Festival Seni Multatuli optimistis jadi ajang mendunia

id lebak,festival multatuli,max havelaar,turis mancanegara,kabupaten lebak

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi optimistis kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) yang digelar pemerintah daerah akan mendunia. ANTARA/Ist/am.

Lebak (ANTARA) - Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak Wawan Ruswandi optimistis kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) yang baru usai digelar pemerintah daerah akan menjadi kegiatan mendunia.

"Kami mencatat wisatawan yang datang pada acara festival yang telah berakhir pada 15 September lalu hingga mencapai 34.000 orang, termasuk wisatawan dari negara tetangga juga negara Belanda," kata Wawan menanggapi kegiatan FSM 2019 di Lebak, Kamis.

Kunjungan wisatawan itu hampir merata menyaksikan hiburan FSM di antaranya jejak Multatuli, karnaval kerbau, kontes kerbau, teater Multatuli, pemutaran film Multatuli, seni lukis dan hiburan seni wayang golek juga seni Badui.

Baca juga: Kemendikbud: Festival Seni Multatuli, insipirasi peradaban dunia

Baca juga: Opera Saidjah-Adinda: Kisah kasih jelata era kolonial


Mereka pengunjung FSM itu untuk mengenal lebih jauh tentang sejarah Multatuli yang lahir di Kabupaten Lebak sebagai daerah "seribu madrasah".

Multatuli menjadikan tonggak sejarah peradaban manusia di dunia, di mana "Max Havelaar", yakni Eduard Douwes Dekker, seorang warga Belanda yang menjabat Asisten Residen Lebak pada 1850 bertentangan dengan sistem pemerintahan kolonial Belanda.

Dalam dirinya merasa prihatin dan iba melihat nasib buruk masyarakat Kabupaten Lebak yang diperlakukan tidak adil. Mereka para pejabat koruptor bertindak sewenang-wenang terhadap kaum Bumi Putra. Mereka diperas oleh para mandor, demang, dan bupati.

Keluarga para kuli tinggal di desa-desa sekitar perkebunan hidup melarat dan diperlakukan secara tidak manusia oleh para petugas pemerintah setempat.

Dengan demikian, kata dia, FSM untuk mengenang Novel Max Havelaar, karya pena Multatuli, merupakan bagian sejarah dunia.

"Kami yakin Multatuli itu menjadikan sejarah peradaban manusia di dunia dan bukan milik Kabupaten Lebak," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan kegiatan FSM tahun 2020 nanti yang memasuki usia 200 tahun Multatuli akan lebih ramai dengan acara-acara yang akan ditampilkan dan mendatang wisatawan dari berbagai negara di dunia.

Pelaksanaan kegiatan FSM 2019 memasuki dua tahun berjalan sukses. sehingga dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah. "Tahun depan kegiatan FSM diharapkan akan lebih ramai," katanya.

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan FSM menjadikan agenda tahunan untuk mengenang sejarah peradaban manusia, di mana Kabupaten Lebak memiliki sejarah kelam atas penjajah Belanda terhadap kaum pribumi.

"Kita sudah menjadikan agenda tahunan untuk melaksanakan kegiatan FSM,karena warisan sejarah untuk mengenang peradaban manusia pada zaman kolonial pemerintahan Belanda," katanya.

Baca juga: Rumah Multatuli akan direvitalisasi

Pewarta : Mansyur suryana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar