kalsel lebih mampu menjembatani untuk putra daerah melenggang ke Senayan dibandingkan ke kabinet," terang Budi di Banjarmasin, Jumat.

Baca juga: Pengamat: Susunan kabinet perlu keterwakilan wilayah

Dia mencontohkan untuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang berhasil mengantarkan tiga kader mudanya di Kalsel menjadi anggota DPR RI pada Pileg tahun ini, yaitu H Syafruddin Maming, Sulaiman Umar dan Muhammad Rifqinizamy Karsayuda.

"Hasil ini menjadi tinta emas bagi kepemimpinan Mardani H Maming selaku Ketua DPD PDIP Kalsel yang mencatatkan sejarah meloloskan tiga wakil rakyat di tingkat pusat. Namun, masyarakat Kalsel tentunya menginginkan tak hanya anggota DPR yang memang sudah ada jatahnya setiap provinsi, tetapi sosok menteri jadi kebanggaan tersendiri jika berhasil diwujudkan," papar dosen Program Studi Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ULM itu.
Tiga kader muda PDI Perjuangan di Kalsel yang berhasil duduk di DPR RI periode 2019-2024. (antara/foto/ist)


Karena Budi berharap, barisan putra daerah Kalsel tak hanya memperkuat sektor legislatif untuk kepentingan partai, tetapi juga bisa tampil di pemerintahan tingkat pusat, salah satunya menjadi seorang menteri.

"Hal ini tentu berbeda dengan periode-periode sebelumnya yang mana mesin partai politik mampu menjembatani putra daerah melenggang ke Senayan dan ke kabinet," katanya menambahkan.

Diakui Budi lagi, susunan kabinet memang orientasinya lebih pada pembangunan ekonomi dan inovasi dan hal ini sesuai dengan tuntutan zaman sekarang revolusi industri 4.0.

Orientasi seperti itu, kata dia, biasanya akan mencari karakteristik individu yang memiliki keunggulan ke arah itu pula. Sehingga sepertinya bangunan untuk perwakilan putra daerah tidak dapat dibentuk seperti susunan kabinet yang lalu-lalu.

Apalagi jumlah provinsi yang mencapai 34 tidak akan terakomodasi jika tidak dilakukan secara bergantian.

Baca juga: Anggota DPR optimistis Kabinet Indonesia Maju perbaiki kondisi ekonomi

Orientasi pembangunan ekonomi dan inovasi dianggap lebih penting untuk kondisi saat ini, sehingga menggeser keterwakilan putra daerah tersebut, yang kebetulan Kalsel mengalami hal yang sama dibandingkan provinsi lainnya dalam keterwakilan putra daerah di kabinet.

"Namun kita masih diuntungkan dibandingkan provinsi lain yang tidak pernah sama sekali memiliki keterwakilan tersebut. Tentu yang terakhir ada putra Kalsel di kabinet yaitu Prof Dr Ir H Gusti Muhammad Hatta sebagai Menteri Riset dan Teknologi di Kabinet Indonesia Bersatu II serta Menteri Negara Lingkungan Hidup sejak 2009 hingga perombakan kabinet 2011," kata Budi yang juga Ketua Pusat Studi ASEAN ULM.

Untuk itulah, selain berlatar belakang politik, Budi berharap ke depannya ada lagi sosok profesional seperti Gusti Muhammad Hatta yang merupakan Guru Besar Fakultas Kehutanan ULM bisa dilirik sang presiden menjadi menteri di kabinet.

"Saya rasa peran partai politik sangat penting turut mendorong para profesional di Bumi Lambung Mangkurat bisa diajukan berkiprah di kancah nasional bergabung di pemerintahan yang berkuasa," pungkasnya.

Pewarta : Firman
Editor: Nurul Hayat
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar